Rumah MinimalisSemua Artikel

Rumah Botol Jadi Tempat Hunian Cap Jempol

Warga Jawa Barat, apa lagi Bandung, pasti kenal dengan sosok Ridwan Kamil. Selain menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 ini juga dikenal sebagai Arsitek handal. Untuk menjadi seorang Arsitek dengan segudang ilmu, ia menjalankan kuliah S1 dengan Program Studi Teknik Arsitek di Institut Teknologi Bandung dan S2 jurusan Master of Urban Design di University of California.

Kesuksesannya terus berlanjut di kancah Arsitek. Karyanya bersama tim Urbane sampai ke luar negeri. Biografi lengkap pria dengan sapaan Kang Emil bisa kamu baca di sini. Kang Emil juga sempat menerima banyak penghargaan yang dihasilkan oleh karya arsitekturnya. Tak sia-sia, selama tiga tahun berturut-turut (2008-2010), ia dan Urbane dianugerahkan penghargaan dari Building Construction Information (BCI) Asia Award. Di tahun 2009 pun rumah pribadi milik Kang Emil, Rumah Botol, mendapat penghargaan Green Design Award oleh BCI.

Kurang-lebih hampir enam tahun Kang Emil menempati Rumah Botol. Tempat hunian yang didesain dirinya dan Urbane merupakan hasil dari keinginannya untuk memiliki rumah sehat suasana resort. Ia ingin rumahnya terasa nyaman dan tentu hemat energi. Disebutkan Kaskus.co.id bahwa Ridwan Kamil ingin memanfaatkan energi alam dan dengan itu maka dapat mengurangi penggunaan listrik pada siang hari.

Jika Anda menyaksikan rumah yang terletak di Jalan Cigadung Selatan 7/28, Bandung, ini maka mata akan tertuju pada banyaknya botol yang dijadikan tembok. Di awal saat akan membangun Rumah Botol, Kang Emil menggunakan langkah-langkah bangunan cerdas lingkungan yang konvensional. Langkah itu terdiri dari konsep panel surya, perabotan rumah yang ramah lingkungan, juga atap ‘hijau’. Salah satu langkah lainnya adalah pemakaian botol untuk dijadikan bagian dari struktur rumah.

Source : Furnizing.com

Kang Emil mengungkapkan bahwa ide ini muncul saat ia memperhatikan para pekerja sering meminum minuman energi. Minuman Red Bull tersebut hadir dengan kemasan botol kaca berwarna kecokelatan yang hanya dibuang begitu saja usai diminum. Dalam Youtube Alvin & Friends, Ridwan Kamil mengungkapkan, “Karena botol minuman energi ini jadi sampah, saya punya cita-cita dari sampah jadi berkah kira-kira. Botol ini secara ilmiah bisa mengurangi suhu.”

Baca juga :  Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Part 2)

Untuk pembangunan rumah dengan lahan kurang-lebih 373 meter ini, diperlukan 30.000 botol minuman energi. Tidak semudah dan secepat membalikan telapak tangan, pembangunan Rumah Botol memakan waktu cukup lama. Proses pengumpulan botol bekasnya saja memakan waktu. Dibutuhkan enam bulan hanya untuk mengumpulkan botol bekas saja.

Kontraktor untuk Rumah Botol mengumpulkan setengah botol di tempat pembuangan sampah di kota Bandung juga di kota-kota dekat Jakarta, Tasikmalaya, dan Cirebon. Dilansir dari Kumparan.com, Tim Urbane juga menyewa beberapa pemulung untuk mencari sisa botol bekas yang jumlahnya masih kurang. Saat diletakkan, jarak antara botol adalah sekitar 80 sentimeter. Di setiap sela botol diisi lem kaca. Botol akan ditutup menggunakan kayu lalu dilem untuk menghindari adanya air yang masuk ke bagian dalam.

Rumah berbahan utama botol kaca memang tampak rumit. Proses pembangunan Rumah Botol juga memakan waktu dua tahun mulai dari 2005. Tidak sesulit membangunnya, cara merawat Rumah Botol terhitung mudah dilakukan. Tiap tiga bulan sekali, dinding-dinding botol hanya perlu dilap atau disemprot menggunakan air biasa. Dengan perawatan seperti itu maka tembok botol akan selalu terjaga kebersihannya.

Source : Furnizing.com

Digunakannya botol bekas tentu membantu pemerintah dalam mengurangi sampah dengan mendaur ulang menjadi barang yang berguna. Meskipun hanya botol kaca bekas, pengaplikasiannya yang dipadu-padankan dengan kayu membuat keselarasan. Pasalnya botol yang dipakai berwarna kecokelatan mirip seperti warna kayu. Di bagian eksterior juga terlihat penggunaan beton ekspos yang membuat Rumah Botol terlihat menarik.

Baca juga :  Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Final Part)

Furnizing.com menjelaskan bahwa rumah ini terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama berisi paviliun untuk tamu. Seluruh dinding pada zona ke satu terbuat dari botol kaca. Botol ini juga membantu sirkulasi udara menjadi lancar. Selain itu, pantulan cahaya yang didapat juga terlihat estetik loh!

Masuk ke zona selanjutnya. Zona ini berisi area keluarga. Terdapat kamar tidur untuk anak serta ruangan untuk beraktivitas. Setiap ruangan mendapat cahaya yang maksimal karena penggunaan kaca eksposur. Namun ternyata posisi kamar menghadap ke arah barat dan bisa menyebabkan panas matahari menusuk ke dalam ruangan.

Untuk apa menuntut ilmu tentang Arsitektur sampai ke luar negeri apabila tak ada hasilnya. Kang Emil dengan kecerdikannya meletakkan panel kaca berjarak 60 cm dari dinding botol tersebut. Dilakukannya hal itu akan membuat panas terperangkap di dalam botol kaca dan tidak masuk ke rumah. Di bagian ruangan lain juga diberi panel kaca yang memiliki fungsi seperti jendela, sehingga dapat dibuka untuk ventilasi udara.

Source : Furnizing.com

Di zona ketiga atau terakhir, Anda akan menemukan garasi, dapur, ruang makan, dan perpustakaan. Pada ruang makan terlihat konsep minimalis dipakai. Kang Emil tidak memakai banyak lampu dan meminimalisir jumlah furniture pada ruangan satu ini.

Rumah dengan konsep Green Design ialah hunian yang ramah lingkungan dengan penggunaan barang-barang bekas. Selain penggunaan botol bekas, Kang Emil juga membuat taman terbuka di tengah dua area rumahnya sebagai pembatas. Di dalam rumahnya juga dapat ditemui tanaman hijau di sudut-sudut ruangan.

Tubuh yang penat akan dimanjakan saat pulang ke rumah dengan suasana hangat. Itulah hawa yang bisa Anda temui di rumah sang penjabat. Mungkin Anda akan berpikir, “Bagaimana bisa kita merasakan? Jadi pemilik saja bukan.” Santai, Rumah Botol bisa disewa untuk Anda tempati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *