BiografiSemua Artikel

Tangan Dingin Bung Karno Dalam Dunia Arsitek

Source : Wikipedia.co.id

Bapak proklamasi Indonesia, begitulah orang mengenalnya. Selain Presiden Indonesia pertama,  Ir. Soekarno merupakan seseorang yang punya turut andil dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, ia menata negara dengan amat sangat cepat dan tepat terbukti dengan di masa itu Indonesia merupakan salah satu negara yang ditakuti di Asia Tenggara. Selain kiprahnya di bidang politik, Ir. Soekarno telah melahirkan beberapa karya arsitektur yang cukup ciamik. Di Technische Hoogeschool te Bandoeng, sekarang Institut Teknologi Bandung, Ir. Soekarno mengambil jurusan hidrologi atau pengairan. Meski tidak secara khusus menyenyam pendidikan Arsitek, dalam jurusan ini Ir. Soekarno juga mendapat mata kuliah menggambar. Dari situlah, bakat Ir. Soekarno sebagai Arsitek justru muncul.

Bakat Ir. Soekarno kemudian mendapat perhatian Arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker yang juga mengajar Soekarno. “Barangkali ada bakat-bakat yang terekspos di situ oleh profesornya, dan beliau terlihat bakatnya dalam bidang arsitektur. Dan dimintalah beliau menjadi semacam asisten di bironya,” sebut Yuke dalam seri diskusi daring yang diadakan Historia untuk memperingati Bulan Bung Karno, Selasa, 2 Juni 2020.

Source : bombastis.com (Charles Prosper Wolff Schoemaker dan Ir. Soekarno)

Pada masa ini, Ir. Soekarno banyak terpengaruh oleh Schoemaker. Salah satu peninggalannya adalah Toko Roti Red Tulip di Bandung. Bangunan tersebut kini sedikit rusak atapnya, namun dapat terlihat jelas tinggalan Ir. Soekarno pada ornamen-ornamen yang terpengaruh oleh Schoemaker. Selain itu, Ir. Soekarno juga turut serta dalam perancangan salah satu paviliun di Hotel Preanger. Kesempatan itu menjadikan Bung Karno percaya diri untuk membuat biro Arsitek di tahun 1926

Baca juga :  Jejak Karir Slamet Wirasonjaya, Bapak Arsitektur Lanskap Indonesia

Profesi sebagai Arsitek sempat berhenti karena kesibukan dalam perjuangan kemerdekaan. Namun, Ir. Soekarno sempat membuat lagi biro Arsitek bersama Roosseno Soerjohadikoesoemo. Ir. Soekarno sebagai advisor, sementara Rooseno yang membuat konstruksi. Beberapa karya Ir. Soekarno tertinggal di Bandung, tempat ia bermukim dan dibuang.

Setelah kemerdekaan dan Ir. Soekarno menjadi presiden, ia juga membuat konsep sendiri terhadap bangunan-bangunan republik. Ide-idenya bercirikan tropis dengan atap limasan atau berbentuk perisai yang biasanya memiliki gada-gada dengan ornamen di atasnya. Jejak-jejak masa ini bisa ditemui pada Wisma Yaso, Istana Tampak Siring, dan Istana Batu Tulis.

Yuke juga menemukan terdapat unsur padma di hampir semua pilar rumah yang didesain Ir. Soekarno. Selain itu, terdapat pula unsur teratai.  Konsep tersebut, menurut Yuke, tidak lepas dari kebanggaan Ir. Soekarno pada ornamen serta relief candi di Indonesia. Bentuk-bentuk padmasana bahkan diaplikasikan pada berbagai furnitur yang terdapat di Istana Bogor.

Pasca menunaikan haji dan suksesnya pemilu 1955, pandangan arsitektur Ir. Soekarno berubah. Kala itu Ir. Soekarno banyak diundang ke luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sejak itu, orientasinya terhadap arsitektur bersifat internasionalis dan modern dengan ornamen keindonesiaan.

Sementara unsur keindonesiaan banyak diwujudkan pada relief, patung-patung hingga mozaik. Mitologi dan berbagai unsur kebudayaan Indonesia dimasukkan dan menjadi semacam tamansari yang memperlihatkan wajah Indonesia.

Baca juga :  Ahmad Djuhara, Arsitek Rumah Baja

Gagasan-gagasan Ir. Soekarno tersebut kemudian banyak diwujudkan dalam bangunan, monumen maupun landmark kota yang masih populer hingga kini. Meski tak merancang langsung, ide-idenya disalurkan melalui Arsitek dan seniman Indonesia saat itu.

Source : dolandolen.com (Patung selamat datang yang merupakan salah satu gagasan dari Ir. Ir. Soekarno)

Landmark kota Jakarta yang masih berdiri hingga kini seperti patung Dirgantara, patung Selamat Datang, hingga Monumen Pembebasan Irian Barat pun tak lepas dari ide Ir. Soekarno. Meski demikian, ia tetap memberikan ruang kepada seniman untuk berekpresi secara detail.

Dalam pembangunan Monumen Nasional atau Monas misalnya, arsitek Sudarsono mengakui bahwa Ir. Soekarno lah Arsitek penggagasnya. Permintaan dari Pak Sudarsono adalah meminta tolong dibuatkan satu prasasti di Tugu Nasional untuk mengenang bahwa Bung Karno adalah Arsitek penggagas dan Sudarsono sebagai eksekutornya.

Sementara itu, banyak pula peninggalan dari gagasan arsitektur Ir. Soekarno di berbagai daerah. Seperti relief kayu “Ruang Gembira” di Hotel Samudra Beach Pelabuhan Ratu, Sukabumi dan relief “Untung Rugi di Kaki Merapi” di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta dikerjakan oleh Harjadi S.

Source : setneg-ppkk.co.id (Relief di salah satu ruangan di Bandara Kemayoran)

Selain itu, relief di ruang VIP Bandara Kemayoran juga merupakan buah ide Bung Karno. Begitu pula mozaik porselen tari nusantara dalam Kubah Ramayana di Hotel Indonesia karya G Dharta. Peninggalan lainnya bisa ditelusuri di Bali, Ende, Kalimantan, hingga Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *