Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Bangunan Penuh Sejarah di Ujung Pulau Madura

Source : portalmadura.com (Gerbang Keraton Sumenep )

Madura tak hanya dikenal sebagai pulau penghasil garam. Madura juga memiliki bangunan bersejarah berupa keraton layaknya Yogyakarta dan Solo. Bangunan tersebut terletak di Kabupaten Sumenep, kabupaten paling ujung dari pulau Madura.  Keraton ini sempat dipimpin 35 raja. Namun dalam sejarah keraton Sumenep, yang diangkat kepermukaan hanyalah cerita sebagian raja yang mempunyai popularitas tinggi semasa pemerintahannya dan sebagian ada peninggalan yang terselamatkan. Salah satunya, Raja Arya Wiraja dilantik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269, yang sekaligus bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Nah untuk ulasan ini, kami tidak banyak berbicara tentang sejarah masa pemerintahan raja-raja Sumenep. Kami akan mengulas seputar bentuk bangunan dari keraton tersebut. Menurut data dari jurnal karya Nunuk Giari Murwandani, Keraton Sumenep dirancang oleh Arsitek Lauw Pia Ngo dari Negeri Cina. Dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, maka warisan budaya tersebut tidak luput dari pengaruh budaya Jawa, Hindu, Islam, Cina, dan Belanda. Pendopo Keraton ternyata memiliki bentuk bangunan Jawa. Bentuk hiasan penutup atap dan pengukiran atap dengan top gevel (gunung-gunung), keramik, porselin dari Cina, ukiran bentuk Naga, dan burung phoenix merupakan pengaruh kebudayaan Cina.

Bangunan ini juga mirip dengan konsepsi ruang pada bangunan Kolonial Belanda yang banyak terlihat di Batavia dan kota-kota besar di Jawa yang disebut sebagai “landhuise“, yakni bentuk arsitektur Belanda yang sudah disesuaikan dengan iklim di Indonesia. Bentuk-bentuk elemen bangunan seperti kolom banyak dibuat dengan gaya arsitektur Belanda (Yunani). Bentuk-bentuk rumah tinggal Landhuise kini peninggalannya dapat dilihat pada beberapa rumah kaum bangsawan pedagang Arab dan Pakistan di daerah Kepanjen dan lain-lain.

Baca juga :  Lawang Sewu Semarang, Cikal Bakal Perkeretaapian Indonesia
Source : seputarwisata.com (Ruang Sidang)

Wujud alkuturasi budaya asing yang masuk ke Kraton Sumenep dapat dilihat juga pada lambang Kraton Sumenep, yakni pengaruh Belanda. Terdapat  mahkota yang lengkap dengan tanda salip di atasnya, Cina dengan lambang naga terbang, serta Madura (Islam) dengan lambang kuda terbang. Terdapat juga lambang salib (Katolik) di bagian puncak. Untuk pola hiasnya juga nampak dari beberapa pola Jawa, Islam, dan Cina yang dipadu cukup menarik. Bentuk arsitektur Keraton Sumenep, menunjukkan wujud adanya akulturasi antara budaya Madura, Cina, dan Belanda.

Ornamen Keraton Sumenep dipenuhi dengan warna-warna tertentu seperti merah dan kuning. Hal lainnya nampak dari ragam bentuk hiasan hewan seperti naga. Untuk memulai wisata historis di Keraton Sumenep, bisa masuk dari sisi selatan keraton. Di sini, terdapat daftar nama-nama raja dan bupati Sumenep, mulai dari masa kepemimpinan Arya Wiraradja (1269-1292) hingga Tumenggung Tirtonegoro (1750-1762) dan bupati Sumenep saat ini. Di sana juga ada kereta kencana berusia 1.000 tahun milik Arya Wiraradja. Ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan. Alasannya karena untuk menjaga kesucian dan kesakralan tempat tersebut.

Source : traveldetik.com (Kereta Kuda)

Ruangan yang diyakini menjadi tempat tidur raja dikunci rapat. Kita hanya bisa melihat dari jendela kaca. Dari jendela itu, bisa melihat sebuah tempat tidur mewah yang diapit oleh dua lemari di sisi kiri dan kanannya. Keraton Sumenep juga menyimpan Prasasti Keraton Sumenep, wasiat Panembahan Somala. Isi prasasti ini menjelaskan tentang kompleks bangunan yang dibangun di atas tanah wakaf Pangeran Natakusuma Adipati Sumenep. Artinya, tanah serta bangunan keraton tidak dapat dirusak atau wariskan. Keraton Sumenep juga merupakan titik penting dalam pembangunan Kota Sumenep. Menurut sejarah, konsep dasar pembangunan dan tata Kota Sumenep berdasarkan ajaran Islam yang berbunyi “Hablum minnallah wa hablum minannas”  artinya, “berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan manusia”. Di sisi barat, melambangkan Tuhan yaitu dengan adanya Masjid Jamik Sumenep. Di sisi timur melambangkan hubungan dengan manusia yaitu dengan adanya Keraton Sumenep.

Baca juga :  Mana Lebih Baik, Bata Merah atau Batako?

Namun demikian, kebanyakan benda bersejarah yang ada di dalam museum itu adalah peninggalan Sultan Abd Rachman, cucu Bindara Saod yang memimpin di abad ke-18, mulai tahun 1811-1854. Di antaranya ada Al-Qur’an yang ditulis dalam semalam oleh Sultan Abd Rachman dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Sultan Abd Rachman juga pernah menerjemahkan bahasa sanksekerta, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Source : Traveldetik.com (Taman Sare)

Terakhir wisatawan diarahkan ke Taman Sare. Biasanya, wisatawan cuci muka di taman yang disebut sebagai tempat pemandian Potre Koning itu. Diyakini, air yang terdapat di kolam itu bisa membuat awet muda dan didekatkan dengan jodoh.

Source : arsminimalis

Satu pemikiran pada “Bangunan Penuh Sejarah di Ujung Pulau Madura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *