Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Pura Besakih, Ibu dari Pura – Pura di Bali

Source : putrama.co.id

Jika berbicara mengenai arsitektur vernacular (vernakular) maka Bali adalah surganya. Sangat mudah bagi Sobat Ars untuk menjumpai rumah adat atau bangunan apapun dengan nuansa dan unsur tradisional budaya di Bali.

Dengan gaya arsitektur yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu, Bali menjadi salah satu kota dengan gaya arsitektur asri di Indonesia. Masih banyak dijumpai bangunan – bangunan dengan atap jerami, kayu kelapa, bambu, kayu jati, batu, dan bahan tradisional lainnya.

Jika Aceh terkenal sebagai daerah dengan adat Islam yang paling kental, maka Bali merupakan sentral dari agama Hindu. Salah satu buktinya adalah dengan adanya pura terbesar di Indonesia yang berdiri di tanah Bali, yaitu Pura Besakih.

Sedikit tapak tilas dari proses berdirinya Pura Besakih  bermula dari Rsi Markandeya yang mendapatkan wahyu saat ia tengah bersemedi di Gunung Dieng. Wahyu yang diterima Rsi Markendeya konon katanya merupakan sebuah petunjuk yang diberikan oleh Sang Pencipta yang meminta Markendeya untuk mengubah tanah hutan Bali dari selatan ke utara. Wahyu inilah yang konon mendasari dibangunnya Pura Besakih. Berdiri pastinya Pura Besakih memang tidak bisa dipastikan, tetapi jika meilhat dari segi batu fondasi dari pura tesebut banyak peneliti memperkirakan jika usianya sudah mencapai sekitar 2000 tahun.

Pura Agung Besakih merupakan salah satu tempat ibadah umat Hindu terbesar dan paling unik di Indonesia. Kenapa demikian? Di dalam Pura Besakih tidak hanya terdapat satu pura saja, melainkan banyak pura.

Baca juga :  Makna dan Filosofi Gapura Candi Bentar pada Rumah Adat Bali

Total pura yang ada pada area Pura Besakih terdiri dari satu pura pusat yaitu Pura Penataan Agung Bekasih dan 18 pura pendamping (satu Pura Basukian) dan 17 pura lainnya). Pada bagian Pura Basukian inilah pertama kalinya turun wahyu dari dewa yang diterima Rsi Markendeya. Dari wahyu ini pula yang menjadikan cikal bakal agama Hindu Dharma sekarang di Bali.

Source : thebalibible.com (Situasi saat sedang berlangsungnya salah satu upacara sakral di Pura Besakih)

Dari sekian banyak pura, Pura Penataran Agung adalah yang terbesar. Selain itu pada Pura Penataran Agung juga memiliki jumlah bangunan pelinggih paling banyak. Upacara yang dilakukan di Pura Penataran Agung juga paling banyak jenisnya. Hal itulah yang menjadikan Pura Penataran Agung sebagai pusat dari kompleks Pura Besakih.

Keberadaan Pura Besakih bagi masyarakat Bali bukan hanya sebatas tempat ibadah. Menurut kepercayaan agama Hindu Dharma, Pura Besakih memiliki keterkaitan dengan makna Gunung Agung. Di mana Gunung Agung sendiri merupakan gunung tertinggi di pulau Bali dan dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai pusat pemerintah alam arwah dan alam para Dewata yang menjadi utusan Tuhan untuk wilayah Bali. Untuk itu dibuatlah bangunan kesucian umat Hindu di lereng bagian barat daya Gunung Agung. Atas dasar ini pula Pura Besakih dibangun dengan konsep Tri Hita Kiirana. Yaitu sebuah konsep keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Hal ini pula yang menjadikan Pura Besakih dianggap sebagai pelataran Gunung Agung untuk menyembang Dewa.

Baca juga :  Dibuat Tergila-gila oleh Desain Motel Mexicola
Source : iccer.ce.its.ac.id (Berdiri tepat di lereng bagian barat daya dari Gunung Agung)

Berdiri di atas lereng gunung membuat Pura Besakih memiliki view yang amat cantik. Dari area komplek pura Sobat Ars tidak hanya akan disuguhi keindahan dari Pura Besakih. Tetapi pemandangan alam yang asri juga bisa dinikmati dari sana. Sehingga bagi yang gemar bersua foto atau memiliki hobi dengan fotografis, Pura Besakih sangat cocok untuk Sobat Ars kunjungi.

Source : au.hotels.com (Nunasa asri menjadi daya tarik lain dari Pura Besakih)

Selain itu baik bangunan pura atau lainnya terlihat sangat artistik. Nuansa budaya tradisional sangat terasa ketika memasuki komplek Pura Besakih. Terlebih keadaan beberapa bagian pura yang sudah ditumbuhi lumut semakin menambah kesan sakral di Pura Besakih.

Source : au.hotels.com (Patung – patung kecil bernilai seni banyak menghiasi bagian pura)

Siang hari merupakan waktu kunjung wisatawan dengan jumlah paling banyak. Siang hari memang waktu yang sangat cocok untuk bisa mengekspos semua bagian dari pura. Tetapi bagi Sobat Ars yang hendak menikmati nuansa yang berbeda, kami menyarankan untuk berkunjung pada sore hari. Selain jumlah wisatawan yang sudah tidak terlalu ramai, nuansa sekitaran Pura Besakih menjadi semakin asri karena cahaya sore matahari.

Sebagai generasi penerus bangsa, melestarikan dan menjaga budaya Indonesia merupakan tugas wajib. Apa salahnya jika sedikit menengok tempat bersejarah dan tentu dengan keindahan dan keunikan yang ada untuk dipopulerkan. Hanya dengan Rp 15.000 wisata alam dan sejarah budaya sudah bisa didapatkan.

4 pemikiran pada “Pura Besakih, Ibu dari Pura – Pura di Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *