Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Krong Bade, Rumah Adat Gabungan Budaya-Agama

Source : bramblefurniture.com

Banyak sekali suku yang ada di Indonesia. Dengan banyaknya suku itu berarti banyak juga kekhasan dari tiap-tiap adat. Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki rumah adat. Sama halnya dengan Nanggore Aceh Darussalam. Aceh memiliki rumah krong bade. Masyarakat Aceh biasa juga menyebutnya dengan Rumoh Aceh.

Kita tahu bahwa Aceh kental dengan budaya agama Islam. Kekentalannya dengan Isslam berpengaruh juga pada bangunan rumah Krong Bade. Rumah berbentuk persegi panjang ini dibangun memanjang dari timur ke barat. Jurnal karya Nina Suryana dan Ayu Neisa dengan judul Eksistensi Rumah Adat Krong Bade Di Kecamatan Mila Kabupaten Pidie Tahun 1972-2017 menjelaskan bahwa Rumoh Aceh selalu menghadap ke utara atau ke selatan. Bangunan yang menghadap utara atau selatan pasti akan memanjang dari timur ke barat. Rumah Krong Bade menjadikan itu sebagai tinjauan dari segi agama Islam untuk memudahkan pengenalan arah kiblat yang menghadap ke arah barat.

Source : dekoruma.com

Rumah adat masyarakat Aceh ini dibangun seutuhnya dengan bahan-bahan dari alam. Meski dibangun tanpa menggunakan bahan fabrikasi, Rumoh Aceh dipercaya bisa bertahan hingga 200 tahun lamanya. Terdapat delapan komponen bahan alami yang dipakai pada Krong Bade. Ada kayu sebagai tiang penyangga; papan untuk dinding dan lantai; bambu atau trieng dijadikan alas lantai; temor atau enau dijadikan bahan cadangan pengganti bambu; taloe meu-ikat sebagai tali perekat antar bahan; daun rumbia atau oen meuria yang dipakai sebagai bahan dasar pembuatan atap; daun enau dipakai apabila tidak ada daun rumbia; dan, pelepah rumbia atau peuleupeuk meuria sebagai bahan dasar pembangunan dinding serta lemari.

Seperti rumah adat lainnya, Krong Bade juga dibuat tanpa menggunakan paku. Konon katanya dengan membangun rumah tanpa paku dapat membuat bangunan tersebut tahan gempa. Sebagai pengganti kayu, untuk merekatkan bahan yang satu dengan lainnya digunakan tali khusus. Tali diberi nama taloe meu-ikat yang terbuat dari rotan, ijuk, dan kulit pohon waru.

Baca juga :  Makna Tanian Lanjheng pada Rumah Hunian Masyarakat Madura
Source : merahputih.com

Krong Bade memiliki bangunan yang terlihat estetik. Bagaimana tidak, tiap rumah memiliki ukiran-ukiran yang indah. Namun itu bukan sembarang ukiran. Jumlah dari ukiran pada Rumoh Aceh memiliki makna sebagai penanda status ekonomi penghuni rumah adat tersebut. Jika rumah tidak memiliki ukiran, maka dapat dipastikan pemiliknya hanyalah orang biasa. Mengapa ukiran dijadikan patokan? Karena di Aceh, untuk membuat ukiran sangatlah mahal. Maka bagi mereka yang kondisi ekonominya mampu, pasti pada bagian rumahnya terdapat ukiran.

Seperti rumah adat kebanyakan, Krong Bade juga dibangun layaknya rumah panggung. Rumah yang tingginya jauh dari tanah berfungsi untuk melindungi penghuni rumah dari serangan hewan buas. Rumah yang tinggi juga dapat membuat air tidak masuk ke dalam saat terjadi bencana banjir. Dengan membuat bangunan yang tinggi bisa mengurangi panas karena udara akan masuk melalui bagian kolong rumah. Selain itu, hal tersebut juga mengurangi kelembapan serta memperlambat pembusukan makanan di dalam rumah.

Rumah yang tinggi tentu dilengkapi tangga untuk dapat masuk ke dalam. Tinggi tangga pada Krong Bade sekitar 2,5-3 meter. Jumlah anak tangga Rumoh Aceh ini pasti ganjil. Ada sekitar tujuh sampai sembilan anak tangga. Ditulis pada Dekoruma.com bahwa jumlah anak tangga yang ganjil menjadi simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.

Hal unik lainnya dari rumah Krong Bade adalah adanya pintu rumah yang kecil. Pintu ini memiliki panjang lebih rendah daripada tinggi orang dewasa pada umumnya. Pintu Rumoh Aceh hanya mempunyai tinggi sekitar 120-150 cm saja. Dengan keadaan pintu lebih rendah, setiap orang yang masuk akan memberi saleum horeumat pada ahli bait (salam hormat kepada pemilik rumah). Salam diberikan dengan posisi agak menunduk dikarenakan pintu yang pendek. Memberi salam dengan membungkuk menandakan hormat kepada siapapun pemilik hormat tanpa peduli kasta dan status ekonominya.

Source : ruparupa.com

Dibalik pintu yang kecil, terdapat ruangan yang tidak mungil. Di dalam rumah megah, ada ruangan yang luas. Rumoh Aceh memiliki beragam ruangan dengan fungsi bermacam-macam. Serambi depan atau seuramoe keue difungsikan sebagai ruang untuk bersantai dan berkumpul. Serambi depan ini juga memiliki fungsi sebagai ruang tamu. Sejarah-negara.com memaparkan bahwa seuramoe keue tidak terdapat kamar.

Baca juga :  Mengintip Salah Satu Klenteng Tertua di Indonesia, Hoo Tong Bio

Seuramoe teungoh ialah serambi tengah. Ruang tengah ini merupakan tempat inti. Seuramoe teungoh lebih dikenal dengan nama rumah induk atau Rumoh Inong. Ruangan ini lebih tinggi dari serambi depan dan memiliki kamar di bagian kanan serta kiri. Rumah Inong dikhususkan bagi keluarga saja, bahkan tamu tidak diperbolehkan masuk ke ruangan ini. Jika ada anggota keluarga yang menikah, maka serambi tengah dijadikan sebagai kamar tidur pengantin. Begitu pula apabila ada anggota keluarga yang meninggal. Ruang tengah akan dipakai sebagai tempat untuk memandikannya.

Ruang belakang dengan nama seuramoe likoot mempunyai fungsi untuk dijadikan sebagai dapur, tempat makan, dan berkumpul. Serambi belakang memiliki ruangan yang lebih rendah. Lalu ada juga ruang bawah. Ruang ini dipakai sebagai gudang penyimpanan hasil panen seperti padi. Alat penumbuk padi juga disimpan di gudang ini. Pembuatan kain tenun khas Aceh oleh masyarakat perempuan juga dilakukan di ruang bawah.

Rumah Krong Bade sekarang jumlahnya tinggal sedikit lantaran biaya pembangunan yang melejit. Di setiap ruangan Rumoh Aceh sekarang ini memiliki jendela. Padahal dulu Rumoh Aceh tidak ada yang memakai jendela. Atap yang memakai daun rumbia juga perlahan diganti dengan bahan seng. Dulu rumah adat ini tidak ditemui kursi dan meja, hanya digelar karpet saja. Namun berbeda dengan zaman sekarang ini. Cukup kejam ya perkembangan zaman?

Kentalnya agama tak membuat Aceh tak miliki banyak budaya. Rumah Krong Bade jadi salah satu bukti adanya budaya khas yang digabung dengan ikatan agama. Jika berkunjung ke Rumoh Aceh, jangan lupa cuci kaki di gentong air yang sudah disiapkan. Setiap tamu harus hadir dengan kaki bersih untuk melihat kemegahan budaya yang jernih.

Satu pemikiran pada “Krong Bade, Rumah Adat Gabungan Budaya-Agama

  1. Sangat unik sekali, karena rumah ini dibangun tanpa paku. Orang awam seperti saya pasti berfikiran tentang hal mistis, namun setelah membaca artikel ini saya baru tau ternyata paku diganti dengan tali khusus. Nicee info 👍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *