ArsitekturSemua Artikel

Neo Vernakular dengan Nilai Histori yang Tidak Memudar

Source : kumparan.com

“Pembaharuan hadir dalam setiap detik, perbaikan terjadi setiap saat.” Peribahasa tersebut cukup cocok untuk menggambarkan perkembangan dunia arsitektur saat ini. Perkembangan dan perubahan yang selalu ada setiap waktu membuat dunia arsitektur semakin ramai dengan berbagai konsep unik dan terkenal dari zaman ke zaman.

Kali ini Arsminimalis akan membahas topik yang sudah dijanjikan pada artikel “Pesona Masjid Mahligai Minang Bagai Rumah Adat Gadang”. Sobat Ars pasti sudah tau topik kali ini, ya aliran arsitektur neo vernakular.

Neo vernakular merupakan salah satu aliran arsitektur yang muncul pada era post modern. Lalu apa sih aliran neo nernakular itu? Sebelum lebih lanjut mengenal aliran ini kita harus terlebih dahulu mengerti apa itu arsitektur post modern.

Nyoman Ratih Prajnyani Salain dalam karya tulisnya menyebutkan bahwa arsitektur post modern lahir akibat adanya protes dari sebagian Arsitek dan masyarakat yang telah bosan dengan konsep dan pola bentuk dasar monoton (bangunan seragam dengan bentuk kotak – kotak sederhana tanpa elemen dekoratif dan ornamen) yang marak pada masa arsitektur modern. Akhirnya pada tahun 1960-an lahirlah sebuah konsep arsitektur baru yaitu Post modern. Aliran ini menggabungkan art, science, craft, technology, lokal, dan Internasional. Selain aliran neo vernakular, arsitektur post modern hadir dengan beberapa aliran lain. Seperti historiscism, straight revivalism, contextualism, methapor, dan post modern space.

Neo vernakular bisa dikatakan sebagai pembaharuan dari aliran vernakular. Jika pada aliran vernakular merupakan bangunan asli yang dibangun oleh masyarakat setempat, artinya ada nilai histori jika dilihat beberapa waktu kedepannya. Neo vernakular hadir untuk mempertahankan nilai historikal tersebut tetapi dengan sentuhan arsitektur modern.

Baca juga :  Vertical Garden Solusi Tepat Untuk Lahan Sempit

Lebih jelasnya seperti yang dijelaskan Reza Pahlevi Bahansubu dkk, dalam jurnal berjudul “Arsitektur Neo Vernakular” menyebutkan bahwa Neo Vernakular merupakan sebuah konsep arsitektur yang berprinsip pada kaidah – kaidah normative, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat. Dalam jurnal tersebut juga disebutkan beberapa ciri dari aliran Arsitektur Neo Vernakular.

Pertama, bentuk dari bangunan neo vernakular menerapkan unsur budaya, lingkungan, dan iklim setempat. Lalu dikreasikan dalam bentuk fisik arsitektur modern (tata letak denah, detail, struktural, dan ornamen).

Kedua, selain elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, elemen non-fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak yang mengacu pada makro kosmos dan lainnya juga digunakan dalam aliran neo vernakular.

Ketiga dan menjadi poin penting dari aliran neo vernakular adalah walaupun menerapkan prinsip – prinsip dari bangunan vernakular, tetapi hasil dari neo vernakular berupa karya yang baru (mengutamakan penampilan visual modern dibalut nilai historikal).

Dari beberapa penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Aliran neo vernakular merupakan upaya pembawaan nilai sejarah dalam bentuk modern. neo vernakular menerapkan elemen arsitektur yang sudah ada (vernakular), baik dari fisik (bentuk dan kontruksi) maupun non-fisik (konsep, filosofi, tata ruang) kedalam sebuah arsitektur dengan bentuk atau variasi yang lebih modern.

Selain dalam upaya memberikan sentuhan baru dan pembaharuan pada aliran arsitektur, neo vernakular hadir juga untuk melestarikan bangunan lama agar masih tetap bisa dinikmati pada era arsitektur modern.

Baca juga :  Love at The First Sight dengan Fasad
Source : pegipegi.com (Pengaplikasian atap gonjong pada Masjid Raya Sumatera Barat)

Sebagai contoh kita ambil Masjid Raya Sumatera Barat, jika sekilas Sobat Ars melihat masjid ini maka akan teringat rumah adat Gadang bukan? Hal itu wajar dikarenakan masjid ini memang menggunakan elemen – elemen dari rumah adat Gadang. Elemen fisik bagian atap yang memiliki detail mirip dengan atap gonjong dari rumah adat Gadang. Ornamen pada bagian atap yang terukir relief khas rumah adat Gadang. Beberapa unsur tersebut dibawa dan diaplikasikan kedalam bentuk baru, bukan rumah adat melainkan masjid dengan konsep modern.

Source :beachpointcottages.com (Memertahankan atap jerami sebagai bentuk pelestarian budaya lokal dari masyarakat Papua)

Jika Masjid Raya Sumatera Barat merupakan penerapan neo vernakular dari segi fisik, maka ada rumah Honai modern dari papua yang hadir dalam kepercayaan dan fungsi dari rumah adat Honai. Dari segi fisik tidak banyak yang dipertahankan, tapi bagian atap yang terbuat dari jerami masih dipergunakan. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan fungsi yang dibawa pada penerapan neo vernakular nya. Pemertahanan atap jerami dilakukan karena fungsinya yang bisa meredam hawa dingin serta melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan. Selain itu kepercayaan masyarakat papua terhadap alam yang menyediakan segalanya menjadi poin lain dipertahankannya atap jerami ini.

Hadirnya aliran neo vernakular membawa angin baru khususnya pada dunia arsitektur Indonesia. Tanah air kita dengan berbagai keragaman budayanya masih bisa kita lestarikan dan pertahankan melalui arsitektur neo vernakular ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *