BiografiSemua Artikel

Perjalanan Seorang Pastur yang Mahir Dunia Arsitektur

Source : jogjasiana.com (Mangun Romo)

Sosok intelektual yang akrab disapa Romo Mangun, memiliki nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Lahir di Ambarawa 6 Mei 1926. Beliau merupakan anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami-istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Bilyarta adalah nama kecilnya sedangkan nama Yusuf di depan Bilyarta adalah nama permandian atau nama baptis. Sementara Mangunwijaya diambil dari nama kakeknya.

Semasa kecil, ayahnya diangkat anak oleh pakde ayahnya sendiri yang menjabat sebagai lurah desa di daerah Parakan, Jawa Tengah. Pengangkatan ayahnya sebagai anak lurah ini, turut membentuk sejarah hidup Mangunwijaya. Sebab berkat pengangkatan ayahnya sangat memungkinkan untuk Mangunwijaya mengenyam pendidikan. Pada zaman kolonial Belanda, sekolah memang hanya diperuntukan bagi keturunan Belanda dan priyayi pribumi.

Sejak kecil Mangun sudah menunjukkan talenta pada bidang ilmu-ilmu pasti alam dan teknik. Hal ini yang menyebabkan beliau melanjutkan di Sekolah Teknik (ST) di Semarang seusai lulus dari Sekolah Dasar. Tak hanya itu, menurutnya lulusan ST jaman dahulu lebih bermutu dibandingkan dengan lulusan sekolah lainnya. Saat duduk di ST inilah kecerdasan Mangun mulai terlihat. Beberapa kali dia selalu mendapat juara satu atau dua di kelas. Selain itu pengaruh bacaan buku-buku sejarah dan filsafat milik ayahnya tentang Aristoteles, Plato, Socrates makin menambah wawasan dan kecerdasan pikirannya. Saat terlalu asyik membaca buku-buku dari ayahnya, Mangun juga ingin mendalami ilmu-ilmu filsafat dan sastra.

Sayangnya Jepang datang, dunia pendidikan mengalami perubahan drastis. Selain karena gangguan perang, yang membuat proses pendidikan tersendat adalah sistem pendidikan mengalami perubahan. Menurutnya, sistem pendidikan Belanda yang lebih menekankan pada olah pikir dan pengenalan berbagai budaya diganti dengan sistem Jepang yang lebih berorientasi pada olahraga dan perang. Pada tahun 1945-1951, Mangun muda beserta sejumlah pemuda lain ikut mendaftarkan diri menjadi tentara dan bergabung dengan TKR Batalyon X Devisi III Yogyakarta, Komisi Zeni, pimpinan Mayor Soeharto. Selama di TKR, Mangun sempat terlibat dalam pertempuran di Magelang, Ambarawa, dan Semarang.

Baca juga :  Jangan Sampai Kudet, Ini Dia Jenis-jenis Karpet

Tidak lama kemudian perang usai dan Mangun ingin melanjutkan sekolahnya. Akhirnya ada tawaran dari Uskup Malang untuk sekolah di sana. Di sana Mangun muda sempat aktif di organisasi Pemuda. Mangun muda juga pernah mewakili organisasinya untuk mengikuti perayaan besar-besaran atas menangnya RI melawan Belanda. Tahun 1959-1960 ia mendapat tugas untuk belajar Arsitektur ke ITB. Kemudian meneruskan di Sekolah Tinggi Rheinisch-Westfaelische Techmische Hochchule, Aanchen, Jerman Barat (1960-1966). Di sini ia kenal akrab dengan B. J. Habibie dan Wardiman Djojonegoro. Selain mempelajari ilmu-ilmu teknik, ia juga mulai mendalami pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial, kebudayaan, dan filsafat. Tahun 1966 setelah berhasil menyelesaikan studinya di Jerman, Mangun menjadi pastur di Jetis dan Salam (Magelang). Pada saat itu juga beliau mengajar di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 1980, Romo Mangun memilih keluar dari UGM. Karena menurutnya kampus itu telah menjadi milik orang-orang besar dan tidak bersahabat dengan mereka yang miskin. Kemudian dia lebih berkonsentrasi menjalankan tugasnya sebagai pastur.

Romo Mangun termasuk pastur yang memiliki beberapa predikat. Selain menjadi rohaniawan Katholik, ia juga seorang Arsitek. Selain berkarya nyata, Romo Mangun juga berteori melalui penulisan buku. Semua karyanya, baik arsitektur rumah tinggal, bangunan peribadatan, kampus, kantor, lingkungan perumahan, rancangan kota, maupun dua buku yang dikarang adalah karya arsitektural yang monumental. Romo Mangun ini adalah seoarang Arsitek modern dan pascamodernis yang paling terampil dan intelektual. Jika F. Silaban dikatakan sebagai Bapak Arsitektur Modern Indonesia, maka YB Mangunwijaya adalah Bapak Arsitektur Pasca Modernisme Indonesia.

Baca juga :  Muhammad Egha, Sosok Arsitek Muda Berharga Milik Indonesia
Source : tirto.id (Romo Mangun beserta rancangannya)

Karya Romo Mangun lainnya dalam bidang Arsitek adalah Gedung Bentara Budaya Jakarta, rumah kediaman Arief Budiman di Salatiga, Gereja Katholik di Klaten, Salam, dan Jetis, Permukiman warga tepi Kali Code Yogyakarta, Kompleks Religi Sendangsono, gedung Keuskupan Agung Semarang, Gereja Katolik Cilincing Jakarta, Markas Kowihan II, dan Biara Trappist Gedono Semarang.

Source : rekaberu.blogspot.com (Permukiman di tepi Kali Code Yogyakarta)

Rancangan Mangun biasanya berciri dari bahan kayu dan bambu, yang diakui arsitektur berkepribadian Nusantara. Karya-karya arsitekturnya mendapat berbagai penghargaan, diantaranya dari Badan Lingkungan Dunia di Vancouver (1977), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berturut-turut pada tahun 1991 dan 1993. Ia pun meraih penghargaan Aga Khan Award For Architecture The Muslim Word (1992) atas keberhasilannya membenahi kampung di pinggir Kali Code yang semula kumuh menjadi artistik, indah dipandang meski sederhana.

Dengan segala kelebihan dan kekuranganya, Romo Mangun telah memberikan warisan yang terbaik bagi bangsa ini. Pemikiran yang ia tuang dalam teori buku sangat membantu para generasi penerus. Ada baiknya kita sebagai generasi milenial mencontoh dan meneladani sikap tekun yang dimiliki Romo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *