Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Desa Wae Rebo Penuh Awan Miliki Rumah Adat Menawan

Source : dewimagazine.com

Dalam artikel yang membahas Yori Antar, kita menjadi tahu bahwa salah satu karyanya yang fenomenal adalah memperbaiki rumah adat di Desa Wae Rebo. Dibuat program Rumah Asuh untuk mengumpulkan dana kemudian diberikan pada warga setempat guna memperbaiki rumah adat tersebut. Tidak mengecewakan, pembangunan kembali ternyata menghasilkan penghargaan. UNESCO-Asia Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok memberikan penghargaan Award of Excellence pada Wae Rebo. Sejak itulah Wae Rebo lebih dikenal dan menjadi situs warisan budaya dunia.

Desa Wae Rebo memang dikelilingi pepohonan dan pegunungan. Lokasi desa ini persisnya masuk ke wilayah Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Jika memulai perjalanan dari Labuan Bajo, perlu waktu 2-3 jam untuk sampai di Denge. Denge merupakan desa terdekat dari Wae Rebo yang masih bisa diakses kendaraan roda empat. Untuk mencapai ke Wae Rebo, perlu dilakukan pendakian selama 3 jam dengan jarak 8-9 kilometer dari Denge. NativeIndonesia.com menyebutkan bahwa perjalanan akan melewati daerah terpencil dikelilingi hutan, menyebrangi sungai, dan melewati bibir jurang.

Setelah melakukan perjuangan di perjalanan, lelah akan diobati dengan pemandangan. Wae Rebo dipenuhi keindahan serta dikelilingi awan. Bagaimana bisa? Wae Rebo termasuk salah satu desa tertinggi di Indonesia. Desa ini memiliki tinggi 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kabut dari bukit atau gunung akan turun perlahan mengitari seluruh desa ini.

Ada bahasa lokal berbunyi neka hemong kuni agu kalo yang artinya Wae Rebo adalah tanah kelahiran, warisan, dan tanah air yang tidak akan terlupakan. Wae Rebo dikenal dengan tujuh rumah adat bernama Mbaru Niang yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.  Bangunan ini tetap bertahan dengan ketradisionalannya. Mbaru berarti rumah, sedangkan Niang artinya tinggi dan bulat.

Source : kemenpar.go.id

Sekilas mungkin mirip Honai. Namun rumah dengan bentuk kerucut ini sangatlah berbeda dengan rumah adat Papua tersebut. Jika Honai pada umumnya memiliki tinggi 2,5 meter, maka perlu dikali 6 untuk mencapai jumlah tinggi Mbaru Niang. Kisaran tinggi Mbaru Niang adalah 15 meter.

Bentuk rumah yang menyerupai kerucut ini memiliki arti. Fransiskus Mudir, pemimpin Wae Rebo Tourism Organization, memaparkan bahwa arti bentuk kerucut itu sebagai simbol perlindungan dan persatuan antar warga. Tak hanya itu, lantai rumah yang melingkar juga melambangkan harmonisasi dan keadilan antar sesama dan keluarga.

Baca juga :  Dari Kandang Kuda Hingga Menjadi Rumah Kaya Sejarah

Mbaru Niang dibuat dengan bahan dari alam seperti ijuk, kayu, alang-alang, bambu, daun lontar, dan rotan. Kerangka luar dibuat dengan bambu dan bagian dalam dari rotan. Bagian luar Mbaru Niang dibuat dari daun lontar yang ditutup ijuk sebagai atap. Seperti bangunan rumah adat pada umumnya, Mbaru Niang juga dibangun tanpa paku. rumah adat Wae Rebo ini kontruksinya saling terikat dengan tali rotan.

Total Mbaru Niang ada tujuh. Namun di tahun 2008 tersisa empat rumah yang layak dipakai, tiga lainnya sudah mulai rusak. Saat itulah hadir Yori Antar dan beberapa Arsitek lain datang untuk merevitalisasi Mbaru Niang. Wajar rumah-rumah itu mulai tidak berbentuk seperti aslinya karena telah bertahan selama 19 generasi. Adanya Mbaru Niang yang hanya berjumlah tujuh ini juga mempunyai makna yaitu untuk menghormati tujuh arah mata angin dan tujuh gunung yang mengelilingi Wae Rebo. Tiap Mbaru Niang mempunyai nama yaitu Niang Gendang, Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gena Keto, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro.

Niang Gendang, Mbaru Niang terbesar, memiliki diameter rumah sepanjang 15 meter. Sedangkan Mbaru Niang lainnya rata-rata hanya 12 meter. Pada Niang Gendang dihuni oleh 8 keluarga dan Niang lain hanya 6 keluarga, hal itulah yang menjadi pembeda diameter rumah. Setiap rumah memiliki tiang setinggi 15 meter yang dinamakan tiang bongkok. Tiang ini berasal dari pohon utuh yang diawetkan agar bertahan lama.

Source : semujito.com

Seluruh rumah Mbaru Niang tersusun mengitari batu melingkar bernama Compang. Compang menjadi titik pusat warga untuk beraktivitas dan mendekatkan diri dengan alam, leluhur, juga Tuhan.

DailyVoyagers.com menjelaskan bahwa saat melakukan revitalisasi Mbaru Niang, proses pembangunan ulangnya dilakukan oleh warga asli. Hal itu dilakukan agar tidak merubah nilai sejarah yang ada. Dengan melakukan rekonstruksi bangunan, mereka yang sudah tua memberikan ilmunya mengenai pembangunan Mbaru Niang pada generasi mudanya. Transfer ilmu tersebut berguna agar bisa mempertahankan serta melestarikan budaya asli warga Wae Rebo.

Baca juga :  Benteng Megah Saksi Bisu Peninggalan Sejarah

Fungsi Dan Makna Ruang Pada Rumah Adat Mbaru Niang Wae Rebo menjadi judul jurnal karya Monica Louis. Jurnal Intra tersebut menyebutkan bahwa Mbaru Niang bukanlah tempat tinggal semata melainkan bagian dari diri tiap masyarakat di Wae Rebo. Fungsi khusus dan makna dimiliki setiap sudut Mbaru Niang.

Source : superadventure.co.id

Tiap Mbaru Niang dihuni oleh 6-8 keluarga. Maka dari itu bentuknya dibuat besar, tinggi, dan memiliki 5 lantai. Lantai pertama, lutur, dijadikan tempat tinggal dan berkumpul. Lutur dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama yang paling luar ialah untuk keluarga. Selain dipakai untuk tempat berkumpul keluarga, bagian lutur juga digunakan untuk menerima tamu.

Bagian kedua adalah ruangan dengan sekat-sekat dari papan kayu. Ruangan ini digunakan untuk kamar tidur setiap keluarga. Sudut Mbaru Niang yang dijadikan kamar ini dinamakan nolang. Sedangkan bagian ketiga ada di tengah, yaitu dapur. Setiap Mbaru Niang pasti memiliki dapur dengan tungku api ditengahnya. Selain untuk memasak, asap dari tungku api ini dipercaya bisa menguatkan material bangunan agar lebih tahan lama.

Lantai kedua disebut lobo. Lobo difungsikan untuk menyimpan bahan makanan dan barang sehari-hari. Setiap keluarga diberi kapling masing-masing untuk menyimpan barang dan bahan makanan mereka. Lentar, lantai ketiga Mbaru Niang yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman. Benih tanaman yang disimpan seperti jagung, padi, serta kacang-kacangan.

Di lantai keempat atau lempa rae, jadi tempat untuk menyimpan stok makanan. Stok makanan itu disimpan untuk jaga-jaga apabila terjadi kekeringan atau gagal panen. Lantai terakhir dinamakan hekang kode. Lantai ini berfungsi untuk meletakkan tempat sesajian bagi leluhur warga Wae Rebo.

Source : instagram.com/ankga

Wae Rebo, desa yang dikelilingi awan, sering dikunjungi wisatawan karena tempatnya menawan. Desa ini memiliki rumah adat yang unik dan dapat membuat kita tertarik. Jumlahnya sedikit, tapi tingginya selangit. Meski perjalanannya sulit, pemandangannya akan menghilangkan rasa rumit. Maka tunggu apa lagi, segera langkahkan kaki dan antarkan diri menuju desa kaya histori.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *