BiografiSemua Artikel

Jejak Karir Slamet Wirasonjaya, Bapak Arsitektur Lanskap Indonesia

Source : plus.google.com

Memiliki gaya arsitektur yang cenderung berbentuk dinamis, ekspresionis, dan sebagian besar hasil karyanya adalah bangunan publik. Ada Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Pusat Dakwah Islam (PUSDAI), Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, dan Monumen Yogya Kembali. Itu semua adalah gaya arsitektur dan hasil karyanya, Slamet Wirasonjaya.

Pria kelahiran tahun 1936 ini adalah salah satu bapak arsitektur lanskap di Indonesia. Beliau wafat pada usia ke-80 tahun, tepatnya pada tanggal 1 November 2016 di RS. Rajawali Bandung. Semasa hidupnya, Slamet Wirasonjaya atau lebih kerap disapa “SLW” merupakan salah satu arsitek yang cukup berpengaruh di Indonesia. Saat muda ia mengambil kuliah jurusan Arsitektur di ITB, pada masa itu juga SLW merasa tertarik dengan gaya arsitektur lanskap. Hingga akhirnya setelah  lulus dari ITB, ia melanjutkan pendidikannya ke Harvard University dengan menekuni arsitektur lanskap di sana.

Setelah lulus dari Harvard University, SLW memutuskan untuk kembali dan berkarya di tanah air. Benar saja, selang beberaa bulan ia pun membuat karya pertamanya sebagai arsitek lanskap Indonesia, yaitu dengan proyek Gedung Conefo atau Gedung MPR/DPR. Semenjak itu juga nama Slamet Wirasonjaya melambung di dunia arsitektur Indonesia. Selain Gedung Conefo, gebrakan awal SLW adalah rancangan ruang besar (grand space)  di sekitar Tugu Monas yang tidak di tanami pohon. Hal ini agar pandangan ke Tugu Monas tidak terhalang, selain itu grand space yang ia rancang sangat berguna untuk berbagai kegiatan.

Baca juga :  Han Awal, Arsitek Andal Perihal Karya Kekal
Source : panoramio.com (Gedung Conefo yang semakin melambungkan nama SLW di dunia arsitektur Indonesia)

Dari Gedung Canefo itulah awal perjalanan karir Slamet Wiransonjaya sebagai arsitek lanskap dimulai. Sejak saat itu, ia berhasil menciptakan berbagai karya untuk Indonesia. Yang menjadikan karya SLW cukup unik adalah karena ia memprioritaskan arsitektur ruang publik. Konsep arsitektur inilah yang menjadi fokus utama dari SLW., ruang publik adalah sebuah tempat untuk orang – orang saling bersosialisasi dan berkumpul. Dengan alasan prinsip kebersamaan menjadikan karya – karyanya pada saat pembangunan selalu melibatkan orang di sekitar lokasi, karena orang – orang tersebut  lah yang akan menggunakan bangunan tersebut. Hal itulah yang menjadikan karya dari SLW selalu sukses dan menarik dimata masyarakat.

SLW mengaku memperoleh konsep kebersamaan yang ia kembangkan berawal dari mengamati arsitektur bangunan publik abad pertengahan, seperti konsep renaisance dan barok. Menurut SLW, bentuk dari bangunan abad pertengahan sangatlah sederhana, tapi hasilnya sangat luar biasa. SLW mengambil contoh bangunan yang berada di Prancis, Italia, dan bagian Eropa lainnya. menurutnya bangunan – bangunan tersebut cukup berwibawa namun tetap hangat bagi masyarakat di sekitarnya.

Source : klcbs.net (Monumen perjuangan rakyat Jawa Barat menjadi salah satu tempat wisata yang cukup ramai di Jawa Barat)

Pada penerapannya, SLW selalu bersikap koorperatif dalam memproses bangunan hasil rancangannya. Ia selalu bekerja sama dengan semua masyarakat di sekitar. Selain mengutamakan desain bangunan, SLW juga selalu mengedepankan  fungsi dari bangunan yang ia rancang untuk masyarakat di sekitar. “Yang penting kan fungsinya,” ujar SLW yang kami kutip dari wallacrh.blogsopt.com.

Baca juga :  Mengenal dan Mengenang Jejak Ahmad Noeman Perancang Masjid Tanpa Kubah

Selain menjadi arsitek lanskap, SLW juga menjadi dosen di ITB. Sama halnya dengan karir arsiteknya. SLW menuangkan hal – hal baru saat menjadi dosen. Bahkan SLW juga mendapat julukan sebagai guru besar arsitektur ITB. Semasa menjabat menjadi salah satu dosen di ITB, SLW juga memberikan sentuhan arsitektur lanskapnya pada kampus ini. Hasil karya dari SLW yang terdapat di ITB antara lain Sasana Budaya Ganesha dan Perpustakaan Pusat ITB.

Pada tahun 2007 lalu, untuk menghormati Slamet Wirasonjaya, Program Studi Arsitekutr ITB menertbitkan buku yang berjudul “SLW”. Buku setebal 162 halaman ini merangkum dan mengapresiasi karya – karya dari Slamet Wirasonjaya. Buku ini juga sekaligus menjadi hadiah perpisahan karena tepat pada penerbitan buku ini, Slamet Wirasonjaya telah purnatugas dari ITB. Dian Damayanti selaku ketua dari tim penyusun buku “SLW” mengaku dalam buku tersebut tidak bisa merangkum secara keseluruhan dari pemikiran dan karya Slamet Wirasonjaya. “Mungkin hanya sekitar 30% yang bisa terangkum dalam buku ini,” ujar Dian dilansir dari itb.ac.id.

Ciri khas masyarakat Indonesia yaitu bersifat paguyuban yang SLW angkat dalam beberapa desain karyanya. Dari pemikiran SLW kita bisa belajar bahwa arsitektur bagus bukan hanya yang berdesain indah, namun memiliki fungsi banyak bagi masyarakat di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *