Melihat Keragaman Indonesia Melalui TMII Jakarta

TMII merupakan replika Indonesia serta memiliki anjungan rumah adat dari berbagai daerah © kompas.com

TMII (Taman Mini Indonesia Indah) seringkali disebut sebagai Disneyland versi lokal. Pendiri TMII Ibu Tien Soeharto menginginkan taman mini ini tidak hanya menjadi taman wisata. Beliau mengharapkan TMII menjadi wadah edukasi bagi masyarakat Indonesia dengan cara membuat taman ini berbentuk seperti Indonesia atau miniatur Indonesia. Melihat keragaman etnis, suku dan agama yang ada di Indonesia, beliau percaya bahwa untuk membangkitkan dan membangun nasionalisme yang lebih kuat. Masyarakat Indonesia harus belajar mengenal satu sama lain, baik antar etnis, suku dan agama. Sehingga konflik dan ketegangan antar etnis, suku dan agama dapat dihindari. Taman Mini dicanangkan oleh sebagai salau satu wadah untuk mencapai harapan ini.

Ketika berkunjung ke TMII, kita akan melihat bangunan dengan arsitektur tradisional. Bangunan tersebut berupa macam-macam rumah adat yang ada di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Bangunan rumah adat atau anjungan tersebut dibuat selalu dilatarbetakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki setiap daerah yang ada di Indonesia. Di dalam anjungan tersebut, terdapat berbagai informasi mengenai propinsi tersebut. Terdapat pula manekin dengan busana tradisional, artefak-artefak budaya, cinderamata dan lain-lain.

Salah satu anjungan rumah adat Indonesia yang ada di TMII © kompas.com

Setiap anjungan di Taman Mini juga dilengkapi dengan teater kecil baik itu teater terbuka ataupun tertutup. Selain anjungan daerah, juga terdapat berbagai tempat ibadah, ruang serba guna, taman burung, taman bunga, aquarium, teater IMAX, istana anak-anak dan 20 museum.

Baca juga :  Berkunjung ke Monas untuk Melihat Obor Emas

Pada perkembangannya saat ini, Taman Mini telah mengubah salah satu anjungan, yaitu anjungan Timor Timur menjadi Museum Timor Timur. Serta menambahkan jumlah anjungan daerah, sesuai dengan perubahan jumlah propinsi di Indonesia, menambah tempat ibadah dan beberapa fasilitas lainnya seperti penginapan, kolam renang, area outbound anak-anak dan lain-lain.

Disana juga terdapat danau buatan yang terbentang luas dan terdapat pulau-pulau kecil yang menyerupai peta Indonesia. Danau tersebut diibaratkan dengan samudra yang mengelilingi pulau-pulau yang ada di Indonesia. Untuk melihat keindahan danau tersebut dari atas, kita bisa menggunakan kereta gantung yang melintas tepat diatasnya.

Jika ingin melihat Pulau Indonesia, kita dapat menaiki kereta gantung yang melintas diatasnya © cektiket.id

Taman Mini dibangun pada tahun 1971. Empat tahun berlalu, akhirnya TMII resmi dibuka untuk pertama kalinya pada tahun 1975. Pada saat pertama proses pembangunan dan awal mula Taman Mini diresmikan, menuai berbagai macam kontroversi. Salah satunya adalah kritikan dari segi bangunannya. Gaya arsitektur ruang serba guna yang ada di Taman Mini mengadopsi gaya Jawa Tengah dan diberi nama Pendopo Agung Sasono Utomo. Nama tersebut merupakan nama Jawa Tengah dan bukan nama Indonesia. Begitu juga dengan salah satu museum di Taman Mini, yaitu Museum Indonesia yang mengadopsi gaya arsitektur Bali. Museum ini memuat berbagai objek dari berbagai wilayah dan grup etnis di Indonesia. Namun bentuk bangunannya lebih spesifik ke adat Bali. Sehingga hal tersebut menuai kritikan karena dianggap tidak sesuai.

Baca juga :  Kafe Nuansa Belanda di Tengah Kota Jakarta

TMII meskipun memiliki nama mini, tapi untuk luasnya tidak main-main. Dalam pembangunannya menghabiskan dana sekitar 10,5 milyar. Biaya tersebut tak hanya ditanggung oleh Ibu Tien dan Pemerintah DKI Jakarta. Ibu Tien juga meminta bantuan kepada gubernur-gubernur Indonesia dengan membagikan proposal. Hal ini juga menjadi kontroversi. Karena rencana awal pembanguna TMII bukan inisiatif negara tetapi inisiatif dari yayasan swasta milik Ibu Tien.

Taman anak-anak dengan bentuk bangunan seperti disneyland di TMII © traveloka.com

Upaya yang dilakukan Ibu Tien untuk membangun taman edukasi dengan melibatkan gubernur dll ditentang oleh masyarakat terlebih mahasiswa. Hal itu terjadi karena, pada saat itu masyarakat tengah dilanda kemiskinan serta angka kemiskinan di Indonesia sedang naik-naiknya.

Kita sebagai generasi penerus Indonesia, ada baiknya jika sesekali berkunjung ke TMII yang ada di daerah Kramat Jati Jakarta Timur. Kita dapat mengelilingi Indonesia meski hanya berbentuk miniatur. Jika berkunjung ke TMII kita tidak perlu mengeluarkan budget dengan jumlah besar cukup membayar 20.000 untuk tiket masuk. Selain berlibur kita juga akan mendapatkan wawasan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme kita sebagai generasi muda. Terlebih, saat ini anak muda mulai enggan untuk berkunjung ke wisata yang berbau edukasi. Mereka mulai gengsi dan dianggap kurang gaul jika berkunjung ke taman edukasi seperti TMII. (Iff)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.