ArsitekturSemua Artikel

Atur Green Architecture Agar Bumi Tak Hancur

Source : bramblefurniture.com (Rumah Jungalow memiliki tanaman di dalamnya guna memperbanyak oksigen di dalam ruangan juga memakai cahaya alami seperti kriteria arsitektur hijau)

Banyak sekali kejadian buruk menimpa dunia ini di tahun 2020. Mulai dari adanya virus baru yang cukup berbahaya, ledakan besar, sampai bencana alam. Seperti pemanasan global yang semakin memburuk keadannya. Segala bidang ilmu mempelajari hal ini dan berlomba-lomba memperbaiki keburukan tersebut. Jika pemanasan global tidak bisa dihentikan, maka setidaknya kita harus bisa melakukan hal-hal untuk memperlambat bencana buruk itu.

Pemanasan global itu menimbulkan dampak besar sehingga membuat semua disiplin keilmuwan berpartisipasi. Begitu juga arsitektur. Seorang Arsitek dalam pekerjaannya diharuskan membuat bangunan di suatu lingkungan yang mana hal tersebut tentu berkaitan dengan perubahan iklim. Arsitek tentu harus ikut bertanggung jawab guna menyelamatkan dunia.

Jurnal EKOTON berjudul Arsitektur Hijau : Arsitektur Ramah Lingkungan yang ditulis oleh Deddy Erdiono disebutkan bahwa dunia arsitektur menanggapi isu pemanasan global itu dengan berempati, tanggap, serta memberikan solusi terhadap masalah lingkungan. Maka Arsitek membuat konsep yang ramah lingkungan, seperti pengembangan kota hijau (green city), properti hijau (green property), bangunan hijau (green building), kantor/sekolah hijau (green school/office), hingga produk hijau (green product). Pembangunan disertai kata ‘hijau’ itu lebih dikenal dengan arsitektur hijau atau secara global disebut green architecture.

Profesor Brenda Vale dan Doktor Brenda Vale merupakan dua tokoh penting jika membahas arsitektur hijau. Kedua pakar yang diketahui sebagai Arsitek, penulis, peneliti, serta ahli dalam bidang arsitektur berkelanjutan ini memaparkan bahwa arsitektur hijau adalah suatu pendekatan desain bangunan dengan berfokus pada sumber daya alam yang dipakai baik material bangunan, bahan bakar selama pembangunan, dan peran dari bangunan tersebut.

Source : Unsplash/Josè Maria Sava (Penggunaan 700 pohon dan 90 spesies tanaman pada Bosco Verticale ini bisa memproduksi oksigen lebih banyak dan mengurangi polusi udara)

Arsitektur hijau atau arsitektur ekologis juga biasa diketahui sebagai arsitektur ramah lingkungan. Adanya desain ramah lingkungan menjadi jawaban dari dunia arsitektur mengenai persoalan lingkungan yang memburuk. Arsitektur hijau dapat diartikan sebagai pendekatan perencanaan pembangunan dengan tujuan untuk meminimalisir kerusakan alam serta lingkungan pada bangunan.

Mengapa penting untuk membuat bangunan dengan desain yang ramah lingkungan? Mengacu dari Jurnal Ilmiah ARJOUNA karya J. Handono Rahardjo berjudul Penerapan Arsitektur Hijau pada Bangunan Rumah Tinggal bahwa efek pemanasan global membuat penurunan kualitas memburuk. Hal itu juga dibuat semakin parah dengan tidak dikontrolnya penentuan serta pemanfaatan ruang kota, rasio antara lahan terbangun dengan ruang terbukanya, ruang terbuka untuk parkir, dan jalan aspal/beton semakin mempersempit daerah resapan air. Efek rumah kaca pun menyebabkan kualitas udara bersih berkurang banyak dan dibutuhkan filterisasi melalui penghijauan lingkungan.

Penggunaan green architecture dianggap cukup penting lantaran proses perancangannya mengandung upaya mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, untuk meningkatkan kenyamanan manusia dengan memaksimalkan efisiensinya, pengurangan penggunaan sumber daya energi, pemakaian lahan, dan pengelolaan sampah efektif dalam tataran arsitektur seperti tertulis pada Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi milik Oni Indah Cahyani berjudul Penerapan Konsep Green Architecture pada Bangunan Perpustakaan Universitas Indonesia. Efek juga sistem pemakaian bangunan ramah lingkungan jadi konsep yang diutamakan.

Baca juga :  Makna Fisik dan Filosofi Rumah Honai

Dengan cepat harus dipopulerkan gaya arsitektur hijau ini. Apalagi World Health Organization (WHO) sudah mencatat adanya 30% bangunan gedung di dunia mengalami masalah kualitas udara dalam ruangan. Tercantum dalam karya M. Maria Sudarwani dengan judul Penerapan Green Architecture dan Green Building Sebagai Upaya Pencapaian Sustainable Architecture bahwa lebih 30% emisi global karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global berasal dari bangunan.

Source : Unsplash/Steve Dresner (Plafon yang dibuat tinggi semakin baik karena sirkulasi udara lebih lancar)

Adanya arsitektur hijau membuat Sobat Ars bisa mengambil andil dalam meminimalisir pengaruh buruk pada lingkungan. Jika biasanya terjadi permasalahan udara pada rumah, dengan desain ramah lingkungan akan membuat adanya sirkulasi yang lebih baik. Sering kali terjadi sebuah hunian tidak memiliki pencahayaan yang maksimal. Hal itu menjadikan pemilik rumah harus memakai banyak sekali lampu dan boros listrik. Sudah banyak kampanye dengan embel-embel jaga lingkungan, tetapi di hunian masih saja boros pemakaian listrik. Apakah itu artinya sosialisasi mengenai lingkungan sudah tak berarti?

Zaman memang berkembang. Benda yang dulu ada, bisa hilang dimakan zaman. Seperti dulu ada koran, sekarang keberadaan koran menipis karena semua berita lebih cepat hadirnya di telepon genggam. Dulu pasti Sobat Ars sering menonton televisi, tapi sejak ada smartphone, keberadaan televisi mulai tergantikan. Apa-apa serba ada di smartphone. Apakah harus menunggu pemandangan hijau hanya bisa dilihat melalui smartphone baru mata tiap orang terbuka kalau keadaan bumi ini tidak baik-baik saja?

Dalam karya M. Maria Sudarwani juga disebutkan beberapa indikasi arsitektur bisa disebut ‘green’. Indikasi itu meliputi penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui), passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, serta kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan. Bisa pula dengan mengurangi penggunaan energi. Menggunakan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah juga bisa diperhitungkan.

Kriteria arsitektur hijau menurut Brenda dan Robert Vale ada enam. Yang pertama tentu hemat energi. Untuk mengurangi energi bisa dilakukan mulai pembangunan, pemakaian, bahkan saat merobohkan bangunan. Penerapan hemat energi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan denah bangunan. Guna memaksimalkan udara alami juga bisa dengan membuat bukaan jendela dalam jumlah yang optimal. Selain menghemat energi listrik dengan memakai udara alami, Sobat Ars juga bisa meminimalisir peggunaan lampu. Pengaturan jendela tadi juga bisa diatur agar menghadap ke matahari untuk menggunakan cahaya matahari dari pagi hingga sore hari.

Source : Unsplash/Jacques Bopp (Rumah dengan jendela di mana arah dan jumlah yang benar bisa dimanfaatkan untuk jalan masuknya sinar matahari agar meminimalisir penggunaan lampu di pagi sampai siang hari)

Kriteria kedua yaitu working with climate atau memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami. Penggunaan arsitektur hijau membuat bangunan beradaptasi dengan lingkungan melalui kondisi alam, iklim, dan lingkungan sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan. Maksudnya adalah bangunan harus menyesuaikan kondisi yang ada. Contohnya di Indonesia yang panas serta lembap, maka bangunan harus dirancang untuk mengatasi udara panas, kelembapan, dan curah hujan tinggi.

Baca juga :  Beri Kesan yang Menarik Melalui Foyer

Ketiga adalah respect for site (menanggapi keadaan tapak pada bangunan). Poin ketiga ini berarti bangunan harus memiliki interaksi dengan lahan atau bisa disebut membumi. Bangunan dibuat dengan memperhatikan tempat di mana ia akan dibangun. Saat dioperasikan, bangunan tidak boleh merusak lingkungan sekitar. Hal yang bisa dilakukan misalnya dengan menggunakan material yang tidak merusak lingkungan, mempertahankan kondisi lahan dengan membuat desain mengikuti bentuk tapak aslinya, dan apabila luas permukaannya kecil bisa dibuat bangunan secara vertikal.

Respect for user dengan arti memperhatikan pengguna atau pemilik bangunan menjadi poin keempat. Bangunan harus dibuat dengan memperhatikan kenyamanan, keamanan, juga kesehatan penggunanya. Desain yang dibuat juga menyesuaikan kebutuhan penghuninya. Lalu kelima ada limitting new resources (meminimalkan sumber daya baru) dengan maksud bangunan yang dibuat harus mengoptimalkan material yang ada dan meminimalisir penggunaan material baru. Terakhir, holistic. Dari seluruh prinsip yang ada diperlukan pendekatan holistik (menyeluruh) pada bangunan ‘hijau’.

Banyak yang bisa Sobat Ars dapatkan apabila memakai green architecture. Mengimplementasikan arsitektur ramah lingkungan di tempat hunian atau kantormu bisa mengurangi limbah, konservasi sumber daya alaam, meningkatnya kualitas udara dan air, serta melindungi ekosistem juga biodiversity. Konsep arsitektur hijau mengutamakan poin hemat energi. Menghemat energi berarti juga meminimalkan pengeluaran untuk membayar tagihan listrik.

Source : www.setiapgedung.web.id (Sequis Center dinobatkan sebagai bangunan ramah lingkungan dengan mendapatkan sertifikat Gold Greenship Existing Building 1.0 dari Green Building Council Indonesia)

“Semangat untuk menjaga lingkungan itu harus kita bagikan pada masyarakat dalam setiap karya. Bagaimana agar arsitektur hijau tetap menjadi tujuan untuk menjaga lingkungan. Selama ini bangunan-bangunan banyak yang menyebabkan kerusakan,” ujar Ren Katili, salah satu Arsitek yang menjadi pembicara dalam acara Architecture Show di Tiara Convention Hall, Medan.

Jangan sampai salah kaprah mengartikan green architecture sebagai bangunan penuh warna hijau dan dikelilingi tanaman. Arsitektur hijau mempunyai hubungan dengan isu efisiensi energi, yang pada akhirnya mengurangi daya eksploitasi terhadap alam. Dengan memaksimalkan kriteria yang ada tadi, maka akan hadir tempat yang lebih baik bagi lingkungan dan sehat untuk penghuninya.

Banyak yang mementingkan keindahan bangunan daripada kesehatan. Jarang memikirkan dampak untuk lingkungan padahal bisa berakhir kerusakan. Sebenarnya penggunaan arsitektur hijau yang baik juga bisa menimbulkan kesan artistik. Sobat Ars bisa konsultasi dengan Arsitek yang pemikirannya serasi untuk menyesuaikan kondisi. Jangan teriak go green kalau tak diimbangi aksi yang seiring. Mulailah jaga lingkungan untuk masa depan lebih aman dan rupawan.

Source : citramaja.com (Perumahan Citra Maja Raya di Lebak, Banten meraih sertifikat Green Building dari International Finance Corporation (IFC) dan Green Building Council Indonesia (GBCI))

 

Satu pemikiran pada “Atur Green Architecture Agar Bumi Tak Hancur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *