Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Tak Neko-neko Desain Rumah Adat Baileo

Source : docplayer.info (Rumah Adat dari Maluku yaitu Baileo)

Indonesia sekarang memiliki total 34 provinsi. Namun saat baru merdeka, hanya terdapat delapan provinsi. Pada tanggal 19 Agustus 1945, provinsi dibagi melalui sidang kedua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Delapan provinsi itu ialah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Sulawesi, Borneo, dan Maluku.

Dulu Maluku dikenal sebagai provinsi yang kaya akan rempah-rempah. Sebelum dijajah, Maluku sudah menjadi pusat perdagangan rempah dunia dan sekarang dijuluki sebagai Kepulauan Rempah. Kebanyakan orang Maluku diketahui pandai bernyanyi. Selain pintar menyanyi dan ramah, Maluku juga terkenal dengan kulinernya yang lezat. Tapi tahu kah kamu kalau Maluku juga mempunyai rumah adat?

Tak hanya satu, Maluku memiliki tiga rumah adat. Ada rumah adat Hibualamo dan dua yang lebih populer adalah Sasadu serta Baileo. Yang unik dari Hibualamo atau Rumah Besar adalah selalu memakai warna merah, kuning, hitam, dan putih. Sedangkan Sasadu keunikannya dapat dilihat dari rumah yang tak memiliki dinding tetapi ada banyak pintu. Lalu bagaimana dengan rumah adat Baileo?

Kebanyakan orang hanya mengetahui Baileo sebagai satu-satunya rumah adat Maluku. Padahal Baileo hanya termasuk salah satunya saja. Rumah adat ini dipilih menjadi bangunan yang mewakili provinsi Maluku. Hal itu dikarenakan Baileo menjadi satu-satunya bangunan peninggalan yang menggambarkan kebudayaan siwa-lima.

Source : kebudayaan.kemdikbud.go.id (Rumah Baileo dibangun tanpa dinding)

Baileo berasal dari bahasa Maluku yang dalam bahasa Indonesia berarti balai. Menurut Cooley (1962) dalam Wattimena (2009: 25), kata Baileo berasal dari bahasa Melayu yaitu bale atau balae dengan arti tempat pertemuan. Penelitian yang dilakukan Marlyn Salhuteru berjudul Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah menyebutkan bahwa Baileo dipandang sebagai rumah tua atau rumah leluhur lantaran dianggap menjadi tempat tinggal pertama dari sekelompok orang yang pertama kali tiba dan dianggap sebagai pendiri negeri. Orang-orang inilah yang lalu dianggap sebagai tua-tua adat atau biasa disebut soa. Dalam pemerintahan disebut juga saniri negeri. Soa dianggap sebagai tuan tanah dalam status sosial. Maka dari itu Baileo masih dirawat dan dijaga hingga kini.

Mirip seperti rumah adat yang ada di Indonesia kebanyakan, Baileo juga dibangun berbentuk rumah panggung. Kalau biasanya rumah dibangun seperti panggung agar menghindari serangan hewan buas atau bencana alam seperti banjir, hal itu berbeda dengan Baileo. Posisi lantai berada di atas tanah atau dibuat tinggi dipercaya agar  roh-roh nenek moyang mempunyai tempat dan derajat tinggi dari tempat berdirinya masyarakat.

Baca juga :  Sensasi Ngopi di Tengah Hutan Ala Arborea Cafe

Berbentuk layaknya rumah panggung mewajibkan bangunannya memakai tiang penyangga. Bagian fasad rumah adat satu ini juga dibangun setinggi satu sampai dua meter. Total tiang penyangga pada Baileo adalah 14; 9 di bagian depan-belakang dan 5 di samping kanan-kiri rumah. Arti filosofis jumlah tiang tersebut adalah sebagai lambang dari persekutuan antar kelompok masyarakat. Lima tiang yang berada di samping kanan memiliki arti sebagai tempat perkumpulan antar desa atau lebih diketahui dengan istilah Siwa Lima. Siwa Lima merupakan simbol persekutuan desa-desa di Maluku.

Source : kontraktor-jogja.co.id (Kaki atau tiang penyangga rumah adat Baileo)

Mirip seperti rumah adat Sasadu, Baileo juga dibangun tanpa dinding. Umumnya rumah memiliki dinding, tetapi tidak dengan dua rumah adat ini. Baileo dibuat seperti itu karena kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa dengan tidak adanya dinding dan jendela maka roh-roh nenek moyang bebas keluar masuk rumah. Tujuan lain rumah adat suku Maluku ini dibangun tanpa dinding agar masyarakat sekitar bisa melihat musyawarah yang dilakukan dari luar Baileo.

Ruangannya yang terbuka dan berukuran besar tentu memiliki fungsi tersendiri. Selain musyawarah, Baileo kerap kali dipakai sebagai tempat pertemuan adat dan upacara. Baileo juga bisa dijadikan tempat untuk menyimpan peninggalan bersejarah, pusaka, serta benda keramat.

Rumah adat Baileo menjadi salah satu hal menonjol dari permukiman suku Huaulu. Untuk mendirikan Baileo, akan dilakukan upacara oleh suku Huaulu dengan beragam ritual di dalamnya. Konon katanya salah satu ritual pada upacara ini memakai tengkorak manusia. Cukup mengerikan, bukan? Namun jangan salah, ritual itu sudah tak lagi digunakan. “Benar, dulu suku kami menggunakan kepala manusia sebagai salah satu syarat ritualnya. Tapi sekarang itu sudah tidak kami gunakan, sebagai gantinya kami menggunakan tempurung kelapa,” ungkap Wilhemus Kogoya, salah satu tokoh adat suku Huaulu, pada Indonesia.go.id.

Baca juga :  Starbucks Reserve Dewata, Kedai Kopi Rasa Tempat Wisata

Wilhemus juga menjelaskan bahwa Baileo dijadikan tempat berkumpul warga desa. Dahulu kala, Baileo sering dipakai sebagai rumah raja, kepala desa, serta tempat beribadah. Pada zaman dulu, warga akan berkumpul dan membahas mengenai kehidupan mereka seperti pembahasan tentang strategi perang melawan musuh-musuh. Tetapi sekarang Baileo lebih sering dipakai seperti balai desa.

Source : kebudayaan.kemdikbud.go.id (Salah satu penampakan rumah adat Baileo di Maluku)

Desain bangunan Baileo ini bisa dibilang tidak terlalu ruwet. Struktur panggung dari rumah adat Baileo yakni lantai luas yang terbuat dari papan kayu. Pembangunannya juga tidak menggunakan alat perekat seperti paku. Ada pula tiang berbentuk balok yang dipakai untuk menopang atap. Atap Baileo memiliki kerangka prisma yang disusun di atas daun sagu dan daun kelapa. Baileo memiliki total tiga anak tangga pada bagian depan dan samping kanan-kiri. Pada sisi depan rumah terdapat batu dengan bentuk datar.

Inilah ciri khas rumah adat Baileo, adanya batu pamali. Batu ini berada tepat di depan pintu rumah. Batu pamali berfungsi untuk meletakkan sesajen yang dipersembahkan masyarakat sekitar untuk roh nenek moyang. Dengan adanya batu pamali di Baileo ini berarti rumah adat tersebut harus dihormati.

Meski sederhana, rumah adat Maluku ini memiliki hiasan berupa ornamen yang khas. Pertama ada gambar dua ekor ayam berhadapan yang diapit dua ekor anjing di sebelah kiri dan kanan. Makna dari gambar ini adalah lambang tentang kedamaian dan kemakmuran. Sobat Ars bisa menemui gambar ini di bagian depan rumah. Lalu yang kedua ada ukiran berbentuk matahari, bulan, dan bintang. Dengan kombinasi warna hitam, merah, dan kuning dicat berbeda pada setiap bentuknya. Untuk tiga ukiran ini dimaknai sebagai lambang persatuan yang dijunjung tinggi setiap masyarakatnya, Sobat Ars dapat menemukan gambar tiga bentuk tersebut di atap rumah.

Majunya zaman membuat rumah adat Baileo mengalami perubahan. Tidak begitu pegari dan fungsinya tak terganti. Namun tetap harus dilestarikan agar tak menghilangkan kesan yang diberikan nenek moyang. Tetap jaga keaslian dan warisan yang diberkahkan pada kita untuk diberikan kasih sayang.

2 pemikiran pada “Tak Neko-neko Desain Rumah Adat Baileo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *