Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Ceritera Rumah Adat Sumatera Utara Peninggalan Budaya Nusantara

Source : merahputih (Rumah Bolon merupakan rumah adat asal Sumatera Utara)

Kali ini Arsminimalis akan mengajak kamu untuk mampir ke Provinsi Sumatera Utara. Sobat Ars tahu tidak apa saja yang dapat dikunjungi untuk berwisata? Yang paling terkenal ada Danau Toba. Bagi saya yang pecinta gajah ingin sekali mampir ke tempat perlindungan gajah sumatera di Tangkahan. Di bukit Lawang juga kamu bisa menemuka rumah orang utan. Sobat Ars juga bisa mampir ke perkampungan suku Batak Toba yang unik.

Penataan kampung suku Batak Toba dibuat pola berbanjar dua saling berhadapan dengan poros ke arah utara. Hal itu membentuk perkampungan yang disebut lumban atau huta. Perkampungan ini juga memiliki dua pintu gerbang (bahal) di bagian utara dan selatan. Tembok setinggi dua meter yang terbuat dari tanah liat dan batu mengelilingi kampung ini. Dikarenakan dulu sering ada peperangan, tiap sudut lingkungan itu diberi menara pengawas. Jika diperhatikan, nampak jelas bahwa bentuk perkampungan ini menyerupai benteng.

Jika membahas suku Batak, maka Sobat Ars harus mengetahui tentang Rumah Bolon. Rumah ini sering disebut juga Rumah Gorga atau Si Baganding Tua. Bangunan ini merupakan rumah adat suku Batak serta dijadikan simbol status sosial masyarakat yang tinggal di Tapanuli, Sumatera Utara.

Source : kebudayaan.kemdikbud.go.id (Rumah adat suku Batak ini dapat memuat dua sampai enam keluarga)

Sebutan untuk rumah adat suku Batak menyesuaikan hiasannya. Apabila memiliki ragam hiasan yang indah nan rumit akan dinamakan Rumah Gorgasarimunggu atau Jabu Batara Siang. Namun jika tidak ada ukiran, maka disebut Jabu Ereng atau Jabu Batara Siang. Rumah Bolon yang berarti rumah besar ini duludijadikan sebagai tempat penyelenggaraan upacara adat religius. Sedangkan rumah adat yang kecil disebut Jabu Parbale-balean. Ada pula rumah adat yang diperuntukkan untuk hak seorang anak bungsu, yakni Rumah Parsantian.

Tidak semua Rumah Bolon di Sumatera Utara itu sama persis. Hal tersebut dikarenakan adanya banyak macam suku Batak, yaitu Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Angkola. Banyaknya jenis suku Batak menyebabkan ada ciri khas masing-masing pada setiap Rumah Bolon sesuai sukunya. Meski memiliki ciri khas di tiap-tiap Rumah Bolon mengikuti jenis suku Batak, umumnya Rumah Bolon dibangun dengan bentuk yang sama.

Baca juga :  Cosmo Park, Perumahan yang Dibangun di Atas Atap Mall

Rumah Bolon dibangun berbentuk persegi panjang dengan konsep rumah panggung. Tiang penyangga untuk pondasi rumah panggung pada Rumah Bolon dibuat setinggi 1,75 meter. Penelitian yang dilakukan oleh Roseilda Regita berjudul Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Ragam Hias Rumah Bolon Simalungun Berdasarkan Tatanan Sosial Budaya Masyarakat Simalungun menyebutkan bahwa ada dua jenis tiang yang dipakai. Pertama, tiang utama yang berfungsi untuk menyangga kerangka bangunan dari bawah hingga atas (atap). Yang kedua ialah tiang sokong atau tongkat yang hanya menopang dari bawah sampai lantai saja. Bangunan yang dibuat tinggi ini mempunyai relasi dengan religi bahwa manusia memiliki derajat di atas dari hewan dan makhluk halus yang ada di dunia bawah.

Source : rumah.com (Rumah Bolon dibangun dengan konsep rumah panggung)

Bentuk bangunan yang tinggi mengharuskan pemilik rumah untuk mempunyai tangga agar dapat masuk ke rumah. Jumlah tangga pada Rumah Bolon selalu ganjil. Poin unik mengenai tangga ada pada Rumah Bolon Simalungun di Pematang Purba yang tangganya hanya diletakkan pada pintu depan. Tangga itu menjadi satu-satunya akses untuk naik ke dalam rumah. Tangganya memiliki pegangan untuk tangan yang digantung di tengah-tengah dan terbuat dari rotan. Dibuat pegangan tangga di bagian tengah memiliki arti agar saat masuk atau keluar rumah, hanya tangan kananlah yang memegang rotan itu.

Bangunan adat yang satu ini memang menjadi kediaman raja sesuai dengan sistem masyarakat Batak. Pada tempat tinggal raja ini dapat ditemui beberapa tungku perapian. Yang mana satu tungku perapian berarti satu keluarga menurut adat suku Batak. Makanya Rumah Bolon biasa ditempati beberapa keluarga. Umumnya dua sampai enam keluarga.

Pondasi pada Rumah Bolon memakai tipe cincin, yaitu menjadikan batu sebagai tumpuan kolom kayu yang ada di atasnya. Batu yang dipakai disebut batu ojahan. Di atas batu ojahan dengan struktur fleksibel ditaruh tiang berdiameter 42-50 cm. Adanya konsep ini membuat rumah tahan gempa.

Baca juga :  Inset House Hadirkan Konsep Taman Melayang Dalam Rumah

Bagian atap Rumah Bolon terbuat dari ijuk karena merupakan bahan yang mudah ditemui di daerah tersebut. Atap dianggap bagian suci oleh masyarakat Batak makanya sering dipakai untuk menyimpan benda-benda keramat atau pusaka. Pada bagian atap juga ditemui kepala kerbau yang terbuat dari ijuk, sedangkan tanduknya asli dari hewan berkaki empat tersebut. Kepala kerbau itu dimaknai sebagai lambang kebesaran, kemakmuran, dan kekuasaan raja. Atapnya dibuat melengkung dengan ujung yang lancip di sisi depan dan belakang. Bagian depan dibuat lebih panjang daripada belakang sebagai bentuk doa agar keturunan pemilik rumah mempunyai masa depan yang lebih baik.

Source : arafuru (Atap Rumah Bolon dianggap sebagai bagian suci)

Keunikan lain yang dapat Sobat Ars temui adalah hiasan pada kusen pintu masuk. Terdapat ukiran berupa telur dan panah. Tali-tali pengikat dinding miring (tali ret-ret) terbuat dari ijuk atau rotan yang dibentuk seperti pola cicak berkepala dua saling bertolak belakang. Cicak itu diartikan sebagai penjaga rumah. Sedangkan dua kepala saling bertolak belakang melambangkan penghuni mempunyai peranan yang sama dan saling menghormati.

Di Jerman, Sobat Ars juga bisa menjumpai Rumah Bolon. Namun di sana Rumah Bolon lebih dikenal dengan nama Batakhaus. Batakhaus sudah dibangun sekitar 42 tahun lalu, tepatnya pada 1978 dan dibuat oleh masyarakat sekitar. Rumah Bolon yang ada di Jerman ini dijadikan tempat wisata berhias ornamen suku Batak. Bangunan ini dirawat oleh Yayasan Tradgerverein Batakhaus Werpeloh e.V.

Tak boleh kalah dengan negeri orang, kita juga harus melestarikan budaya mulai dari sekarang. Rumah Bolon masih jarang dikunjungi wisatawan lantaran promosi masih kurang. Maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menyebarluaskan dan melestarikan rumah adat ini agar tidak dibumihanguskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *