ReviewSemua Artikel

Saksi Bisu Sang Raja Teh, Rumah Bosscha

Source : instagram @lisatandianoe

Apakah kamu menyukai bangunan heritage ala kolonial Belanda? Jika iya, Arsminimalis akan menyarankan kamu untuk pergi ke Bandung. Lebih tepatnya berada di Desa Banjar Sari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pemilik tanah bangunan ini berada adalah PTPN VIII, yang dikelola oleh PT. Agro Wisata N8. Di sana kamu akan melihat pemandang kebun teh yang terbentang luas.

Namun di tengah – tengah perkebunan hijau itu kamu akan menemukan rumah yang sangat mencolok dari yang lainnya. Rumah tersebut dimiliki oleh orang yang mendirikan perkebunan teh. Rumah ini milik Karel Alber Rudolf Bosscha. Ya, mungkin kamu sudah tidak asing dengan Bosscha. Observasi Bosscha atau Rumah Teropong Bintang Bosscha yang ada di Lembang, Bandung juga hasil tangan dari K.A.R Bosscha.

Rumah ini dibangun saat tahun 1896. Dengan mengadopsi arsitektur Eropa, rumah ini ditandai dengan tegaknya cerobong asap dari tungku bakar yang berada di ruang tengah rumah Bosscha. Melalui batuan alam warna hitam pada dinding luar rumah ini trelihat kokoh. Batuan alam dipilih agar dinding mudah dibersihkan dari percikan air hujan yang jatuh dan tercampur oleh tanah yang ada di bawahnya. Tanaman dengan ukuran yang beragam di sekitar kediaman turut memberi kesan asri bangunan persegi ini.

Bagian atapnya berbentuk segitiga yang mengadaptasi atap rumah tradsional sekitar. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.

Pintunya pun terbuat dari kayu yang sangat kokoh dan di atasnya terpahat tahun didirikannya rumah tersebut. Di sekitar pintunya juga terdapat susunan batu bata merah yang mengikuti bentuk pintu. Pintu tersebut berbentuk segi empat dengan sedikit lengkungan di atasnya, khas pintu Belanda.

Baca juga :  Beberapa Macam Rumah Adat dari Sulawesi Tenggara

Namun pintu tadi bukanlah pintu utamanya. Pintu utama berada di seberang yang berada persis di depan halaman berumput hijau yang luas dengan bentuk pintu geser.

Ketika kamu memasuki rumah, suasana akan berbeda daripada di luar yang cukup dingin. Di dalam rumah ini kamu akan merasakan kehangatan dan vibe zaman dulu. Terpampang foto hitam – putih di atas dinding menuju ruang tengah dengan ciri pria gemuk, berkumis dengan senyum simpul, dialah pemilik rumah ini, Bosscha. Di sebelah kiri pintu masuk, terdapat meja yang cukup panjang untuk informasi.

Source : Liputan6.com (Ruang depan setelah pintu masuk rumah Bosscha dan meja informasi)

Pengelola rumah yang saat ini dijadikan cagar budaya bernama Museum Rumah Bosscha benar – benar memperhatikan isi ruangan. Sejumlah furnitur dari abad 18 dan 19 masih terawatt dengan baik. Mulai dari sofa, meja makan, kursi kayu, serta lampu yang selaras dengan suasana jadul.

Plafon Rumah Bosscha tidak seperti kebanyakan rumah Eropa lainnya. Biasanya rumah Eropa memiliki langit – langit yang tinggi antara plafon dan lantainya. Rumah ini beratap rendah yakni sekitar 2,5 – 3 meter. Tujuannya agar rumah ini terasa hangat meski diluar udara cukup dingin khas daerah pegunungan.

Di ruang tengah terdapat meja dan kursi yang menghadap ke tungku perapian dengan ornament batu bata merah di sekitarnya. Jika kamu duduk di kursi ini, kamu bisa membayangkan bagaimana hangatnya dulu tempat ini meski suhu udara di luar sangat dingin.

Source : ptpn8.co.id (Ruang keluarga dengan tungku perapian)

Beralih ke ruangan selanjutnya terdapat piano yang dapat menarik perhatian di ruangan tersebut. Piano Zeitter & Winkelmann buatan 1837 yang masih berfungsi dengan baik tapi hanya ada satu tuts yang tidak berfungsi. Namun dilihat dari umur piano, ini adalah salah satu yang luar biasa. Pengelola benar – benar merawat segalanya dengan baik. Selain itu, ada kursi dan meja yang juga tak kalah antiknya. Ada kursi panjang berada di bawah jendela kaca yang sangat besar dengan beberapa furnitur seperti lampu berdiri dengan tudung motif bunga – bunga yang menggambarkan Eropa.

Baca juga :  Ketika Bangunan Menjadi Sebuah Buku Kebudayaan
Source : komunitasaleut.com (Ruang keluarga Rumah Bosscha)

Ruangan privasi dari pemilik rumah yakni kamar Meneer Bosscha. Terdapat tempat tidur berukuran besar dan kursi di dekat jendela. Kesan vintage sangat terasa di kamar ini. Kamu juga akan menemukan ruang makan dengan pemandangan hijau di luar. Selain terdapat meja makan, di dalam ruangan ini ada jendela besar yang bisa menyejukkan mata kamu.

Source : komunitasaleut.com (Ruang makan di Rumah Bosscha)

Staf keamanan Rumah Bosscha, Ujang, menuturkan atap rumah ini pernah roboh karena kejadian gempa beberapa tahun lalu. Meski begitu, bangunan tidak mengalami kerusakan berarti.

Sama seperti kebanyakan bangunan Eropa lainnya, Rumah Bosscha memiliki ruang bawah tanah yang dulunya adalah tempat berlindung. Di dalam ruang bawah tanah terdapat kursi dan meja billiard. Saat ini fungsinya untuk penyimpanan barang. “Dulunya masih berfungsi sebagai tempat evakuasi gempa. Sekarang tempatnya dipakai menyimpan beberapa barang yang sudah tak terpakai,” kata Ujang pada liputan6.com.

Source : komunitasaleut.com (Ruang bawah tanah yang saat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan)

Sampai saat ini Raja Teh dari Malabar tetap disanjung atas kebaikannya dalam membangun dan mensejahterakan masyarakat sekitar. Jika kamu ingin mengenang dan ingin merasakan kedermawanan Theeplanter ini, kamu bisa berkunjung ke kediamannya di Rumah Bosscha sambil menikmati indahnya perkebunan teh serta sejuknya daerah pegunungan. Tetap lestarikan Rumah Bosscha dan teruskan semangat Bosscha!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *