ReviewSemua Artikel

Menelusuri Masjid Peninggalan Sejarah di Kota Serambi Mekkah

Source : kontraktorkubahmasjid.com (Masjid Baiturrahman bagian depan)

Masjid Raya Baiturrahman menjadi ikon Kota Aceh sekaligus masjid beratap kubah pertama di Asia Tenggara. Masjid ini terletak di tengah pusat kota memiliki ciri arsitektur yang bergaya kuno ala negara India serta memiliki nilai histori yang menarik. Keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman menjadi tujuan bagi wisatawan lokal maupun dari luar Aceh. Menurut buku Masjid Bersejarah di Nanggroe Aceh Jilid I yang diterbitkan oleh Kemenag, masjid ini telah mengalami beberapa kali perluasan dari bangunan dasarnya yang berukuran 537,91 m2, dari masjid berkubah satu yang dibangun pemerintah Belanda di tahun 1879-1883.

Masjid Raya Baiturrahman masjid Kesultanan Aceh dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Namun sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir.

Source : indonesiakaya.com (Foto Masjid Baiturrahman setelah dibangun kembali oleh Belanda pasca pembakaran)

Posisi masjid yang terletak di lapangan terbuka semakin memperkuat kesan megah karena bentuk bangunan masjid tampak secara keseluruhan dari berbagai arah. Di depan masjid, terdapat taman yang ditumbuhi rerumputan dengan aksen beberapa pohon kurma. Kolam besar yang ada di taman itu pada waktu-waktu tertentu akan memantulkan refleksi bangunan masjid bagian depan secara keseluruhan hingga menghasilkan sebuah pemandangan yang sangat indah. Di depan masjid juga terdapat sejumlah payung raksasa berdiri di depan pelataran Masjid Baiturahman dengan diameter sekitar 12 meter. Berdiri juga satu menara dengan ketinggian kurang lebih 84 meter yang menambah kesan megah masjid tersebut. Meskipun begitu, ciri khas dari Masjid Baiturahman tidak dihilangkan.

Baca juga :  Mengintip Salah Satu Klenteng Tertua di Indonesia, Hoo Tong Bio
Source : indonesiakaya.com (Menara Induk Masjid Baiturrahman)

Masjid Baiturrahman sekarang memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk. Di dalam  masjid terdapat ukiran ayat-ayat Al-quran yang menambah keindahan masjid. Penambahan pernak-pernik semacam pintu dan lampu gantung pun secara khusus didatangkan pemerintah kolonial dari Eropa. Gerbang utama menyerupai gaya rumah klasik Belanda berada tepat di depan pintu utama yang dibatasi serambi bergaya arsitektur masjid-masjid di Spanyol. Saat memasuki bagian ruang utama masjid akan terlihat hamparan luas ruang berlantai marmer berwarna dominan putih dari Italia. Campuran gaya arsitektur dari berbagai negara ini menjadikan Masjid Baiturrahman makin terlihat menawan. Keindahan arsitektur dan sejarahnya menarik salah satu negara di Eropa. Kini, replika Masjid Baiturrahman dengan skala 1:25 terpampang indah di Taman Minimundus, Klagenfurt, Austria.

Baca juga :  Belajar Arsitektur Vernakular dari Rumah Adat Sasak di Desa Sade
Source : indonesiakaya.com (Bagian dalam Masjid Baiturrahman)

Di bagian dalam bangunan kubah, terdapat ruangan utama yang dilengkapi oleh hiasan lampu gantung memuat sampai 17 titik cahaya penerang. Hiasan lampu gantung pun terlihat jelas dari mihrab masjid. Fasad pada bangunan Masjid baiturrahman diperkaya oleh garis-garis lengkung horizontal. Ini adalah ciri arsitektur dari Negara Timur Tengah. Bagian depan ataupun di sebelah Timur juga terdapat gerbang masuk menempel di bagian unit utama. Dilansir dari detik.com luas ruangan dalam masjid mencapai 4.760 meter persegi. Masjid ini juga mampu menampung 10.000 jamaah. Jika digabungkan dengan halaman masjid bisa menampung sekitar 30.000 jamaah. Penampilan masjid sedikit berbeda setelah masjid itu terdampak tsunami beberapa tahun yang lalu. Saat itu, gempa besar dan tsunami setinggi sekitar 20 meter meluluhlantakan Aceh. Nyaris seluruh bangunan di Banda Aceh hancur lebur. Namun, meski dilalui gelombang air raksasa, masjid ini selamat dari kerusakan parah. Hanya sebagian kecil bangunan masjid yang mengalami rusak ringan.

Fungsi masjid saat ini semakin berkembang seiring penerapan syariat Islam di Nangroe Aceh Darussalam. Bukan hanya sebagai tempat ibadah dan pendidikan agama, kini Masjid Raya Baiturrahman juga dijadikan sebagai media pengembangan potensi sosial kemasyarakatan. Untuk masuk ke area masjid, wisatawan perempuan wajib mengenakan busana muslim. Bahkan untuk sekedar masuk halaman tanpa masuk ke dalam masjid pun tetap harus menggunakan pakaian islami dan berhijab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *