Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Mengulik Candi Prambanan yang Menawan

Source : shutterstock/Windu Dolan

Pernah mendengar atau membaca legenda Roro Jonggrang? Kisah yang menceritakan perjuangan seorang lelaki bernama Bandung Bondowoso membangun seribu candi untuk mendapatkan hati seorang wanita bernama Roro Jonggrang.

Candi dalam legenda tersebut sekarang dikenal dengan Prambanan. Candi Prambanan sendiri merupakan salah satu candi hindu terbesar di Indonesia. Bangunan setinggi 47 meter ini berlokasi di Desa Prambanan, yang wilayahnya terbagi antara 2 kabupaten yaitu Sleman dan Klaten. Letak berdirinya tepat berada di atas perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Sejarah awal berdirinya Candi Prambanan adalah diprakarsarai oleh Rakai Pikatan pada abad ke-9 yang ingin membuat candi untuk menandingi Candi Buddha Borobudur dan Candi Sewu yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi Prambanan. Dari jurnal karya Muhammad Diki Aldiansyah yang berjudul “Keunikan Sejarah Candi Prambanan Yogyakarta” disebutkan bahwa candi ini dibangun sekitar abad ke-850 Masehi oleh Rakai Pikatan, lalu kemudian disempurnakan oleh Raja Lokapala, Raja Balitung Maha Sambu, dan beberapa Raja Medang Mataram.

Source : kekunaan.blogspot.com (Prasasti Siwagrha yang mengandung banyak informasi mengenai Candi Prambanan)

Dalam Prasasti Siwagrha disebutkan bahwa Candi Prambanan memiliki nama asli dalam bahasa sanskerta yaitu Siwagrha yang artinya Rumah Siwa. Di mana pada Prasasti Siwagrha tertulis bahwa candi ini dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa. Selain sebagai candi pemujaan, Candi Prambanan juga digunakan sebagai Candi Pendharmaan, yaitu tempat untuk memuliakan arwah para raja dan tokoh penting yang telah meninggal. Lalu yang terakhir sebagai Candi Stupa, yaitu tempat ziarah agama Buddha. Walaupun dikhususkan untuk memuliakan Dewa Siwa, akan tetapi pembangunan candi ini dipersembahkan untuk Trimurti yaitu tiga dewa utama masyarakat Buddha yaitu dewa pencipta Brahma, dewa pemelihara Wishnu, dan dewa pemusnah Siwa.

Baca juga :  Berkunjung ke Masjid Cheng Ho dan Menengok Keindahan Arsitektur yang Melambangkan Perbedaan

Dari segi arsitektur, Candi Prambanan bisa dikatakan memiliki nilai esensi tersendiri dan cukup berbeda dari candi kebanyakan. Diperkirakan sebanyak 240 candi yang ada pada kompleks Prambanan, baik itu candi besar atau kecil. Penelitian karya I Nyoman Widya Paramadhyaksa dan kawan kawannya menyebutkan bahwa ke-240 candi yang ada ini dibagi menjadi tiga tingkatan atau disebut dengan Tri Loka.

Tingkat pertama disebut Bhurloka yang terletak di kaki candi. Pada tingkat ini merupakan bagian di mana manusia dan makhluk duniawi lainnya hidup. Lalu kemudian ada Bhuwarloka atau Bvarloka sebagai alam tengah yang merupakan tempat bagi orang – orang suci, resi, pertapa, dan dewata. Kemudian tingkatan terkahir adalah Svarloka atau Swargaloka yang merupakan tempat tertinggi dan tersuci pada Candi Prambanan. Pada tingkatan ini dipercaya sebagai tempat para dewa bersemayam.

Source : Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo (Penampakan beberapa candi yang telah runtuh akibat gempa)

Sebenarnya jumlah candi yang ada pada kompleks Prambanan lebih banyak dari 240, seperti julukannya yaitu seribu candi. Tetapi ketika ada gempa yang menerjang daerah Yogyakarta dan sekitarnya pada abad ke-16 membuat banyak candi – candi mengalami kerusakan dan runtuh.

Baca juga :  Menara Siger yang Unik dan Estetik Kebanggan Lampung

Selain banyaknya candi yang ada pada Prambanan, bermacam – macam patung, Arca, dan relief menghiasi setiap candi yang ada di Prambanan. Salah satu yang terkenal adalah relief cerita dari Ramayana. Dalam relief ini diceritakan semua perjalanan dari Rama. Mulai dari kelahiran Rama, penculiakan sang istri Rama yaitu Sinta. Lalu kisah penyelamatan Sinta oleh Hanoman, pertemuan kembali Rama dengan Sinta, hingga penyerahan tahta Rama kepada anaknya. Semua relief kisah Ramayana ini terukir pada dinding sebelah dalam pagar sepanjang lorong galeri yang mengelilingi candi utama.

Source : candiprambanann.wordpress.com (Relief Ramayana yang terdapat di Candi Prambanan)

Selain gaya arsitektur Candi Prambanan yang berpedoman pada tradisi arsitektur Hindu, bentuk Candi Prambanan ternyata mengikuti bentuk dari gunung Mahameru yang pada kepercayaan masyarakat Hindu sebagai tempat para Dewa.

Saat ini Candi Prambanan masuk sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO. Walaupun sudah mendapatkan perawatan yang maksimal, tak jarang para pengunjung Candi Prambanan lah yang merusak. Padahal bukan hanya pemerintah saja yang harus menjaga situs peninggalan bersejarah ini, kita sebagai pengunjung terlebih lagi masyarakat Indonesia harus senantiasa juga menjaga dan menghargainya. Jangan sampai Candi Prambanan yang sudah menawan justru kita rusak dan menjadi tidak rupawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *