Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Filosofi Bentuk Rumah Adat Suku Badui

Source : 99.co

Rumah adat merupakan bangunan yang mempunyai ciri khas terkait dengan budaya dari tiap-tiap suku yang ada di Indonesia. Di Indonesia begitu banyak rumah adat yang mewakili suku dan adat-istiadat dari masing-masing daerah. Salah satunya adalah rumah Suku Badui, suku asli masyarakat Banten. Suku Badui tinggal di daerah pegunungan di wilayah Kabupaten Lebak Banten. Suku Badui sendiri terbagi menjadi dua, yakni Badui Dalam dan Badui Luar. Suku Badui adalah inti dari masyarakat Badui, mereka masih mempertahankan adat tradisinya dengan teguh. Mereka menolak budaya modern termasuk hasil-hasil kebudayaan, alat elektronik, kendaraan dilarang dipakai, pendidikan modern tidak diperbolehkan, bahkan termasuk bentuk hunian pun mereka tetap mempertahan rumah tradisional.

Permukiman masyarakat Badui Dalam berbentuk klaster dengan barisan rumah-rumah yang berjajar rapat. Terletak pada transis melandai di dekat aliran sungai. Transis yang miring akan memudahkan aliran air ketika hujan sehingga hampir tidak terdapat genangan di dalam lingkungan permukimannya Orientasi rumah selalu ke utara-selatan, berhadap-hadapan dengan tetangga dalam jarak cukup rapat. Terdapat pelataran cukup luas untuk tempat berkumpul warga dengan rumah kepala desa atau Puun, banjar tempat pertemuan, dan rumah lesung tempat menumbuk padi di ujung yang lain. Lumbung padi biasanya terletak di tepi permukiman atau agak terpisah.

Source : tripadvisor.co.id

Rumah tradisional Badui disebut Imah. Berbentuk empat persegi panjang dengan atap kampung dan sosoran di salah satu sisinya yang disebut atap sulah nyanda. Bagian dalam terdiri dari tiga ruangan, yakni sosoro, di sisi selatan yang digunakan untuk menerima tamu. Tepas di sisi samping memanjang ke belakang dan digunakan untuk ruang kegiatan keluarga. Imah yang merupakan inti rumah, tempat tungku, dan dapur, serta digunakan untuk kegiatan intern keluarga.

Baca juga :  Mengenal Fungsi Dapur, Tata Letak serta Pemilihan Warna yang Baik

Ruang sosoro di depan bergandengan dengan ruang tepas tanpa pembatas, membentuk huruf “L”, sementara imah tertutup dengan satu pintu. Tiap ruangan dilengkapi dengan lubang pada bagian lantainya. Lubang di lantai rumah berfungsi sebagai sirkulasi udara. Hal ini dikarenakan rumah adat Suku Badui tidak dilengkapi dengan jendela. Tujuan tidak dibangun jendela agar para penghuni rumah yang ingin melihat keluar diharuskan pergi untuk melihat sisi bagian luar rumah. Di sebelah sisi bangunan, ada emperan atau teras kecil serta anak tangga.

Konstruksi bangunan berbentuk seperti rumah panggung dengan material  bangunan yang terdapat di sekitar lokasi. Pondasi bangunan menggunakan batu utuh tanpa dipecah dan tidak tertanam. Batu ini digunakan untuk landasan tiang kayu rumah. Konstruksi utama rumah seperti tiang dan balok menggunakan kayu tanpa finishing. Rumah ini juga tidak menggunakan paku, persis rumah adat pada umumnya. Rangka lantai menggunakan bambu. Namun, untuk tidur ataupun kegiatan yang lain biasanya menggunakan tikar pandan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan tulangan dari bambu motif anyaman seperti kepang. Untuk atap bangunan menggunakan kayu dengan rangka penutup dari bambu.

Baca juga :  Pejabat Publik Sekaligus Arsitek Diembat Gubernur Jawa Barat
Source : www.goodnewsfromindonesia.id

Dalam membangun rumah, masyarakat Badui biasanya mempersiapkan elemen dan material bangunannya lebih dahulu, kemudian secara bergotong royong merakitnya menjadi sebuah rumah. Sehingga waktu untuk mendirikan rumah tidak terlalu lama. Selain itu, masyarakat Badui suka melakukan tukar pakai rumah dalam jangka waktu tertentu, dan ini membuktikan bahwa tidak ada perbedaan status sosial yang berarti di kalangan masyarakat Badui. Barang-barang mereka  pun sering ditukar, bukan barter. Itulah keistimewaan dari masyarakat Badui yang patut diapresiasi.

Source : www.goodnewsfromindonesia.id

Dilansir dari detik.com, masyarakat Badui di pedalaman pernah merasakan guncangan saat terjadi gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter. Tapi tak ada satu pun rumah adat di kawasan tersebut yang mengalami kerusakan. “Getaran doang, biasa bae (saja) pada keluar, tapi nggak ada rumah yang rusak,” kata Jaro selaku Kepala Desa Adat Baduy saat bercerita kepada Detik.com di Lebak, Banten, Sabtu (3/8/2019).

Dalam sejarah, belum pernah ada rumah di Badui yang ambruk akibat gempa. Bangunan sengaja dibuat lentur dan fleksibel untuk mengantisipasi gempa. Rumah dibangun tanpa menggunakan paku gunanya memang untuk mencegah gempa. Jika bangunan menggunakan paku, bangunan menjadi kaku dan rentan akan goncangan. Hal ini juga yang menjadi alasan para nenek moyang membangun rumah tanpa paku seperti yang berlaku pada rumah adat lain. Selain itu, penggunaan batu sebagai penyangga bangunan adalah untuk mengantisipasi tanah bergerak dan longsor.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *