Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Menara Pinishi Bentuk Akulturasi Budaya Tradisional dan Modern

Source : arsitur.com

Popo Danes, seorang Arsitek ternama dari Bali pernah berkata “Arsitektur yang baik adalah hasil dari meramu apa yang ada di sekitar kita dan mengembangkannya berdasarkan kekayaan Indonesia”. Ungkapan ini mengingatkan para Arsitek Indonesia agar tetap menghadirkan aspek arsitektur tradisional dalam rancangan modern. Fenomena akulturasi lokal dan modern mendapat banyak sorotan salah satunya dalam hal sayembara arsitektur. Yu Sing memenangkan perlombaan sayembara yang diadakan untuk gedung baru Universitas Negeri Makassar. Yu Sing memberi nama rancangannya dengan “Menara Phinisi”. Menara Phinisi tersebut diambil dari konsep Perahu Pinisi yang merupakan lambang kejayaan Makassar.

Gedung Pusat Pelayanan Akademik (GPPA) didesain sebagai ikon baru bagi UNM, Kota Makassar, sekaligus Sulawesi Selatan. Eksplorasi desain gedung ini mengutamakan pada pendalaman kearifan lokal sebagai sumber inspirasi yaitu makna logo UNM, rumah tradisional Makassar, falsafah hidup masyarakat Sulawesi Selatan (Sulapa Eppa/empat persegi), dan maha karya perahu pinisi sebagai simbol kejayaan.

Dalam penelitian yang berjudul Desain Bangunan Hemat Energi Kajian Tentang Pencahayaan pada Ruang Kerja Kantor (Analisis Gedung Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar), GPPA UNM menjadi gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem fasad Hiperbolic Paraboloid yang merupakan ekspresi futuristic dari aplikasi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangunan ini sebagai perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi teknologi yang ditransformasikan ke dalam arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan meningkatkan nilai arsitektur GPPA UNM menjadi lebih dari sekadar estetik tetapi juga memiliki nilai – nilai yang terkandung di dalamnya. Desain Gedung Menara Phinisi UNM mempunyai dua fasad yaitu berbentuk diagonal (hyperbolic) dan horizontal.

Baca juga :  Desa Wae Rebo Penuh Awan Miliki Rumah Adat Menawan
Source : profesi-unm.blogspot.com (Bagian salah satu fasad Menara Phinisi)

Menara Phinisi ini mengambil konsep Perahu Phinisi, yakni perahu khas Bugis, Makassar yang terkenal. Perahu Phinisi digunakan oleh orang Bugis untuk menjelajahi samudera Nusantara. Arsitektur menara ini memiliki filosofi yang diambil dari rumah tradisional Makassar yang terdiri dari tiga bagian yaitu kolong (awa bola), badan (lotang), dan kepala (rakkeang) serta dipengaruhi struktur kosmos (alam bawah, alam tengah, dan alam atas). Begitupun dengan Menara Phinisi yang juga terdiri dari tiga bagian.

Pertama bagian bawah berupa kolong. Bagian ini posisinya terletak sekitar dua meter di atas jalan agar bangunan terlihat lebih megah dari lingkungan sekitar. Lantai kolong ini di desain menyatu dengan lanskap yang didesain miring sampai ke pedestrian keliling lahan. Kedua, bagian badan berupa podium terdiri dari tiga lantai yang juga mengartikan pada tiga bagian rumah Makassar tadi. Bagian podium ini juga bermakna ganda sebagai simbol dari tanah dan air. Ketiga, bagian kepala berupa menaranya. Terdiri dari 12 lantai yang merupakan metafora dari layar Perahu Pinisi dan juga bermakna ganda sebagai simbol dari angina dan api. Bangunan terbagi menjadi empat bagian yang terinspirasi dari deretan Perahu Pinisi di pinggir pantai. Hal ini menciptakan lorong angin dan jalur masuk bagi cahaya matahari ke dalam seluruh ruang podium.

Baca juga :  Makna Menarik Rumah Gadang Milik Kota Padang
Source : skyscrapercity.com (Lantai kolong didesain menyatu dengan lanskap yang miring)

Panggung, lorong angina, kolam, danau buatan, taman atap, hutan universitas, dan ventilasi silang bangunan merupakan serangkaian sistem yang bekerja untuk mendinginkan suhu di sekitar bangunan serta memberikan kesejukan dan ketenangan. Danau buatan juga berfungsi sebagai sistem penyaringan air kotor dan air hujan untuk digunakan kembali. Bangunan yang terbelah – belah memungkinkan cahaya alami dapat menerangi semua ruang dalam. Sirip – sirip secondary skin dan kaca reflektor mengurangi radiasi panas matahari langsung. Kanopi – photovoltaic dan kincir angin vertikal sebagai sumber energi listrik berkelanjutan. Saat ini sudah ada teknologi photovoltaic yang dapat langsung digunakan sebagai energi pendingin ruangan tanpa melalui konversi menjadi energy listrik. Dengan begitu tidak akan ada energi yang terbuang di dalam proses konversi energi.

Source : fatamorghana.wordpress.com (Danau yang berada di Menara Pinishi)

Lanskap GPPA UNM didesain seoptimal mungkin untuk mendukung proses belajar dan sosialisasi antar penghuni kampus yang nyaman. Selain Yu Sing, Benyamin. K. Narkan, Eguh Murthi Pramono, dan Iwan Gunawan juga turut merancang gedung dengan 17 lantai tersebut.

Setidaknya kebudayaan asli Indonesia tidak akan tergores oleh zaman. Meskipun teknologi pengetahuan semakin maju dan berkembang, kebudayaan Indonesia tidak terlupakan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara akulturasi budaya seperti yang dilakukan Yu Sing dan kawan – kawannya.

Satu pemikiran pada “Menara Pinishi Bentuk Akulturasi Budaya Tradisional dan Modern

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *