Semua ArtikelUlasan Mendalam

Mengulas Aksesibilitas untuk Disabilitas di Indonesia yang Terbatas (Part 1)

Source : freepik.com (Beragam macam disabilitas meliputi disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensori)

Bangunan, baik itu rumah maupun tempat umum, harus bersifat universal. Maksud kalimat itu ialah desain suatu bangunan harus dapat dipakai oleh seluruh individu segala usia hingga penyandang disabilitas. Lea Aviliani Aziz, Dewan Majelis Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), menyatakan bahwa masih banyak bangunan umum seperti hotel, mall, dan rumah sakit di Indonesia yang tidak ramah bagi penyandang disabilitas.

Sebelum membahas lebih jauh, Arsminimalis akan mengajak Sobat Ars untuk mengetahui apa itu disabilitas. Kata disabilitas berasal dari bahasa Inggris, disability atau disabilities, yang artinya ketidakmampuan atau kekurangan pada fisik maupun mental dan menyebabkan adanya keterbatasan pada penyandangnya untuk melakukan suatu aktivitas.

Jika Sobat Ars asing dengan pemakaian kata disabilitas, maka ketahuilah bahwa sebelumnya memang digunakan istilah lain. Pada Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial berjudul Penyandang Disabilitas di Indonesia: Perkembangan Istilah dan Definisi karya Dini Widinarsih menjelaskan ada sepuluh istilah resmi yang dipakai untuk menyebut individu pengidap disabilitas. Pertama ada bercacat dengan arti ada kekurangannya, ada cacatnya, atau tidak sempurna. Ada pula istilah orang-orang yang dalam keadaan kekurangan jasmani atau rohaninya dan orang yang terganggu atau kehilangan kemampuan untuk mempertahankan hidupnya.

Istilah tuna mungkin yang paling sering Sobat Ars dengar dalam bahasa Jawa kuno kata tuna berarti rusak atau rugi. Sedangkan dalam arti harfiah yakni luka, rusak, kurang, atau tidak memiliki. Kemudian terdapat istilah lain yaitu penderita cacat, penyandang kelainan, anak berkebutuhan khusus (anak luar biasa), dan penyandang cacat. Namun istilah-istilah tersebut dianggap terlalu kasar hingga muncul kata difabel. Kata ini merupakan singkatan dari differenty abled atau different ability dengan definisi kemampuan yang berbeda. Lalu setelah itu muncul juga istilah disabilitas.

Source : geotimes.co.id/Muchamad Irham Fathoni (Bukan suatu kekurangan yang dimiliki pengidap disabilitas, melainkan hanya ada sedikit perbedaan)

Ahli bahasa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Andhika Duta Bahari menyampaikan pada beritabaik.id bahwan istilah yang tepat untuk dipakai ialah disabilitas. Bahkan dalam tataran internasional juga dipakai kata disabilitas. Namun jika ditelaah dari segi sosial, Andhika berkata istilah difabel lebih tepat. Maka untuk memakai dua istilah tersebut perlu menyesuaikan dengan situasi juga lingkungan. Istilah disabilitas lebih benar dipakai ketika berada dalam konteks kaidah bahasa atau keilmuan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, Sobat Ars bisa memakai kata difabel. Disabilitas sendiri meliputi empat macam. Ada disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensori.

Baca juga :  Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Final Part)

Sekitar 15 persen dari jumlah penduduk di dunia merupakan penyandang disabilitas. Mereka menjadi kaum minoritas dengan jumlah terbanyak di dunia. Kurang-lebih 82 persen dari total penyandang disabilitas itu berada di negara-negara berkembang, contohnya Indonesia. Data PUSDATIN (Pusat Data dan Informasi Kementrian Pertahanan) dari Kementrian Sosial di tahun 2010 menyebutkan jumah penyandang disabilitas di Indonesia adalah 11.580.117 orang. Pada tahun 2016, Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia Alin Halimatussadiah mengatakan estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 12,15 persen.

Di Indonesia sendiri, rekan disabilitas kerap kali didiskriminasi. Mereka terkadang mengalami stress juga frustasi akibat beberapa hal. Penyandang disabilitas sering kali dijadikan bahan bercandaan. Banyak orang-orang yang menganggap rekan disabilitas tak dapat melakukan apa-apa. Mereka yang mengidap disabilitas juga tidak diberi aksesibilitas yang pantas.

Eta Yuni Lestari, Slamet Sumarto, dan Noorochmat Isdaryanto dalam jurnalnya berjudul Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas di Kabupaten Semarang Melalui Implementasi Convention On The Rights of Persons With Disabilities (CPRD) dalam Bidang Pendidikan memaparkan bahwa pemerintah sudah meratifikasi CPRD yang diatur dalam Undang-undang No.19 Tahun 2011. Dengan hal tersebut menunjukkan adanya komitmen pemerintah Indonesia untuk melindungi, memajukan, dan memenuhi hak penyandang disabilitas.

Source : beritadewata.com (Perlu ada banyak fasilitas khusus disabilitas guna terciptanya hak yang selaras)

Aksesibilitas untuk disabilitas nyatanya masih sangat terbatas. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti aksesibilitas sebagai hal yang dapat dijadikan akses. Aksesibilitas Bagi Penyandang Disabilitas di Halte dan Bus Trans Jogja di Kota Yogyakarta merupakan jurnal karya Putu Nia Rusmiari Dewi yang menyebutkan dalam Pasal 1 butir 8 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas dituliskan bahwa aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi penyandang cacat guna mewujudkan kesamaan kesempatan.

Baca juga :  Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Part 2)

Penyandang disabilitas dapat menjalankan aktivitas apabila disediakan fasilitas atau aksesibilitas yang pantas. Aksesibilitas termasuk juga infrastruktur bangunan dan lingkungan. Manajer Program Yayasan Chesire Indonesia Fendo Parama Sardi mengungkapkan banyak daerah di Indonesia, bahkan di kota besar seperti Jakarta, yang memiliki gedung dengan tidak menyertai jalan akses untuk disabilitas.

Salah satu penyandang disabilitas, Laninka Siamiyono, harus memakai kursi roda semenjak usia 13 tahun. Ia harus menyesuaikan mental serta lingkungan ketika mengidap disabilitas. Ia berharap bahwa lingkungan rumah dan fasilitas umum dijadikan akses secara merata. Mereka yang normal, memiliki kekurangan, serta lansia harus bisa mengakses fasilitas umum tersebut.

Source : ekonomi.bisnis.com (Aksesibilitas untuk disabilitas harusnya disediakan diberagam bangunan umum)

Dikutip dari medcom.id, Lea Aviliani Aziz, Dewan Majelis Himpunan Desainer Interior (HDII), mengimbau para Arsitek serta Desainer Interior untuk memperjuangkan hak orang berkebutuhan khusus dan lanjut usia agar dapat hidup dalam ruangan yang sama. Diperlukan juga riset mendalam guna memahami desain rumah agar bisa digunakan secara mandiri oleh penyandang disabilitas dan manula.

“Desain yang inovatif dapat meningkatkan cara kita dalam menjalani kehidupan dan memungkinkan membangun kota yang inklusif bagi semua orang dari berbagai lapisan masyarakat,” ungkap salah satu anggota HDII Chairul Amal Septono pada medcom.id.

Aksesibilitas untuk umum harusnya dibuat berkredibilitas menyesuaikan adanya penyandang disabilitas. Melihat banyaknya bangunan umum masih tidak memikirkan poin ‘ramah disabilitas’ pada gedungnya, menjadikan Indonesia dalam keadaan cemas. Untuk apa diatur dalam undang-undang apabila pengaplikasiannya masih mengambang? Katanya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, lalu di mana buktinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *