Semua ArtikelUlasan Mendalam

Mengulas Aksesibilitas untuk Disabilitas di Indonesia yang Terbatas (Final Part)

Source :news.detik.com

Salah satu yang bisa kita tunjang dalam kesetaraan hak difabel adalah dalam pemenuhan fasilitas dan aksesibilitas. Tidak banyak terlihat tapi harus diterapkan. Aksesibilitas dan fasilitas menjadi salah satu bagian penting yang seharusnya dapat semua orang dapatkan tak terkecuali rekan difabel. Meski dengan rancangan dan perlakuan khusus hal tersebut tidak semata – mata membedakan kenyamanan dan keamanan rekan difabel. Mereka juga berhak diberikan fasilitas dan aksesibilitas yang aman dan nyaman. Dijelaskan dalam jurnal yang ditulis oleh Fika Masruroh, Lily Mauliani, dan Anis ada beberapa persyaratan dalam membangun dan merancang fasilitas dan aksesibilitas bagi rekan difabel.

Source : arsminimalis
  1. Jalur Pedestrian

    Jalur yang digunakan untuk rekan difabel yang berjalan kaki atau berkursi roda. Jalur ini dibuat dengan persyaratan yaitu permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak licin. Hindari sambungan atau gundukan. Kemiringan maksimum 2 derajat dan pada setiap jarak 9 cm diharuskan terdapat area datar minimal 120 cm. Lebar minimum jalur pedestrian searah adalah 120 cm sedangkan 160 cm untuk dua arah. Tepi pengaman dibuat setinggi maksimal 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

    Source : beritasatu.com (Jalur pedestrian merupakan trotoar yang ditujukan bagi rekan difabel)
  2. Jalur Pemandu

    Jalur yang memandu rekan difabel untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin sebagai pengarah dan peringatan. Tekstur ubin pengarah memiliki motif garis – garis menunjukkan arah perjalanan. Tekstur bulat – bulat pada ubin merupakan peringatan terhadap adanya perubahan situasi di sekitarnya seperti ada lubang, pohon, atau sebagainya.

    Source : teras.id (Dalam jalur pemandu terdapat tekstur yang bisa digunakan untuk petunjuk jalan bagi tunanetra)
  3. Ramp

    Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu dan digunakan sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Persyaratan pembuatan ramp yaitu kemiringannya tidak boleh melebihi 7 derajat. Lebar minimum ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman sedangkan 120 cm dengan tepi pengaman. Permukaan datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus datar sehingga memungkinkan untuk memutar kursi roda serta memiliki tekstur sehingga tidak licin. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) dengan ketinggian 65-80 cm.

    Source : regional.kompas.com (Penggunaan ramp dapat mempermudah bagi rekan difabel yang menggunakan kursi roda)
  4. Tangga

    Fasilitas tangga ini harus dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan. Tangga harus memiliki kemiringan kurang dari 60 derajat dan dilengkapi pegangan rambat dengan ketinggian 65 – 80 cm dari lantai.

    Source : solider.id (Tangga yang digunakan memiliki ketinggian dan kemiringan lebih rendah daripada umumnya)
  5. Pintu

    Pintu adalah salah satu bagian yang memiliki peran penting untuk keluar masuknya rekan difabel. Namun pintu ini harus memiliki lebar minimal 9- cm. hindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai di sekitar pintu. Terdapat plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu untuk mempermudah pengguna kursi roda dan tongkat tunanetra.

    Source : kompasiana.com (Gambar tersebut merupakan contoh pintu untuk difabel di Jepang)
  6. Toilet

    Fasilitas toilet juga butuh perhatian khusus dalam merancang bagi rekan difabel. Toilet yang aksesibel harus dilengkapi dengan simbol dengan sistem cetak timbul pada bagian luarnya. Toilet juga harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk keluar masuk pengguna kursi roda. Ketinggian tempat duduk kloset juga harus disesuaikan dengan pengguna kursi roda yaitu sekitar 45 – 50 cm. Tak lupa juga dilengkapi dengan pegangan rambat dan disarankan memiliki bentuk siku – siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda. Letak kertas tisu, air, keran, shower, atau perlengkapan lainnya mudah dijangkau. Tentu saja lantai tidak boleh licin.

    Source : fjpindonesia.com (Toilet bagi rekan difabel harus sesuai standar agar tetap merasa aman dan nyaman)
  7. Area parkir

    Area parkir ini digunakan oleh rekan difabel sehingga diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi roda. Tempat parkir bagi rekan difabel terletak pada rute terdekat menuju bangunan yang dituju dengan jarak maksimum 60 m. Sama dengan toilet, area parkir juga ditandai dengan simbol parkir bagi rekan difabel. Tak luput juga disediakan ramp jalur pedestrian.

    Source : reinhardysd.com (Area parkir untuk rekan difabel lebih luas dari biasanya)
  8. Telepon umum

    Alat komunikasi ini disarankankan terletak pada lantai yang aksesibel sehingga semua orang dapat menggunakannya. Terdapat ruang gerak yang cukup dengan ketinggian telepon sekitar 80 – 100 cm agar rekan yang menggunakan kursi roda dapat menjangkaunya. Bagi pengguna yang memiliki pendengaran kurang, disediakan alat kontrol volume suara yang terlihat dan mudah terjangkau. Bagi tunanetra sebaiknya disediakan petunjuk telepon umum dalam huruf Braille dan dilengkapi juga dengan isyarat bersuara (talking sign) yang terpasang di dekat telepon umum.

    Source : travel.detik.com (Telepon umum yang ada di Jepang sudah ramah untuk rekan difabel)

Itulah fasilitas dan aksesibilitas bagi disabilitas yang seharusnya diaplikasikan di gedung atau bangunan umum. Namun tak hanya dalam fasilitas umum, di rumah pun juga harus menerapkan rumah ramah difabel yang tentunya aman dan nyaman.

Desain rumah difabel menjadi salah satu cara agar mereka bisa memiliki hunian yang tetap nyaman.  Aksesibilitas ini tentunya akan meningkatkan kualitas hidup rekan difabel secara signifikan dan membuat mereka merasakan kemudahan tinggal di rumah. Dalam merancang rumah difabel tentu terdapat perbedaan dari rumah biasanya.

Terdapat hal-hal yang harus diperhatikan secara detail mengenai keleluasaan serta penggunaan yang cocok untuk rekan difabel. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan saat merancang sebuah rumah difabel.

  1. Rumah tanpa hambatan

    Di Jerman rumah difabel disebut juga dengan rumah tanpa hambatan. Segala fasilitas rumah dirancang dengan bebas hambatan agar mereka bisa tetap beraktivitas dengan mudah. Contohnya kamar mandi bebas hambatan. Kamar mandi tanpa hambatan harus memiliki ukuran minimal 120 x 120 cm agar mereka bisa bergerak dengan nyaman. Tidak menggunakan lantai yang licin serta menyediakan duduk di dekat shower jika menggunakan shower. Tak hanya tempat duduk, pegangan di area shower, toilet dan bathtub itu juga perlu. Ketinggian toilet dan shower sebaiknya tidak terlalu tinggi.

    Source : interiordesign.com (Kamar mandi untuk rekan difabel)

    Tak hanya berhenti di kamar mandi. Jendela dan pintu juga harus di desain dengan bebas hambatan untuk mempermudah rekan difabel keluar masuk rumah. Pintu untuk rumah difabel setidaknya memiliki lebar minimal 90 cm dengan ketinggian yang cukup. Pegangan dan gagang pintu harus diletakkan pada ketinggian 85 cm agar mereka bisa menjangkau dengan mudah. Begitu juga pada pengunci jendela, harus diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau dan diberi pegangan pada jendela. Sebaiknya tidak menggunakan ambang pintu untuk meminimalisir kecelakaan serta penggunaan pintu atau jendela elektrik akan lebih bagus karena tentunya akan mempermudah mereka saat mereka membuka atau menutup pintu.

    Rumah difabel sebaiknya hanya satu lantai karena keberadaan tangga di rumah akan mempersulit mereka dalam beraktivitas. Namun jika terpaksa sebaiknya menggunakan stairlift yang terdiri dari rel, alat kemudi, dan tempat duduk. Stairlift dioperasikan dengan remote control. Jika menggunakan alat tersebut perlu untuk mengatur lebar tangga, agar pergerakan stairlift tidak berisiko dan anak tangga bisa digunakan dengan cara konvensional.

    Source : Wikipedia.com (Stairlift)

    Merancang dan membangun rumah ramah difabel memang lebih mahal daripada rumah biasanya. Memerlukan biaya yang cukup banyak tetapi tidak ada salahnya jika untuk kepentingan rekan difabel agar tetap bisa beraktivitas secara normal dan mandiri.

  2. Pencahayaan rumah difabel
    Source : idea-grid.id (Jendela ukuran besar agar cahaya alami yang masuk lebih banyak)

    Cahaya alami juga membantu mereka dalam penglihatan. Penerangan yang baik pada saat siang hari adalah cahaya matahari masuk melalui jendela yang besar dan banyak. Selain untuk penerangan, cahaya dan udara alami yang masuk ke dalam rumah sangat baik untuk kesehatan mereka serta memberikan kenyamanan pada huniannya. Untuk pencahayaan malam hari, sebaiknya gunakan lampu putih karena tidak terlalu menghasilkan bayangan dan menghasilkan cahaya yang cukup terang.

    Dilihat dari banyaknya rekan difabel memang perlu mendapatkan perlakuan khusus juga agar mendapat kesetaraan dalam mengakses fasilitas dan aksesbilitas. Tidak perlu membedakan karena semua layak mendapatkan haknya terutama dalam aksebilitas bagi disabilitas.

Baca juga :  Masjid Tiban, Konon Mistis dan Fantastis

2 pemikiran pada “Mengulas Aksesibilitas untuk Disabilitas di Indonesia yang Terbatas (Final Part)

  1. Dulu saya sering lihat trotoar yang jalannya sering dibuat banyak tonjolan gitu, tapi saya baru tau kalau itu ternyata dibuat untuk membantu rekan difabel. keren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *