BiografiSemua Artikel

Han Awal, Arsitek Andal Perihal Karya Kekal

Source : indesignlive.co.id (Han Awal, Arsitek lokal terkenal di Indonesia)

Usai membaca artikel Pendekar Arsitektur Nusantara yang Tiada Tara, kita tahu bahwa salah satu latar belakang Yori Antar pindah jurusan adalah karena lingkungannya memang diisi dengan dunia Arsitek. Ayahnya, Han Awal, seorang Arsitek yang kerap kali mengajak Yori berkeliling sekedar untuk melihat proyeknya. Bak buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ayah dan anak ini menjadi dua Arsitek ternama di Indonesia.

Han Awal terlahir dengan nama Han Hoo Tjhwan. Tepatnya pada tanggal 16 September 1930 di Malang. Di usia 85 tahun, pukul 15.30 WIB tanggal 14 Mei 2016, Arsitek ini wafat. Han Awal tidak pernah sakit parah sampai kritis, keluhannya hanya mengenai jantung. Dikutip dari Tempo, Yori mengungkapkan kondisi ayahnya. “Dari segi kesehatan, sehat sekali. Cuma ayah keluhannya di jantung,” ucapnya. Yori juga memberi tahu bahwa beberapa hari sebelum meninggal, Han Awal sempat dibawa ke rumah sakit lantaran mengalami penurunan trombosit. Ia mengira ayahnya terkena demam berdarah, tetapi usai diperiksa, dokter menyatakan bahwa baik-baik saja.

Kali ini mari mengenang perjalanan Han Awal serta karya-karyanya. Setelah Han Awal lulus SMA di tahun 1950, ia memiliki keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun sayang, saat itu ITB masih belum memiliki prgram studi Arsitektur. Untungnya saat itu ada brosur program pendidikan ahli bangunan di Technische Hoogeschool di Delft, Belanda. Dengan beasiswa dari Keuskupan Malang, ia pun menjalani kuliah di sana. Di akhir tahun 1956, hubungan Indonesia dan Belanda mulai tegang dikarenakan sengketa Papua. Pendidikan Han pun dilanjutkan di Jerman. Technische Universitat, Berlin Barat menjadi pilihan Han untuk mengenyam ilmu Arsitektur.

“Di Belanda, saya banyak belajar arsitektur dari segi teknis. Mungkin karena negerinya kecil, para Arsitek Belanda sangat mementingkan presisi. Perbedaan ukuran sesentimeter saja bisa dipersoalkan. Baru di Jerman saya mendapat pengetahuan tentang konsep-konep besar arsitektur,” jelas Han Awal kala itu pada tim Tokoh.id.

Baca juga :  Liem Bwan Tjie, Sang Ahli Faktor Iklim
Source : casaindonesia.com (Han Awal yang selalu menimba ilmu meskipun sudah berbekal banyak sekali pengetahuan mengenai arsitektur)

Han Awal merasakan perbedaan yang signifikan saat belajar di dua negara tersebut. Belanda yang merupakan kota kecil menjadikan tempatnya ‘pelit’ tanah, bahan, juga biaya. Hal itu membuat Arsitek harus berpikir untuk memanfaatkan setiap sentimeter pada ruangan. Berbeda dengan Jerman yang mengajarkan konsep-konsep besar arsitektur. Selain perbedaan, ada pula kesamaannya. Belanda, Jerman, maupun Eropa mengalami perkembangan arsitektur modern yang memanfaatkan bahan industri seperti baja, kaca, dan beton. Dampak revolusi industri menyebabkan adanya perkembangan pengertian sosial dalam arsitektur. Banyaknya penduduk dan lahan semakin terbatas membuat dunia arsitektur tertantang dengan adanya problematika rumit yang harus dijawab.

Han Awal memang memulai ilmu tentang arsitektur di Belanda yang sangat kaku dan banyak batasan lalu pindah ke Jerman pada masa modernisme berkembang, jelas Suryono Herlambang, salah satu Arsitek yang terlibat untuk penulisan buku Nyala Nirmana (72 tahun Han Awal). Di Belanda juga ia bertemu dengan teman-temannya yang berpengaruh dalam pencarian jati diri seorang Han Awal sebagai Arsitek.

Usai kembali ke Indonesia di tahun 1960, Han Awal datang ke Keuskupan Agung di Malang yang kala itu memberikannya beasiswa. Waktu itu ia menerima beasiswa dengan syarat saat kembali usai lulus, Han Awal harus mengajar di Sekolah Katolik, Dempo. Namun setelah melihat kembali perjalanan selama kuliah, Han Awal malah diminta untuk menjalankan profesinya sebagai Arsitek saja.

Source : casaindonesia.com (Han Awal menjalani sebagian besar hidupnya sebagai Arsitek)

Dituliskan dalam Indesignlive.co.id sejak tahun 1965 hingga 2000, Han Awal menjadi dosen luar biasa di Universitas Indonesia. Han Awal juga pernah mengajar di Unika Soegijapranata Semarang dan Universitas Merdeka Malang sampai tahun 2004.

Han Awal dikenal dengan rancangannya yang mengutamakan kesederhanaan. Contoh kesederhaan itu pada dinding dan langit-langit bangunan yang dibiarkan ‘telanjang’. Indonesia yang memiliki iklim tropis juga menjadi acuan utamanya dalam merancang sebuah bangunan. Misal dengan memakai sirkulasi udara silang agar udara dapat keluar-masuk bergantian dan tidak diperlukannya pendingin ruangan apabila sudah menggunakan konsep tersebut.

Baca juga :  Muhammad Egha, Sosok Arsitek Muda Berharga Milik Indonesia

Pria kelahiran tahun 1930 ini biasa diketahui sebagai Arsitek konservasi. Konservasi memiliki arti pemeliharaan atau perlindungan secara teratur atau berkala guna mencegah kerusakan dengan melakukan pelestarian. Han Awal memang banyak mengonservasi sebuah bangunan. Dengan mempercantik kembali bangunan lama itu dianggap sebagai seni. “Bagaimana menjadikan yang tidak ada menjadi ada. Konservasi bangunan bersejarah kadang tidak terlihat sebagai sesuatu yang penting. Padahal Indonesia kaya akan bangunan tua peninggalan zaman kolonial yang jika dirawat akan menjadi bangunan yang sangat indah,” tutur Han Awal pada Radarbangka.

Source : casaindonesia.com (Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia yang dikonservasi oleh Han Awal)

Salah satu karyanya dalam merestorasi bangunan adalah Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia. Han mengerjakan konservasi gedung ini bersama Arsitek Belanda Cor Passchier dan Arsitek lulusan Inggris Budi Lim. Pestasi pun diraih. Bangunan Gedung Arsip Nasional ini mendapat penghargaan International Award of Excellence Unesco Asia Pacific Heritage.

Selain itu, Han Awal juga melestarikan bangunan lain. Seperti Gereja Katedral Jakarta di Lapangan Banteng, gedung Bank Indonesia Jakarta Kota, juga Gereja Immanuel. Karya lainnya yaitu kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan gedung Sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru. Han juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan Gedung Conefo 1964-1972 yang kemudian berganti nama menjadi Gedung DPR-MPR.

Bagi Han Awal, karya arsitektur menjadi cerminan masyarakat di setiap zaman. Maka seorang Arsitek harus paham betul tiga poin utama sebelum berkarya, yaitu masa lalu, sekarang, dan depan. Masa lalu berhubungan dengan sejarah yang tidak boleh dilupakan. Masa sekarang ada kaitannya dengan pengaruh dari segala hal baik dalam maupun luar negeri yang sedang terjadi. Lalu masa depan berkaitan dengan bagaimana Arsitek berkewajiban untuk menghasilkan bangunan yang mampu bertahan selama mungkin dan tidak ketinggalan zaman.

Sosoknya yang telah pergi tak akan membuat ilmunya angkat kaki. Jadikan pengetahuan dari Han Awal sebagai bahan pembelajaran. Jangan berhenti mencari pendidikan agar senantiasa memiliki keterampilan untuk dibagikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *