ArsitekturSemua Artikel

Atap Mansard untuk Negeri Bersalju

Source : dekoruma.com

Bukan rumah jika tidak ada atap. Yap, atap menjadi bagian yang penting dalam mendirikan rumah. Banyak pula jenis – jenis atap yang biasanya digunakan untuk menutupi rumah. Indonesia sendiri memiliki ragam yang cukup banyak dan unik di setiap daerahnya. Tentunya di setiap daerah memiliki filosofinya sendiri dan dipercaya oleh masyarakat setempat.

Namun atap tidak hanya dijadikan sebagai pelindung untuk rumah. Bentuk atap juga mempengaruhi bentuk rumah sehingga menimbulkan fasad yang cantik. Atap juga memainkan peranan penting dalam menentukan gaya arsitektur sebuah rumah. Seperti bentuk atap datar biasanya digunakan untuk gaya arsitektur minimalis, atap rumah sandar banyak dipakai dalam model rumah kontemporer.

Arsminimalis sudah pernah membahas tentang jenis atap pelana yang bisa Sobat Ars baca di sini. Kali ini Arsminimalis akan membahas tentang jenis atap mansard. Mungkin di antara kamu masih asing dengan jenis atap yang satu ini.

Atap jenis mansard memang lebih banyak digunakan oleh bangunan – bangunan peninggalan zaman kolonial. Atap yang juga disebut dengan atap Prancis (French roof) ini bagian atasnya berbentuk seperti perisai, sedangkan bawahnya lebih curam dan hampir vertikal. Sisi – sisi bawah atap mansard dapat berbentuk melengkung atau datar, tergantung gaya yang diinginkan. Pada dasarnya pun mansard adalah gabungan dari atap gambrel dan perisai.

Source infotekniksipilofficial.blogspot.com (Ilustrasi atap mansard)

Dalam jurnal yang berjudul Identifikasi Pola Aliran Angin dan Gaya Hambat pada Atap Miring menjelaskan bahwa mansard memiliki sudut yang besar atau bisa dibilang landai, akan tetapi luasan bidang landainya lebih kecil dan membentuk lekukan. Dengan nilai drag coefficient (nilai untuk menentukan kadar ketahanan suatu bentuk terhadap aliran angin) lebih rendah dari atap pelana, kampung srotongan, dan lasena yaitu sebesar 0,9. Dengan begitu atap mansard lebih tahan terhadap tekanan aliran angin atau dengan kata lain lebih aerodinamis. Sedangkan pada atap pelana adalah yang paling besar yakni 1,18. Hal ini berarti nilai hambat bangunan dengan bentuk atap pelana bersudut 45 derajat terhadap angina lebih besar sehingga memiliki kemungkinan bangunan terbawa angina lebih tinggi. Jika menyesuaikan dengan teori aerodinamis maka bentuk atap mansard-lah yang lebih mampu bertahan dalam kondisi daerah berangin. Bentuk atap ini umumnya dimiliki oleh rumah jengki dan relatif jarang diaplikasikan di Indonesia. Untuk itu jenis atap mansard ini lebih sering digunakan pada rumah – rumah di Eropa karena keunggulannya dalam menjaga kehangatan di ruangan.

Baca juga :  Balkon Penunjang Fungsi Rumah
Source : ablock.ru (Atap mansard memiliki kemiringan yang sangat curam)

Pembuatan atap mansard membutuhkan keterampilan khusus yang jarang dimiliki oleh pekerja konstruksi di Indonesia. Banyak detail yang dimiliki oleh atap ini sehingga mansard membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena Sobat Ars harus merogoh kantong lebih dalam. Bagian atap mansard dengan kemiringan sangat rendah tidak ideal untuk daerah yang menerima hujan lebat.

Namun dikarenakan tampilannya seperti dua atap yang tampak bersusun maka dapat menciptakan banyak ruang tambahan seperti loteng atau garret (loteng untuk tempat tinggal). Jenis atap mansard ini sangat cocok bagi yang suka fleksibilitas untuk membuat tambahan rumah di masa yang akan datang. Bentuknya yang unik sangat menunjang untuk menambah keindahan rumah. Garis persimpangan untuk membuat atap mansard harus tidak lebih 1,5 meter dari lantai. Biasanya terdapat jendela – jendela kecil yang dibuat empat dimensi sehingga seakan tumbuh dari langit – langit utama. Tak lupa juga terdapat cerobong asap yang menambahkan kesan bahwa atap ini cocok digunakan di Negara bersalju.

Baca juga :  Atur Green Architecture Agar Bumi Tak Hancur
Source : tokopedia.com (Jendela empat dimensi beserta cerobong asap)

Hal yang harus dilakukan saat mendesain atap mansard adalah menghitung sudut kemiringan. Jika kemiringan terlalu kecil, pada musim dingin beban di atap dapat meningkat ke titik kritis karena massa salju akan berkumpul di permukaan dan memberi tekanan. Sebagai akibatnya struktur dapat berubah bentuk secara signifikan atau bahkan runtuh.

Tapi jangan hanya karena bentuknya ini Sobat Ars langsung memikirkan rencana untuk membuat atap jenis mansard. Bahwasanya rumah dengan tipe atap ini tidak cocok jika digunakan di Indonesia. Atap jenis ini dibuat agar salju bisa langsung turun dan tidak mengendap seperti yang dijelaskan di atas. Namun Sobat Ars jangan khawatir, jenis atap pelana atau atap datar juga tidak kalah cantik untuk hunianmu. Membangun rumah juga harus disesuaikan dengan kebutuhan ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *