Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Lawang Sewu Semarang, Cikal Bakal Perkeretaapian Indonesia

Source : heritage.kai.id

Semarang memiliki banyak sekali peninggalan sejarah. Semarang menjadi saksi pertempuran dan bagaimana pribumi mempertahankan bangsa Indonesia. Salah satu peninggalan kolonial yang terkenal adalah Lawang Sewu. Dijuluki Lawang Sewu (pintu seribu) karena begitu banyak pintu dalam bangunan ini serta jendela-jendela yang besar. Namun Lawang Sewu tak hanya terkait dengan peristiwa pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945), lebih dari itu bangunan unik tersebut tak bisa lepas dari sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Dahulunya Lawang Sewu milik Naamlooze Vennootschap Nederlandsch Indische Spooweg Mastshappij (NIS), yang merupakan cikal bakal kereta api di Indonesia. Dalam jurnal yang berjudul Aspek Tropis Pada Bangunan Kolonial Lawang Sewu Semarang tertulis bahwa bangunan ini memiliki integritas arsitektur yang kuat, perpaduan antara pengaruh luar (indische) dengan keunikan lokal yang kental serta tanggap terhadap iklim dan lingkungan sekitar.

Masih dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa dari segi tampilan bangunannya, gedung Lawang Sewu menganut gaya Romanesque Reviral dengan ciri yang dominan yaitu memiliki elemen – elemen arsitektural berbentuk lengkung sederhana dan dirancang dengan pendekatan iklim tropis. Penyelesaian bangunan sudut dengan adanya dua fasad serta penggunaan menara pada Lawang Sewu sedikit banyak mengikuti bangunan di sudut kota – kota Eropa.

Lawang Sewu dirancang oleh Arsitek Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag pada 1903 silam. Kemudian Lawang Sewu dibangun 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam, dan kayu jati.

Source : arsminimalis

Proses perancangan Lawang Sewu ini dilakukan di Belanda, setelah itu gambar – gambar rancangannya dibawa ke Kota Semarang. Pada blue print Lawang Sewu, tertera bahwa  site plan dan denah bangunan ini dibuat di Amsterdam pada tahun 1903.

Baca juga :  Filosofi dari Rumah Adat Betawi Asli

Pembangunannya dilakukan dalam empat tahap. Gedung yang pertama dibangun adalah bagian belakang pada 1904 sebagai tempat percetakan tiket kereta api. Berikutnya adalah gedung utama yaitu dengan kaca patrinya yang indah pada 1905 – 1907. Gedung ini menjadi ruang direksi PT Kereta Api.

Arsitektur Lawang Sewu disesuaikan dengan kondisi cuaca di Indonesia yang selalu disinari matahari. Agar lantai satu selalu dingin, dibuatlah lorong bawah tanah yang digenangi air dan dilengkapi dengan lorong – lorong yaitu berfungsi sebagai ventilasi pada setiap ruangan di atasnya.  Desain atap dan langit-langit dibuat dengan perencanaan yang baik supaya dapat menyirkulasi udara panas keluar melalui ventilasi.

Bangunan utama Lawang Sewu terdiri atas tiga lantai yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri. Saat memasuki bangunan utama, kita akan menemukan tangga besar menuju lantai dua. Di antara tangga terdapat kaca besar yang menggambarkan dua wanita muda Belanda. Pada bangunan ini terlihat jelas bahwa struktur bangunan, pintu, dan jendela menggunakan gaya arsitektur Belanda.

Source : Kompas.com / Ridwan Aji Pitoko (Gedung utama yang tampak dari depan)

Kaca yang terbagi menjadi empat panel besar ini mencerminkan cerita eksploitasi besar – besaran hasil alam Nusantara saat masa penjajahan Belanda. Flora dan fauna kita diangkut kereta dan dikumpulkan di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa sebelum diperdagangkan di dunia, untuk memperkaya Belanda dan keluarga kerajaannya di bawah perlindungan Dewi Fortuna.

Di panel tengah-bawah berjajar Dewi Fortuna, si dewi keberuntungan yang berbaju merah, roda bersayap lambang kereta api, dan Dewi Sri, dewi kemakmuran suku Jawa. Panel di atasnya adalah tumbuhan dan hewan yang menggambarkan Nusantara sebagai negeri kaya akan hasil bumi berikut simbol kota-kota dagang Batavia, Surabaya, dan Semarang. Serta simbol kota-kota dagang Belanda, yakni Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag, berderet di panel kiri. Panel kanan menampilkan ratu-ratu Belanda.

Baca juga :  Makna Tanian Lanjheng pada Rumah Hunian Masyarakat Madura
Source : lostandwander1976.com (Kaca patri yang ada di Lawang Sewu)

Pihak NIS kemudian memperluas pembangunan di atas lahan tersebut karena gedung A atau gedung utama dirasa sudah tidak memadai lagi. Maka dari itu, dibangunlah gedung B yang berada di sisi timur laut.

Gedung B dibangun tahun 1916 dan selesai pada 1918 dengan ukuran 23 meter × 77 meter. Gedung ini memiliki gaya arsitektur yang sama dengan gedung utama, tapi berbeda dari segi konstruksinya. Gedung B menggunakan konstruksi beton bertulang sehingga dnding batu bata tidak memikul beban. Sedangkan bangunan utama menggunakan sistem bearing wall atau struktur dinding memikul.

Selain karena kemajuan teknologi, konstruksi beton bertulang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal. PIhak NIS merasa kesulitan apabila harus terus mengimpor bahan bangunan.

Lawang Sewu juga memiliki ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara pada zaman penjajahan Jepang. Penjaranya sendiri terdiri dari dua macam, yaitu penjara duduk dan berdiri. Penjara duduk memiliki tinggi hanya 1 meter. Sedangkan penjara berdiri sangat sempit dan hanya bisa diisi oleh satu orang saja.

Source : flickr.com (Lorong bawah tanah yang ada di Lawang Sewu Semarang)

Pada awal 2012 bangunan utama Lawang Sewu sudah selesai direnovasi dan bangunan di belakangnya kini dijadikan museum kecil untuk menceritakan sejarah NIS. Lawang Sewu berdiri di atas lahan seluas 18.232 meter persegi berlokasi di Simpang Lima Semarang, berdiri berdampingan dengan bangunan – bangunan lama yakni Gereja Katedral Belanda, Museum Mandala Bhakti (dahulunya Pengadilan Hindia Belanda), dan Wisma Perdamaian (dahulu kantor residen). Di tengah – tengah adalah Wilheminaplein (Taman Wilhelmina) tempat berdirinya Tugu Muda.

2 pemikiran pada “Lawang Sewu Semarang, Cikal Bakal Perkeretaapian Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *