ReviewSemua Artikel

Arsitektur Masjid Sumenep Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya

Source : radarmadura.com (Bagian depan Masjid Sumenep)

Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan tentang makna dan keunikan dari Keraton Sumenep. Kali ini, kami akan mengulas tentang Masjid Jamik Sumenep yang juga peninggalan sejarah dan karya dari Arsitek yang sama dengan Keraton Sumenep. Masjid Jamik terletak tepat di depan Alun-Alun Sumenep atau biasa disebut dengan Taman Adipura. Jaraknya tidak jauh sekitar 100 meter dari keraton. Masjid ini menjadi landmark Kota Sumenep karena keberadaan masjid inilah yang membuat Kota Sumenep menciptakan julukan Kota Religius. Bangunannya kokoh berdiri di tengah kota dan menjadi saksi kejayaan sumenep pada masa lalu.

Gaya arsitektur masjid yang didirikan pada zaman kekuasaan Panembahan Sumolo ini merupakan perpaduan budaya Eropa, Tiongkok, Arab, dan Madura. Hal ini terlihat jelas dari model gerbang serta interior masjid. Perpaduan tersebut merupakan simbol dari masyarakat Sumenep yang sangat terbuka dengan budaya asing tanpa harus menghilangkan kearifan budaya lokal Sumenep sendiri. Masjid yang kerap menjadi jujukan para wisatawan ini masuk dalam kategori 10 masjid tertua di Indonesia. Arsitektir dari masjid ini adalah Lauw Piango yang merupakan keturunan asli Tiongkok.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di depan masjid ini, Sobat Ars akan takjub dengan bentuk gerbangnya. Point of interest dari masjid ini adalah arsitektur gerbang yang sangat bersejarah dan penuh makna. Pintu Masjid Jamik berbentuk gapura, berasal dari bahasa arab “ghafura” yang artinya tempat pengampunan. Gapura menjadi isyarat bahwa masjid ini mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari sang Panembahan kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah.

Baca juga :  Rumah Bergaya American, Pilihan Kaum Mapan
Source : travel.detik.com (Bagian samping Masjid Sumenep)

Di atas gapura kalian akan melihat ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya sepertiĀ  dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu di atasnya juga terdapat ornamen segi lima memanjang ke atas. Hal tersebut diibaratkan dengan manusia yang duduk dengan rapi menghadap arah kiblat dan dipisahkan oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mengisyaratkan bahwa apabila masuk atau keluar masjid harus memakai tatakrama. Di kanan-kiri gapura juga terdapat dua pintu berbentuk lengkung, keduanya diibaratkan dengan dua telinga manusia, yang memiliki arti agar para jamaah masjid bersikap bijak, tidak berbicara, dan mendengarkan saat adzan berkumandang. Di sekeliling gapura juga terdapat rantai, hal ini dimaksudkan agar kaum muslim harus menjaga ikatan ukuwah islamiyah agar tidak bercerai-berai.

Sebelum memasuki bangunan utama Masijd sendiri, kalian akan melewati serambi yang berukuran 22×51 meter. Bangunan serambi ini merupakan ruangan terbuka di ketiga sisinya, yakni sisi timur, utara, dan selatan. Di bangunan serambi ini terdapat sepuluh kolom yang berdiameter 90cm.

Bangunan utama masjid masih terjaga kelestariaanya. Dari sisi bangunan dan interior terawat dengan baik dan tidak ada perubahan. Hanya penambahan di sisi kanan, kiri, dan depan masjid yang merupakan perluasan bangunan untuk menambah daya tampung jamaah masjid. Sama halnya dengan mimbar masjid yang juga tidak mengalami perubahan sehingga keasliannya masih terjaga. Di atas mimbar juga terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Masjid ini memiliki bedug yang berusia cukup tua. Bedug tersebut digunakan pada zaman dulu sebagai penanda telah tiba waktu sholat.

Baca juga :  Rumah Mewah Kaya Histori di Kampung Kemasan

Selain itu, di bagian timur masjid terdapat sebuah menara yang megah. Menara ini dahulu difungsikan untuk mengumandangkan adzan. Tapi sekarang tidak karena ketinggian menara ini masih kalah dengan ketinggian bangunan utama masjid. Sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Jika dilihat dari sisi timur, menara ini tidak terlihat karena terhalang oleh bangunan utama masjid yang berada dalam satu garis lurus dengan menara.

Source : bobo.grid.id (Masjid Sumenep dan Gerbangnya)

Menurut data dari jurnal karya Adisti Yonita Widiatami, Bangunan masjid sendiri memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran 32,5×31 meter. Memiliki batur setinggi 40 cm di atas permukaan serambi depan. Keempat sisi bangunan ini dibatasi dengan dinding tembok yang tingginya 4,5 meter. Bangunan masjid didominasi oleh warna putih dan hijau. Memiliki pintu sebanyak sembilan buah, yakni lima buah pada sisi timur dan dua buah pada masing-masing sisi utara dan selatan. Pintu utama ditandakan dengan ukuran yang lebih besar dan terdapat ukiran pada atasnya. Pintu utama ini berornamen bunga matahari.

Masjid Jamik Sumenep berada di tengah kota sehingga cukup mudah untuk mengunjunginya. Bagi para wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kabupaten Sumenep tidak akan kesusahan karena tempatnya sangat trategis dan mudah ditemukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *