Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Istana Malige, Rumah Sultan Buton Sulawesi Tenggara

Source : kumparan.com

Indonesia memang tidak ada habisnya jika membicarakan tentang kebudayaan. Salah satunya adalah rumah adat yang ada di Sulawesi Tenggara. Kali ini Arsminimalis akan membahas rumah nomor satu di Kesultanan Buton yakni Sultan Buton yang ke-38, La Ode Muhammad Hamidi.

DIsebut istana Malige, rumah yang kini didiami oleh cucu dan buyut dari Sultan Buton itu dibangun tidak menggunakan paku satu pun. Kerangka bangunan itu hanya mengaitkan satu lubang kayu ke lubang lainnya yang sudah dilubangi atau dibentuk sedemikian rupa.

“Istana Malige merupakan istana terakhir Sultan Buton. Istana Malige ini merupakan tempat tinggal Sultan dengan keluarganya, sementara kalau Istana Kamali untuk tempat tinggal Sultan dengan selir – selirnya,” ujar La Ode Farid, cicit Sultan Buton Muhammmad Hamidi.

Terdapat tiga bagian dalam ruangan lantai satu, serta lima kamar tidur. Salah satunya ruangan yang terletak paling belakang yang merupakan kamar pribadi milik Sultan Buton ke-38 itu. Pada bagian lantai dua terdapat 14 ruangan kamar sesuai jumlah anak dari Muhammad Hamidi. Terbagi pada dua sisi kiri dan kanan berjejer rapi masing – masing berjumlah tujuh kamar. Uniknya lagi, kamar ini posisinya menggantung tidak menyatu dengan lantai dua bangunan.

“Kamar ini dalam bahasa Buton disebut pabate, modelnya ini menggantung kalau kita melihat dari luar di bawahnya ada tiang menjulur ke bawah yang disebut tiang bosu dengan ukiran persegi empat dan hanya bisa digunakan oleh pejabat pada masa itu,” jelas Farid pada kumparan.com.

Baca juga :  Rumah Unik Penuh Makna dari Tana Toraja

Sementara untuk lantai tiga dan empat hanya ruangan kosong yang digunakan untuk menyimpan perabot milik keluarga Kesultanan. Sedangkan pada bagian bumbungan rumah terdapat ukiran kayu berbentuk nanas dan naga sebagai simbol masyarakat Buton. Simbol nenas (nanas) tersebut menggambarkan orang Buton bisa hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru di perantauan. Sementara naga merupakan simbol kekuatan.

Source : kumparan.com (Ruangan yang ada di lantai tiga)

Dijelaskan dalam jurnal yang ditulis oleh Bonnieta Franciska dan Laksmi Kusuma Wardani bahwa tak hanya yang disampaikan oleh Farid, elemen utama dalam rumah ini juga memiliki makna yang dalam khususnya untuk Sultan dan penghuni lainnya.

Balok kayu (kasolaki) yang menjadi penghubung selalu dibuat dengan bentuk halus, hal ini merupakan penggambaran budi pekertinya orang beriman, sebagai analogy bagi penghuni istana.

Tiang yang ada di bagian depan jumlahnya ada lima dan berderet ke belakang hingga delapan baris. Jadi jumlah seluruh tiang yang digunakan ada empat puluh. Tiang utamanya diberi nama tiang Tutumbu yang mengandung arti selalu tumbuh. Kayunya diambil dari pohon wala yang dipotong dan dibentuk persegi empat atau bundar.

Ada pula tiang (tutumbu) yang dibagi menjadi tiga. Yang pertama dinamakan kabelai (tiang tengah) yang menjadi simbol dari sifat Tuhan yang Esa. Selain itu karena Tuhan punya sifat Yang Maha Suci, maka bagian ujung tiang ini diberi kain berwarna putih. Lalu tiang kedua dinamakan tada (penyangga) yang mempunyai arti sebagai status sosial atau derajat penghuni rumah dalam istana dan kerajaan. Selanjutnya tiang untuk pembantu atau pelengkap punya makna jika raja harus bisa menjadi pelindung dan punya semangat kerja sama serta selalu punya sifat terbuka kepada rakyat yang dipimpin.

Baca juga :  Asrama Inggrisan, Peninggalan Sejarah yang Terbengkalai

Pintu dan tangga (oda dan bamba) dari istana Malige memiliki makna yang berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai cerminan Tuhan yang harus dihormati. Berbeda dengan tangga dan pintu di bagian belakang yang menghadap utara disimbolkan sebagai penghargaan kepada arwah leluhur.

Source : kumparan.com (Bagian depan istana Malige)

Lantai (lante) yang menggunakan bahan dari kayu jati melambangkan status sosial bahwa Sultan adalah bangsawan dan melambangkan pribadi sultan yang selalu tenang dalam menghadapi persoalan. Struktur permukaan pada rumah ini memiliki perbedaan ketinggian antara satu ruang dengan lainnya. Ketidakrataan ini mencerminkan sifat khas manusia yang memiliki nafas yang naik-turun.

Dinding (rindi) sebagai penutup atau batas visual meskipun akuistik melambangkan kerahasiaan. Ibarat alam kehidupan dan kematian. Dinding dipasang rapat upaya untuk mengokohkan prinsip Islam pada diri Sultan sebagai khalifah.

Jendela (balo-balo bamba) yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara dan cahaya dalam rumah. Pada bagian atasnya terdapat bentuk hiasan balok melintang memberi kesan adanya pengaruh Islam yang mendalam. Begitu pula pada bagian jendela lain yang menyerupai kubah.

Tak henti – hentinya kita sebagai generasi penerus berdecak kagum atas karya dari para pendahulu. Bahkan setiap elemen dan material yang digunakan memiliki filosofi yang mendalam. Tidak hanya untuk mengingat kepada sekitar tetapi juga tetap berdoa ke Yang Esa.

2 pemikiran pada “Istana Malige, Rumah Sultan Buton Sulawesi Tenggara

    1. Terima kasih komen nya kak.
      Setiap bangunan selalu memiliki makna dan tujuan sendiri kak, khususnya bangunan Vernakular. Sudah baca artikel tentang arsitektur Vernakular belum kak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *