BiografiSemua Artikel

Ahmad Djuhara, Arsitek Rumah Baja

Source : archdaily.com

Hasil karya arsitektur yang indah dan menarik tak lepas dari pemikiran seorang yang berjasa di belakangnya. Para arsitek merancang dan mengonsepkan hunian maupun bangunan yang nantinya bisa digunakan serta memiliki keindahan. Begitulah yang dilakukan oleh salah satu Arsitek Indonesia, Ahmad Djuhara.

Dikutip dari artikel jurnal karya Han Nanda Ladita Hapsari, Ahmad Djuhara adalah seorang arsitek kelahiran Jakarta, 22 November 1966. Beliau lulusan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) tahun 1991. Ahmad Djuhara aktif dalam berbagai organisai arsitek sejak dahulu, salah satunya adalah Arsitek Muda Indonesia (AMI) pada tahun 1992. Saat ini, Ahmad Djuhara bersama istrinya Wendy Djuhara memiliki perusahaan konsultan arsitektur Djuhara+Djuhara.

Beberapa penghargaan diperoleh melalui karyanya adalah IAI Award untuk Sugiharto Steel House pada tahun 2002 (kategori pujian) dan untuk Wisnu & Ndari House di tahun 2008 (kategori desain terbaik), keduanya dibangun di Bekasi. Ahmad Djuhara terlibat dalam modern Asian Architecture Network (mAAN) dan diangkat menjadi Wakil Koordinator mAAN ini Indonesia pada tahun 2005. Ahmad Djuhara pernah menjabat sebagai Ketua pasal di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) daerah Jakarta pada periode 2006-2009, dan saat ini menjabat ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional periode 2015-2018.

Source : dsgntalk.com (Wendy Djuhara, istri dari Ahmad Djuhara yang ikut mendirikan Djuhara + Djuhara)

Menjabat sebagai ketuai IAI Nasional, Djuhara ikut berperan langsung dalam disahkannya UU No. 6 Tahun 2017 atau UU Arsitek. Ahmad Djuhara juga aktif sebagai pembicara di bidang arsitektur, pameran, dan publikasi atau penerbit buku. Kepedulian Ahmad Djuhara dengan profesi arsitek di Indonesia menjadi salah satu hal menarik dari sosoknya selain beragam karya arsitekturnya.

Salah satu karya yang terkenal dari Djuhara adalah Steel House yang dimiliki oleh Bapak Sugiharto yang berlokasi di Pondok Gede, Jakarta dengan total luas lahan 117 m². Steel House merupakan karya pertamanya setelah ia mendirikan Djuhara + Djuhara. Rumah tinggal ini memiliki fasad yang berbeda dari bentuk rumah pada umumnya. Kulit bangunan biasanya ditutup dengan rata dan indah tetapi pada rumah ini justru ditutupi dengan lembaran baja yang memiliki tekstur keras. Material tersebut dipilih karena disesuaikan dengan budget dari pemilik rumah, sehingga Arsitek terpikir untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Karena itulah rumah ini identik dengan kesan pabrik atau industrial.

Baca juga :  Yu Sing Cetuskan Jasa Arsitek Minim Anggaran
Source : Instgram @djuhara.djuhara (Sugiharto Steel House merupakan hasil tangan Djuhara)

Padahal material baja dikenal dengan harganya yang cukup mahal, tetapi menurut pemikiran Ahmad Djuhara dengan penggunaan material tersebut penghematan biaya terjadi pada penggunaan waktu dan tenaga. Hal tersebut dikarenakan material baja mudah dirakit sehingga pekerja konstruksi hanya butuh waktu singkat untuk membuat struktur baja berdiri. Dengan upaya agar upah tenaga kerja konstruksi dapat ditekan dibandingkan melalukan pekerjaan konvensional.

Hasil karya yang mendapat penghargaan yang sudah disebutkan tadi adalah rumah milik
Wisnu. Dalam jurnal karya Rahmatika Apriyanti dan M. Ridha Alhamdani menyebutkan rumah milik Nugroho Wisnu ini merupakan salah satu karya dari Djuhara. Wisnu menggandeng Djuhara untuk merenovasi rumahnya. Ia sangat tertarik dengan karya Djuhara yang Rumah Baja Sugiharto. Desain dan penerapan metode di Rumah Wisnu tidak banyak berbeda dengan Rumah Baja Sugiharto. Dapat dikatakan, Rumah Wisnu merupakan versi lebih baik dari Rumah Baja Sugiharto. Penerapan biaya murah tetap digunakan. Hingga kini, rumah baja tersebut masih berdiri dan kerap dijadikan kajian studi mahasiswa arsitektur dan arsitek pemula.

Baca juga :  Buah Tangan Bangunan Penting di Indonesia dari Soejoedi Wirjoatmodjo
Source :archdaily.com (Hasil karya Djuhara yaitu Wisnu Steel House)

Perbedaan terletak pada tidak digunakan material kayu seperti pada Rumah Baja Sugiharto. Alasan khusus tidak digunakannya material kayu adalah karena tujuan renovasi di awal adalah karena banyak rayap pada rumah Wisnu. Oleh sebab itu, penggunaan kayu sangat diminimalisir pada rumah Wisnu ini. Apresiasi terhadap rumah ini tidak kalah besar dengan Rumah Sugiharto. Salah satunya adalah dengan memenangkan penghargaan desain terbaik oleh IAI Award di tahun 2008.

Selain penghargaan tadi, beliau juga pernah diminta untuk menjadi technical reviewer untuk sejumlah ajang penghargaan seperti PAM Awards 2011 Overseas – House at Kebayoran Baru dan Overseas – House at Pondok Indah. Kemudian, Aga Khan Award for Architeture Cycle 2013 Museum of Handcraft Paper di Yunnan, China, serta Aga Khan Award for Architeture Cycle 2016 Hutong Children’s Library and Art Centre di Beijing, China. Djuhara dikenal aktif mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa pameran yang pernah ia ikuti adalah Pameran Karya Arsitek Muda Indonesia di Staad Huis, Den Haag, Belanda, d’Form, desain produk Indonesia (2005). Lalu Servants Right to Space pada International Architecture Biennale Rotterdam (2005), dan Indonesia Architects Week di Tokyo, Jepang (2011).

Namun berita menyedihkan, dikutip dari suara.com Ahmad Djuhara meninggal dengan status pasien dalam pengawasan atau PDP Covid-19. Djuhara meninggal dunia di Rumah Sakit Penyakit Khusus Infejsi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, pada tanggal 27 Maret 2020. Meski Ahmad Djuhara sudah tenang, tapi karyanya akan tetap bisa kita nikmati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *