BiografiSemua Artikel

Muhammad Egha, Sosok Arsitek Muda Berharga Milik Indonesia

Source : MerahPutih/Rizky Fitrianto (Muhammad Egha, Co-founder dan CEO Delution)

Banyak karya anak bangsa Indonesia yang harus dibanggakan. Sering kali mereka meraih penghargaan karena karyanya yang membanggakan. Salah satunya karya dari para Arsitek. Akhir-akhir ini banyak Arsitek dari Indonesia melahirkan karya-karya fenomenal sampai pada tingkat dunia, seperti yang dilakukan oleh Delution. The Twins karya Delution, berhasil masuk nominasi Architizer A+Awards 2020 oleh media arsitektur yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Berita bahagia ini didapat pada bulan Juli 2020 lalu. Delution masuk ke lima besar terbaik pada kategori Architecture + Living Small.gm

Mungkin bagi Sobat Ars yang masih awam tentang dunia arsitektur bertanya-tanya, apa sih Delution? Delution merupakan konsultan Arsitek dan desain yang terkenal karena beberapa karyanya yang viral serta meraih penghargaan tingkat dunia, seperti Splow House dan Gedung DPD Golkar Jakarta. Proyek arsitektur dan interior yang sudah mereka kerjakan ada beragam, mulai dari rumah, kantor, kafe, gym, resort, hotel dan lainnya.

Co-founder sekaligus CEO Delution, Muhammad Egha, ialah Arsitek muda ternama di Indonesia. Usianya memang masih muda, tetapi perusahaan yang didirikannya sukses berlipat ganda. Egha merupakan alumni Universitas Bina Nusantara dengan program studi Arsitektur. Baginya, dunia perkuliahan memberikan banyak hal baru yang membangun karakter dan mentalnya. Bahkan Egha sempat menjadi Ketua Himpunan Jurusan Arsitektur.

Source : today.line.me (Egha kerap kali mengisi seminar mengenai arsitektur sebagai pemateri)

Sebelum memilih jurusan Arsitektur, ternyata Egha berkeinginan untuk menjadi dokter. Alasannya klasik, karena profesi itu yang diidam-idamkan orang tua. Egha merasa kalau sebenarnya ia tidak berbakat menjadi dokter lantaran kemampuan dalam pelajaran Kimia dan Biologinya cukup buruk. Sampai akhirnya Egha berubah pikiran hanya dengan modal bisa menggambar, ia mengganti jurusan yang diinginkan menjadi Arsitek. Sempat ditolak tiga kali di Institut Teknologi Bandung, akhirnya Egha memilih Binus sebagai pilihan akhir.

Baca juga :  Arsitektur Wanita Muda dengan Segudang Karya

Sebelum mendirikan Delution, Egha memikirkan “apa yang akan ia lakukan usai lulus?”. Data yang ia dapat mengenai angkatannya saat itu adalah hanya 20 persen yang menjadi Arsitek, sisanya bekerja di bidang lain. Ia beranggapan bahwa menjadi Arsitek itu bukan hanya memiliki modal pintar desain tapi harus dibarengi dengan keuletan juga keahlian. Usai lulus, ia menjadi Arsitek freelance. Karena freelance, belum tentu tiap saat mendapat proyek yang bisa dikerjakan. Hal itu membuat pendapatan Egha tak menentu. Sampai pada saat Egha menerima job yang mengharuskan dirinya bergabung dengan suatu company. Ia kebingungan harus melamar ke perusahaan atau membuka usaha sendiri. Akhirnya Egha melakukan sholat istikharah dan mendapat petunjuk untuk berwirausaha sendiri.

Source : dok Delution (Egha dan teman-teman Delution)

Menyadari bahwa tak akan mampu apabila berdiri sendiri, Egha menggandeng dua temannya semasa kuliah di Binus, Sunjaya Askaria dan Hezby Ryandi ditahun 2013. Pada tahun 2014, mereka juga mempunyai rekan kerja baru yakni Fahmy Desrizal. Mereka hanya bermodalkan 30 juta rupiah dan kantor kecil berukuran 3×4 meter di kos dekat kampusnya.

Egha menceritakan pada youngster.id bahwa ia dan teman-temannya itu sudah lama berorganisasi bersama. “Kami ini sudah lama berorganisasi bareng, dari sejak kuliah itu kita bareng. Dari main bareng, nongkrong bareng, belajar bareng, dan akhirnya kerja bareng. Sampai akhirnya bertiga bikin perusahaan bareng. Mimpi kami ingin agar Arsitektur Ikonik bisa tumbuh sebanyak-banyaknya di Indonesia, supaya menciptakan peradaban negara yang lebih baik. Sehingga Indonesia bisa dipandang lebih baik di dunia internasional,” ujarnya.

Baca juga :  Daliana Suryawinata, Arsitek Wanita Mendunia

Mimpi seorang Muhammad Egha adalah kemampuannya dapat dilihat khalayak ramai. Namun hal itu tidak mudah karena apa yang ia kerjakan menyesuaikan kemauan klien. Karya buatannya juga tidak dengan mudah direalisasikan lantaran butuh banyak biaya dan harus memiliki nyali  serta rasa nilai seni yang tinggi. Selanjutnya Egha memutuskan untuk tak hanya menjadi Arsitek, tapi juga pebisnis dengan sudut pandang perancang, kontraktor, developer, dan pengusaha.

Source : Majalah SKETSA (Egha dikenal sebagai pengusaha dan Arsitek yang sukses)

Usaha tak akan mengkhianati hasil. Perusahaannya bersama rekan-rekan mulai bergengsi. Omsetnya mencapai Rp 20 miliar per-tahun. Tim mereka juga bertambah menjadi 23 orang dengan usia mayoritas di bawah 26 tahun. Meski begitu, Egha tak segan membagikan cara agar pengusaha atau anak-anak muda yang mau memulai bisnisnya untuk sukses. “Rumus kami bukan maju hindari kegagalan, tapi telan kegagalan. Jangan diulangi dan bangkit kembali. Hal tersebut membuat kami selalu optimis. Dibanding melihat laporan kerugian yang sudah terjadi, lebih baik mencari keuntungan baru untuk menutup itu. Jadi fokusnya lihat ke depan bukan ke belakang,” jelas Egha pada Tribunnews.com. CEO Delution ini juga mengungkapkan akan membangun total empat perusahaan independen di bidang konsultan Arsitek/interior, kontraktor, furnitur, dan developer property. Yang sudah terealisasi ada Delution (konsultan Arsitek dan interior), CRI (kontraktor), serta Onel (furnitur).

Karyanya mendunia dan mendapat banyak penghargaan. Sosoknya optimis dan tidak arogan. Usianya yang muda tidak menjadi halangan. Sukses tak mengenal usia melainkan usaha yang dimaksimalkan.

6 pemikiran pada “Muhammad Egha, Sosok Arsitek Muda Berharga Milik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *