Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Sejarah, Keunikan, dan Kemegahan Gereja Blenduk

Source : wikipedia.org

Jika umat Kong Hu Cu punya Hoo Tong Bio sebagai salah satu klenteng tertua di Jawa, maka umat Kristiani punya Gereja Blenduk sebagai salah satu gereja tertua di Jawa. Terletak di Semarang, Gereja Blenduk bukan hanya penting bagi umat Kristiani tapi juga menjadi gedung bersejarah dengan segudang keunikan.

GBIP Immanuel adalah nama asli dari gereja ini, merupakan gereja dengan bentuk arsitektur terunik di Jawa. Sentuhan arsitektur Neo Klasik sangat terasa pada bangunan ini. Nama Blenduk sendiri merupakan julukan dari masyarakat setempat yang memiliki arti kubah, di mana pada Gereja Blenduk bagian utama atapnya berbentuk kubah.

Dikutip dari jurnal karya Yohanes Khrisna Hadi Putra disebutkan bahwa awal mula sejarah Gereja Blenduk pada tahun 1758. Di mana saat itu Gereja Blenduk menjadi gereja Protestan pertama yang resmi dilembagakan di Semarang. Pada saat itu Kota Semarang merupakan daerah pelabuhan dari V.O.C (vereenigde oostindische compagnie). Sehingga jamaah mayoritas dari gereja ini pada masa itu adalah anggota dari V.O.C. Pendeta pertama dari Gereja Blenduk adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar.

Informasi sejarah dari Gereja Blenduk sendiri sangat sedikit dan simpang siur. Dalam jurnalnya Yohanes juga menuliskan bahwa gereja ini berdiri diperkirakan sekitaran tahun 1753. Pada masa itu Gereja Blenduk beberapa kali mengalami perbaikan dan pembangunan. Terhitung sebanyak tujuh kali Gereja Blenduk mengalami rehabilitasi bahkan perencanaan bangunan baru.

Baca juga :  Dari Kandang Kuda Hingga Menjadi Rumah Kaya Sejarah
Source : arsminimalis

Pembangunan yang bisa dibilang memiliki banyak perubahan terjadi pada tahun 1787, di mana awal mula Gereja Blenduk berdiri dengan bentuk rumah Joglo. Hingga akhirnya dilakukan perancangan bangunan baru dengan merubah bentuk utama dengan menambahkan dua buah menara dibagian kanan dan kiri depan gereja oleh Arsitek asal Belanda H.P.A. de Wilde dan Westmas.

Kesan unik dan berbeda akan langsung dirasakan saat pertama kali melihat bangunan ini. Bahkan jika tidak ada nama GBIP Immanuel pada bagian depan pasti banyak yang tidak menyangka bahwa bangunan ini ternyata adalah gereja.

Source : panduanwisata.id (Empat pilar besar nan kokoh memberikan salam selamat datang bagi para pengunjung gereja)

Bagian kubah yang dilapisi dengan perunggu membuat warna kemerahan yang menyala. Terlebih lagi warna utama bagian dinding luar adalah putih, sehingga perpaduan antara warna bagian dinding dengan atap sangat pas sekali. Saat hendak memasuki gereja, empat buah pilar besar seolah – olah menyambut kedatangan kamu.

Source : tempo.co/Fitria Rahmawati (Bagian dalam gereja didominasi dengan gaya Eropa klasik)

Memasuki bagian dalam gereja, kamu akan disambut dengan interior khas Eropa yang amat klasik dan estetik. Bagian lantai dihiasi dengan warna cokelat tua dan muda, lalu diimbangi dengan motif lantai khas Belanda membuat seolah – olah kamu sedang menginjakkan kaki di sebuah permadani. Bertatapan dengan lantai, bagian atas dihiasi dengan lampu gantung kristal raksasa. Selain itu pada bagian jendela mempunyai motif, bentuk, dan warna yang klasik.

Baca juga :  Brawijaya Edupark, Manfaatkan Ruang Taman Wisata Di Tengah Kota

Sedangkan kursi Gereja Blenduk dilengkapi dengan jaring – jaring anyaman pada bagian sandarannya. Sehingga membuat kenyamanan bagi masyarakat yang melakukan ibadah.

Pada bagian luar, tepatnya sebelah kiri dari Gereja Blenduk terdapat sebuah taman mini yang amat cantik bernama Taman Srigunting. Pada taman ini sering dijadikan spot foto, terlebih para wisatawan yang bukan beragama Kristen. Keunikan model bangunan Gereja Blenduk ini memang menjadi daya tarik sendiri.

Source : tribunjateng.com/Maulana Ramadhan (Taman Srigunting yang melengkapi keindahan dari Gereja Blenduk)

“Banyak warga Nasrani dari luar kota yang beribadah Natal di Gereja Blenduk, karena penasaran seperti apa isinya. Bahkan warga selain Nasrani juga mengunjungi gereja karena sejarahnya dan keunikannya. Apa lagi saat libur Natal dan akhir tahun, banyak yang datang,” ungkap Sutiyo selaku pengurus Gereja Blenduk kepada Tempo.co. Sutiyo juga bercerita dahulu sempat ada wisatawan dari luar daerah yang mau menumpang shalat karena mengira Gereja Blenduk adalah masjid. Bagian atap yang berbentuk kubah memang sangat mirip dengan kubah masjid.

Bagi kamu pecinta bangunan klasik dan unik dengan sejarah yang nyentrik, maka Gereja Blenduk harus masuk daftar list yang harus dikunjungi. Bagi Sobat Ars yang bukan warga Nasrani juga tidak masalah untuk datang ke sini. Selain menikmati dan belajar sejarah dari Gereja Blenduk, silaturahmi dengan masyarakat pemeluk agama lain juga hal baik bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *