Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Sejarah Gedung Batu Klenteng Sam Poo Kong

Source : liputan6.com

Berbeda – beda tapi tetap satu. Itulah semboyan yang menjadikan Indonesia sebuah negara kaya akan suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Meski pada awalnya Indonesia hanya mengakui lima agama, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu & Budha. Namun sejak era kepemimpinan Gusdur, Indonesia mengakui dan menambahkan lagi satu agama, yaitu Kong Hu Cu.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu tempat ibadah dari umat Kong Hu Cu yang cukup terkenal yaitu Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng Sam Poo Kong saat ini merupakan sebuah tempat ibadah bagi umat Kong Hu Cu yang terletak di kota Semarang, Jawa Tengah.  Namun, sebelum digunakan menjadi tempat ibadah bagi umat Kong Hu Cu, bangunan ini sebelumnya didirikan oleh seorang laksamana dan bawahannya sebagai tempat singgah sementara, yaitu Laksaman Cheng Ho. Di mana ia adalah seorang penganut agama Islam.

Klenteng Sam Po Kong atau yang dulu bernama Gedung Batu memang sangat lekat dengan kisah legenda dari Laksamana Zheng He, atau lebih dikenal dengan Laksamana Cheng Ho. Penamaan Gedung Batu sendiri merujuk dari bentuk bangunan yang merupakan sebuah goa berbentuk batu besar, dan lokasinya sendiri terletak pada bukit batu.

Source : iklantravel.com

Sejarah mengenai terbentuknya Gedung Batu sampai menjadi Klenteng adalah ketika perjalanan dari Laksamana Cheng menyusuri berbagai negeri di daerah barat. Dengan mengemban misi untuk meningkatkan kewibawaan dari Dinasti Ming kala itu. Pada saat di tengah perjalanan, tepatnya di daerah pantai utara Pulau Jawa, wakil dari Laksamana Cheng yaitu Wang Jing Hong mendadak jatuh sakit dan perlu pengobatan. Mengetahui hal itu, Laksamana Cheng akhirnya memutuskan untuk berlabuh ke pulau terdekat, pelabuhannya tersebut jatuh ke tempat yang saat ini bernama Simongan.

Selepas berlabuh di Pulau Simongan, Laksamana Cheng dan armadanya menemukan sebuah goa yang akhirnya mereka pergunakan sebagai tempat beristirahat dan untuk merawat Wang Jing Hong. Selama berada di sana, Laksamana Cheng memerintahkan armadanya untuk membangun sebuah pondokan kecil lengkap dengan masjid. Hal ini untuk keperluan ibadah bagi Laksamana Cheng dan armadanya yang sebagian besar beragama Islam. Setelah beberapa hari menetap di sana, keadaaan Wang Jing Hong berangsur membaik. Laksamana Cheng kemudian memutuskan melanjutkan perjalanannya, tetapi meninggalkan sang wakil Wang Jing Hong untuk menyebuhkan diri secara total. Laksamana Cheng mengutus sepuluh orang dari armadanya agar menemani dan merawat  wakil laksamana tersebut serta  meninggalkan sebuah kapal untuk mereka gunakan menyusul laksamana Cheng ketika Wang Jing sudah sembuh total.

Baca juga :  Ayah Maia Estianty, Pionir Pendidikan Arsitektur di Surabaya

Namun selepas sembuh, Wang Jing Hong ternyata jatuh cinta dan merasa nyaman tinggal di daerah sana, begitu juga dengan sepuluh orang yang bersamanya. Akhirnya di bawah kepemimpinannya bersama sepuluh orang tadi, ia membuka tanah dan mendirikan beberapa rumah. Bahkan baik dari Wang Jing Hong atau sepuluh orang yang menemaninya akhirnya menikahi wanita penduduk pribumi setempat. Hal itu juga menjadikan kawasan yang ada di sektiaran gua semakin ramai dan makmur, karena semakin hari kian banyak masyarakat pribumi turut bergabung untuk bercocok tanam di sana.

Berangsur – angsur lamanya, tempat itu dijuluki dengan Gedung Batu karena sejarahnya. Namun karena bangunannya yang memang identik dengan arsitektur Tionghoa, masyarakat Tionghoa yang berada di Indonesia menganggapnya sebagai klenteng. Dari jurnal karya Muhammad Niza Alieffudin, klenteng sendiri merupakan sebuah wujud kebudayaan yang berupa karya manusia. Klenteng sendiri juga merupakan sebuah tempat ibadah dari masyarakat Tionghoa.

Secara perlahan kawasan itu mulai ditinggalkan oleh penghuninya dan berubah menjadi tempat ibadah bagi umat Kong Hu Cu. Walaupun di dalamnya terdapat masjid dan lukisan – lukisan tentang Islam, namun hal itu tidak menjadi masalah. Hal ini wajar saja karena bagi kepercayaan agama Kong Hu Cu orang yang sudah meninggal mampu memberi pertolongan dan dianggap sebagai dewa. Untuk itu penginggalan dari Laksamana Cheng Ho dijadikan tempat beribadah bagi umat Kong Hu Cu.

Baca juga :  Mengintip Rumah Multikultural di Kota Medan
Source : vienincalabria.com

Gaya bangunan dan gerbang dari Klenteng Sam Poo Kong, serta dominasi cat warna merah sangat mencerminkan gaya arsitektur Tiongkok. Sebenarnya unsur Islam juga masih terasa pada bagungan – bangunan di sana. Terlebih terdapat pondok dan masjid yang digunakan untuk ibadah oleh Laksamana Cheng beserta armadanya membuat nuansa Islami juga terasa. Namun karena banyaknya ornamen dan fasilitas yang ditambahkan oleh masyarakat Kong Hu Cu untuk keperluan ibadah mereka membuat nuansa Islam makin terkikis.

Namun yang unik dan tidak bisa disangkal adalah bangunan Klenteng Sam Poo Kong menyajikan bangunan bersejarah Islam yang dibalut dengan kebudayaan Tiongkok. Seperti yang terlampir pada jurnal karya Benedieta Sophie Mareella, bagian dari Klenteng Sam Poo Kong cukup banyak, mulai dari bangunan utama klenteng, Kyai Juru Mudi, Dewa Bumi, goa pemujaan Sam Poo Kong, Kyai Jangkar, Kyai Nyai Tumpeng, dan Kyai Tjundrik Bumi. Dari nama – nama bagian dari klenteng ini dipergunakan nama Islami, yaitu Kyai.

Source : phinemo.com (relief yang mengisahkan perjalnan Laksamana Cheng Ho)

Saat ini, selain dibuka untuk tempat ibadah agama Kong Hu Cu, Klenteng Sam Poo Kong juga dibuka sebagai tempat wisata. Bahkan Klenteng Sam Poo Kong ditetapkan oleh Tiongkok sebagai tujuan wisata yang patut dikunjungi oleh warga negaranya loh.

Namun untuk pengunjung wisata, hanya bagian luar saja yang bisa diakses. Hal ini untuk memberikan kekhusukan bagi warga yang melakukan ibadah di dalam klenteng. Banyak sekali spot foto yang instagrameble buat kamu coba. Hanya membayar dengan Rp 8.000 – 18.000 saja kamu bisa berwisata dan belajar sejarah di sini. Untuk jam bukanya sendiri Klenteng Sam Poo Kong buka dari jam 08.00 – 22.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *