Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Rumah Panggung Tahan Gempa di Nias Selatan

Source : bobo.grid.id

Rumah – rumah di Indonesia dibangun berdasarkan letak geografisnya. Indonesia berada di antara Benua Australia dan Asia, serta di antara Samudra Hindia dan Pasifik. Dampak dari letak geografis ini Indonesia memiliki tiga iklim yaitu panas (tropis), muson, dan laut. Adanya iklim panas atau tropis disebabkan karena Indonesia dilewati oleh garis khatulistiwa. Dampak lainnya adalah Indonesia memiliki dua musim yaitu hujan dan kemarau. Akibat letak inilah yang mengakibatkan Indonesia juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah Indonesia memiliki laut yang luas dan garis pantai yang panjang sehingga Indonesia memiliki kekayaan laut. Oleh sebab itu, Indonesia kaya akan budaya. Sedangkan salah satu kekurangannya adalah seringnya terjadi bencana alam berupa gempa bumi, longsor, tsunami, atau banjir.

Keragaman budaya tersebut terlihat di Nias Selatan yaitu Desa Bawomataluo yang menjadi salah satu warisan dunia oleh UNESCO sejak tahun 2009 berkat pelestarian rumah – rumah tradisional Nias Omo Sebua, Omo Hada, dan Omo Bale. Di sini terdapat 250 unit rumah adat yang masih dilestarikan dan saat ini sebagian besar sudah direnovasi pada bagian penutup atap yang semula memakai bahan rumbia, tetapi sekarang beralih ke atap seng. Renovasi atap didasari oleh biaya perawatan yang mahal dan kurangnya bahan rumbia saat ini. Selain itu renovasi juga dilakukan untuk penambahan ruang, tetapi tidak mengubah desain secara keseluruhan.

Pada zaman dahulu, di Bawomataluo masih sangat berkaitan dengan hierarki kasta. Ada golongan bangsawan dan rakyat biasa yang bisa dilihat dari rumah – rumah yang mereka miliki. Rumah milik kepala adat disebut dengan Omo Sebua dalam bahasa Nias yang berarti rumah besar. Omo Sebua memiliki skala dua kali lipat dari Omo Hada tetapi memiliki desain yang hampir sama. Namun Omo Sebua memiliki lebih banyak ornamen termasuk tulang rahang babi yang pernah menjadi jamuan pada ritual atau pesta. Jumlah tulang babi yang dipajang juga menunjukkan strata pemilik rumah tersebut.

Baca juga :  Malang Tempo Doeloe, Masih kah Terkenang?
Source : Semedan.com (Oma Sebua yang merupakan rumah adat untuk para bangsawan)

Omo Hada di desa – desa tradisional untuk Nias Selatan berbentuk rumah panggung dengan atap menjulang tinggi berbentuk kerucut. Tiang, lantai, dan dinding bangunan terbuat dari kayu, sedangkan atap dari daun rumbia, tetapi sekarang pada umumnya telah diganti dengan seng. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang. Terdapat balok kayu satu dan balok yang lain dikaitkan dengan sistem pasak, tanpa menggunakan paku. Tiang-tiang kolong terbuat dari batang kayu berukuran besar, dipasang dalam jarak yang rapat dengan kombinasi dua posisi, yaitu vertikal dan diagonal. Hal ini dimaksudkan agar rumah-rumah tahan terhadap gempa bumi yang memang sering melanda Pulau Nias.

Tinggi tiang kolong pada Omo Hada berkisar 2 meter, sedangkan tinggi tiang kolong pada Omo Sebua berkisar 3 meter. Dinding pada bagian depan rumah menjorok keluar dengan lubang ventilasi udara yang lebar. Ventilasi ini sekaligus berfungsi sebagai jendela untuk mengamati keadaan di depan rumah. Kisi-kisi jendela dipasang dengan reng kayu horizontal. Sedangkan atapnya mengerucut tinggi dengan kemiringan atap yang curam. Ujung bawah atap melewati batas dinding untuk memberi perlindungan dinding dari cucuran air hujan. Jendela dan ventilasi di samping rumah tidak ada karena jarak yang rapat antara rumah yang satu dengan yang lain.

Baca juga :  Menelusuri Masjid Peninggalan Sejarah di Kota Serambi Mekkah
Source : arsitag.com (Omo Hada yang banyak dihuni oleh masyarakat Nias Selatan)

Selain Omo Sebua dan Omo Hada, ada pula Omo Bale. Omo Bale yang berarti rumah balai berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dengan pemimpinnya untuk melakukan musyawarah atau menjalankan hukuman. Omo Bale tidak memiliki dinding penutup. Denahnya persegi panjang dengan empat kolom besar ditengah dan batu – batu besar sebagai tempat duduk ketua adat atau bangsawan.

Tinggi atap kurang lebih 16 meter berupa kayu – kayu dengan dimensi kecil dan lebih pendek yang disusun vertikal tegak lurus dengan balok – balok besar horizontal dan ditopang oleh struktur dinding. Atap Omo Sebua dan Omo Hada berbentuk aerodinamis sehingga dapat membelokkan angin dan mempercepat aliran air hujan di atap. Oleh sebab itu, saat struktur atap diterpa angina, beban yang diterima tidak disalurkan secara langsung ke pondasi. Begitu juga sebaliknya, saat terjadi gempa struktur pondasi menahan beban getaran tanpa mengganggu struktur atap.

Source : 99.co (Oma Hada dan Oma Sebua memiliki ventilasi di atap seperti jendela)

Jika Sobat Ars ingin melihat bagaimana kekokohan rumah di Nias Selatan, kamu bisa langsung berkunjung ke Desa Bawomataluo.Tidak hanya ada rumah adat yang tangguh, di sana juga kamu bisa mencoba lompat batu yang sangat terkenal setinggi 2,8 meter. Sempatkan untuk berkunjung ya, Sobat Ars!

5 pemikiran pada “Rumah Panggung Tahan Gempa di Nias Selatan

    1. Rumah zaman dahulu dibangun dengan mempertimbangkan banyak aspek kak, khususnya keadaan ekosistem dari lingkungan. Makanya beda daerah dan lingkungan akan berbeda juga bentuk dan fungsi – fungsi dari bagian rumah adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *