Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Sejarah Bangunan Istana Tempat Tinggal Pemimpin Negara

Source : Indonesia.go.id (Istana Kepresidenan Bogor)

Bogor memiliki banyak sekali bangunan sejarah peninggalan Belanda. Salah satunya adalah Istana Kepresidenan Indonesia. Terletak di Jalan Ir. Juanda, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Saat ini,  Istana Bogor digunakan sebagai kediaman Presiden ke-7 Indonesia, yakni Presiden Joko Widodo. Tak hanya itu, lokasi Istana Bogor itu sendiri diduga bekas dari bagian Ibu Kota Kerajaan Pakuan Pajajaran yang sudah rontok dua abad sebelumnya. Hal itu terjadi akibat ditinggalkan penduduknya pasca serangan Kesultanan Banten.

Menurut jurnal karya Agus Dharma Tohjiwa, Sugiono Soetomo, Joesron Alie Sjahbana, dan Edi Purwanto yang berjudul Kota Bogor dalam Tarik Menarik Kekuatan Lokal dan Regional, Bogor merupakan salah satu kota pedalaman terpenting di era kolonial mengingat Bogor (dahulu bernama Buitenzorg) pernah berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Banyak artefak fisik kota yang dibangun pada masa kolonial ini, salah satunya adalah Istana Bogor. Karakter arsitektur Kota Bogor juga turut ditentukan oleh pemberlakuan zona permukiman etnis (Wijkenstelsel).

Berbicara tentang Istana Kepresidenan Bogor saat ini tak hanya digunakan sebagai tempat tinggal presiden. Namun, digunakan sebagai tempat untuk menyambut tamu dari luar negeri. Menariknya lagi, saat sabtu-minggu dan hari libur nasional lainnya siapapun diperbolehkan berjalan-jalan di seputaran Istana Bogor sambil memberi makan rusa yang didatangkan langsung dari luar negeri.

Source : kemensetnegri.twitter.com (Seusai melakukan pertemuan formal di Istana Kepresidenan Bogor, Presiden Joko Widodo mengajak Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk berjalan mengelilingi istana)

Dulunya istana ini adalah vila yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff pada tahun1744. Ketika menjelajahi hulu Sungai Ciliwung, ia terkesima oleh keindahan dan kesejukan alam Bogor. Di situ ada hamparan tanah yang diapit sungai Ciliwung dan Cisadane. Ia pun memutuskan untuk membangun kawasan pertanian dengan sebuah vila peristirahatan untuk Gubernur Jenderal VOC. Gubernur Jenderal Belanda yang satu ini tercatat sebagai orang yang amat rajin membangun gedung walaupun hingga masa dinasnya berakhir, bangunannya masih jauh dari selesai. Akhirnya, ia diganti oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1750-1761).

Baca juga :  Wujudkan Smart City dari Enam Indikator

Istana Kepresidenan Bogor sempat mengalami rusak berat pada masa pemberontakan perang Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang terjadi pada 1750-1754. Namun, pemberontakan itu berakhir dan mereka terpaksa harus tersingkir. Bahkan perang tersebut mengakibatkan Kesultanan Banten menjadi rampasan Kompeni. Bangunan van Imhoff yang sudah rusak berat itu diperbaiki kembali oleh penggantinya dengan tetap mempertahankan konsep arsitekturnya.

Masih pada masa Hindia-Belanda, istana sempat mengalami kerusakan lagi tetapi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811). Lalu istana tersebut direnovasi, diperluas(koma) dan bangunan induk dijadikan dua tingkat. Beberapa waktu kemudian perubahan kekuasan  terjadi. Kekuasaan Daendels diganti oleh Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826). Di tengah-tengah gedung induk didirikan menara dan lahan di sekelilingnya. Lahan tersebut dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada 18 Mei 1817. Konon, Kebun Raya tersebut didirikan oleh seorang guru besar bernama C.G.C. Reinwardt, yang pada saat itu menjabat Direktur Urusan Pertanian, Kerajinan, dan Ilmu-Ilmu di Hindia Belanda.

Baca juga :  Belajar Arsitektur Vernakular dari Rumah Adat Sasak di Desa Sade

Kerusakan istana tak hanya berhenti pada masa itu. Pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi mengguncang istana dan mengalami kerusakan yang cukup berat. Pada tahun 1851-1856 istana yang terkena gempa akhirnya dirobohkan secara total dan dibangun kembali menjadi bangunan dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX. Selain itu, terdapat penambahan bangunan yaitu dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap. Pembangunan kembali istana tersebut selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager.

Source : sejarahbogor.com (Source : sejarahbogor.com)

Sembilan tahun kemudian, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer, yang secara terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. Bertahun-tahun dihuni para tentara Jepang. Hingga pada akhirnya setelah perang dunia II, Jepang menyerah tanpa sekutu. Lalu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Pada masa penjajahan Belanda, Istana Kepresidenan Bogor memiliki fungsi utama sebagai tempat peristirahatan. Namun, setelah masa kemerdekaan, fungsi istana berubah menjadi kantor urusan kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia hingga saat ini.

2 pemikiran pada “Sejarah Bangunan Istana Tempat Tinggal Pemimpin Negara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *