Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Mengintip Salah Satu Klenteng Tertua di Indonesia, Hoo Tong Bio

Source : harianhuaonline.com

Keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan hal yang menarik dan membanggakan. Salah satunya adalah keberagaman agama. Hanya dengan keberagaman agama banyak aspek yang bisa kita bahas, salah satunya dari segi arsitektur bangunan keagamaan di seluruh Indonesia.

Jika pada artikel yang lalu membahas klenteng dengan sejarah yang menarik, tepatnya Klenteng Sam Po Kong, tempat ibadah etnis Tionghoa yang menganut ajaran Kong Hu Cu. Pada kesempatan kali ini kita akan menelaah arsitektur dari salah satu klenteng tertua yang dimiliki Indonesia, yaitu Klenteng Hoo Tong Bio.

Klenteng Hoo Tong Bio merupakan klenteng tertua di wilayah Jawa Timur dan Bali. Terletak tepat di Banyuwangi, klenteng ini dibangun pada tahun 1784 oleh komunitas Tionghoa setempat. Selain untuk dijadikan tempat ibadah, Klenteng Hoo Tong Bio didirikan sebagai upaya untuk menghormati jasa seorang kapiten yang bernama Tan Hu Cin Jin.

Sekilas kisah tentang Tan Hu Cin Jin, ia merupakan seorang pemimpin pelarian etnis Tionghoa dari Batavia. Tepatnya pada tahun 1740 terjadi sebuah pembantaian besar – besaran pada etnis Tionghoa di Batavia (Jakarta) oleh Belanda. Tan Hu Cin Jin menjadi salah satu orang yang berperan penting dalam pelarian sebagian etnis Tionghoa, kala itu mereka menggunakan sebuah kapal untuk melarikan diri. Tetapi kapal yang mereka naiki pada akhirnya terdampar di Banyuwangi dan mereka memutuskan untuk menetap di sana. Pada saat pembangunan kerajaan baru etnis Tionghoa, Tan Hu Cin Jin ditunjuk sebagai Arsitek kerajaan. Lalu saat terjadi konflik di kerjaan Mengwi, Tan Hu Cin Jin dan dua orang Bali memilih untuk tinggal di Puncak Sembulungan Blambangan dan sejak saat itu ia dipercaya menjadi pelindung orang – orang Tionghoa di Blambangan.

Baca juga :  Mengintip Bangunan Stasiun Pertama di Kota Malang

Atas jasa – jasanya, pada tahun 1784 dibangunlah Klenteng Hoo Tong Bio yang memiliki arti “Kuil Perlindungan Warga China” sebagai bentuk penghormatan kepada Hoo Tong Bio. Semenjak berdiri, terhitung sudah 37 tahun umur dari Klenteng Hoo Tong Bio. Klenteng ini juga sudah menjadi cagar budaya milik Indonesia bahkan menjadi destinasi wisata unggulan di Banyuwangi.

Source : detiknews.com (Kebakaran yang melahap bagian utama dari klenteng terjadi pada 2014 lalu)

Dalam kurun waktu 37 tahun, Klenteng Hoo Tong Bio sudah beberapa kali mengalami renovasi. Namun renovasi besar – besaran terjadi pada 2014 lalu saat klenteng ini mengalami kebakaran dan menghanguskan semua yang ada pada bagian utama Klenteng Hoo Tong Bio. Walaupun sudah mengalami beberapa renovasi, bentuk asli dari bangunan ini masih dipertahankan bahkan sampai sekarang.

Dari segi arsitektur, klenteng ini cukup memiliki desain yang unik. Gerbang utama pada klenteng ini terdiri dari tiga buah pintu, dua pintu di sisi kanan dan kiri diperuntukan untuk masyarakat yang ingin melakukan sembahyang, sedangkan pintu utama yang terletak di tengah digunakan untuk acara ritual keagamaan.

Banyak bagian yang unik dari Klenteng Hoo Tong Bio ini, seperti  yang disebutkan dalam penelitian karya Rizky Nur Afifi dkk. Salah satu bagian yang unik dan menjadi ikon dari klenteng ini adalah Pagoda. Pagoda merupakan sebuah menara yang menjulang tinggi ke atas sekitar 10 meter, memiliki lima tingkatan, dan atapnya berbentuk trapesium.

Baca juga :  Kafe Unik Penuh Barang Antik dan Menarik
Source : banyuwangitourism.com (Penampakan Pagoda yang menjadi salah satu spot menarik dari Klenteng Hoo Tong Bio)

Bagian lain yang tak kalah unik adalah Genta dan Tambun, dua bagian ini memang terlihat hampir sama tapi jangan salah, Genta dan Tambun mempunyai fungsi masing – masing. Genta merupakan bangunan berbentuk segi enam dan berfungsi untuk meletakkan gong yang digunakan untuk perayaan dalam klenteng. Sedangkan Tambun adalah bangunan yang berfungsi untuk meletakkan lonceng untuk digunakan dalam perayaan klenteng.

Source : duniaira.com (Genta yang merupakan alat yang digunakan dalam perayaan di klenteng)

Setiap awal tahun baru Imlek, Klenteng Hoo Tong Bio selalu mengadakan ritual tolak bala (Hokkien=ci suak) dan merayakan tahun bertahtanya Kongcu Chen Fu Zhen Ren sebagai dewa utama pada klenteng tersebut. Dalam perayaan ini akan ada banyak sekali pertunjukan kebudayaan seperti barongan, reog, dan wayang kulit. Bahkan pada kegiatan ini juga sering kali diiringi dengan kegiatan sosial seperti donor darah dan pembagian sembako.

Saat ini Klenteng Hoo Tong Bio menjadi salah satu magnet bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Banyuwangi. Bagi kamu masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia wajib untuk dateng ke klenteng ini. Selain untuk beribadah, kamu juga bisa menikmati keindahan dan keunikan dari bangunan klenteng Hoo Tong Bio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *