BiografiSemua Artikel

Pendekar Arsitektur Nusantara yang Tiada Tara

Melestarikan Gereja Katedral Jakarta dan Gedung Museum Arsip Nasional serta membangun kampus Universitas Katolik Atma Jaya, Gedung Sekolah Pangudi Luhur, juga Gedung Conefo 1964-1972 yang lebih dikenal sebagai Gedung DPR-MPR. Siapa yang menciptakan karya-karya tersebut? Han Awal. Tidak, kali ini Arsminimalis bukan akan membahas beliau melainkan sang anak yang juga menjadi Arsitek terkenal nan handal.

Yori Antar, arsitek yang sangat diandalkan di Indonesia. Disebutkan 99.co bahwa ia menjadi andalan pemerintah untuk melestarikan rumah adat Indonesia dari ancaman kepunahan. Saking berjasanya, ia juga mendapat julukan Pendekar Arsitektur Nusantara. Yori Antar sangatlah peduli terhadap keberadaan rumah-rumah tradisional di Indonesia.

Sebelum kita membahas karya-karya dan perjalanannya dalam dunia Arsitektur, sebaiknya mari mencari tahu profil pria yang kerap kali disapa Yori ini. Yori memiliki nama lengkap Gregorius Antar Awal, tetapi lebih dikenal dengan Yori Antar. Ia lahir pada tanggal 14 Mei 1962.

Di awal perkuliahan, ia memilih program studi Teknik Mesin. Diberi nama Yori Antar oleh sang ayah karena terinspirasi dari Yuri Gagarin, salah satu kosmonot Rusia yang mengantariksa. Dari situ ia merasa jiwanya ditakdirkan untuk jurusan Teknik Mesin. Namun kenyataannya adalah ia hampir di drop out karena buruknya nilai yang didapat.

Kemudian ia memilih untuk pindah jurusan ke Arsitek. Dalam website Fortuner.id dijelaskan bahwa Yori merasa seperti pulang ke rumah sendiri dengan menjalani jurusan Arsitek tersebut. Hal tersebut dikarenakan sang ayah adalah seorang Arsitek. Han Awal banyak membangun rumah, sekolah, rumah sakit, dan gereja. Yori juga sering diajak datang ke proyek-proyek ayahnya untuk berkeliling. Jadi untuk masuk ke program studi tersebut pun rasanya sudah seperti rumah sendiri.

Source : Whiteboardjournal / Ardi Widja

Han Awal menjelaskan pada putranya ini bahwa bangunan harus berguna bagi masyarakat. Penjelasan itu dijadikan pedoman bagi Yori Antar. Yori juga punya prinsip untuk membangun bangunan sebagai tempat berkumpul dan interaksi lintas golongan dengan fasilitas manusiawi.

Dengan julukan Pendekar Arsitektur Nusantara, Yori memiliki gaya desain yang beda dari desain arsitektur pada umumnya. Desainnya memiliki gaya postmodernism-bold, complex, dan detailed. Dengan gaya seperti ini, Yori menjadikan estetika sebagai nilai kesekian. Yang utama adalah fungsi karena arsitektur bukanlah fashion, seperti yang dijelaskan Yori pada tim Whiteboardjournal.com. Style pada pakaian berganti seiring zaman, maka jangan samakan arsitektur dengan hal tersebut.

Baca juga :  Yu Sing Cetuskan Jasa Arsitek Minim Anggaran

Dilansir dari Whiteboardjournal.com, Yori dan kawan-kawan Arsitek pergi keliling dunia guna melakukan perjalanan ziarah arsitektur. Kegiatan itu dilakukan untuk melihat karya Arsitek ternama di dunia. Hal itu sampai saat di mana ia bosan dengan gaya arsitektur modern dan industrial. Yori pun memilih pergi ke tempat-tempat rustic. Ia memutuskan untuk mencari tempat yang lebih banyak mengandung unsur nilai lokal dan Tibet menjadi pilihannya.

Di perjalanan, ia dan teman-temannya memutuskan untuk menulis buku berjudul Tibet di Otak. Pemimpin agama Buddha sekaligus politikus di Tibet, Dalai Lama, diminta untuk membuat sambutan pada buku mereka.

Dalai Lama mengiyakan dan ada bagian yang menyebutkan, “Walaupun tidak banyak orang Indonesia mengenal Tibet, tapi dari dahulu sampai kini kami selalu mengenang Indonesia melalui guru besar kami asal India, Atisa Dipamkara yang telah berguru selama 8 tahun bersama Lama Serlingpa (pemimpin tinggi umat Buddha). Serlingpa adalah Suwarnadwipa yang berarti golden islands yang adalah Sumatera.”

Dijelaskan Whiteboardjournal.com bahwa Lama Serlingpa merupakan seorang Dharmakirti dari Sriwijaya. Dari situ Yori sadar bahwa orang lain lebih mengenal Indonesia ketimbang masyarakatnya sendiri. Mulai saat itu, Yori Antar melakukan perjalanan lebih sering di Indonesia guna melihat arsitekturnya.

Source : Jawapos.com

Pada tahun 2008, Yori dan beberapa teman Arsitek berkunjung ke Wae Rebo. Tempat yang berlokasi di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini menarik perhatian Yori lantaran Wae Rebo sebenarnya tidak ada dalam peta pariwisata Indonesia. Namun Wae Rebo sering dikunjungi wisatawan.

Di Wae Rebo, Yori melihat rumah tipe bulat kerucut dengan ukuran besar yang dihuni banyak keluarga. Ternyata, rumah tersebut tidak tercatat dalam cerita bahkan dokumentasi Arsitektur Nusantara. Jumlahnya tinggal tujuh, empat di antaranya masih bagus. Tiga rumah lagi sudah mulai rusak, ada beberapa bagian yang bocor. Warga di sana juga terlihat kesusahan untuk memperbaiki keadan rumah karena kondisi ekonomi mereka yang buruk.

Baca juga :  Ketika Bangunan Menjadi Sebuah Buku Kebudayaan
Source : Goodnewsfromindonesia.id

“Saya seolah-olah hanya mencari inspirasi melalui arsitektur-arsitektur Nusantara, tapi tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada masyarakat,” tutur Yori menyesal pada Swa.co.id. Lalu pada tahun yang sama, sepulangnya dari Wae Rebo, Yori dan beberapa Arsitek lain membuat gerakan bernama Rumah Asuh.

Yori menjelaskan bahwa program Rumah Asuh akan mengumpulkan dana dari siapapun yang tergerak hatinya. Lalu dana akan dialokasikan pada masyarakat setempat. Dana tersebut juga bisa dipakai untuk memperbaiki rumah di Wae Rebo yang mulai hancur. Pembangunan akan dijalankan sesuai apa yang nenek moyang mereka lakukan. Metode, material, struktur, penutup atap, termasuk tata ruang dan fungsi akan dibangun semaksimal mungkin mengikuti bangunan lama. Dalam waktu 3 tahun pun akhirnya tujuh rumah adat Wae Rebo kembali utuh. Bahkan di tahun 2012, dilansir dari Swa.co.id, Wae Rebo mendapat penghargaan Award of Excellence dari UNESCO-Asia Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok.

Setelah merevitalisasi rumah adat Wae Rebo, Yori kembali melakukan hal yang sama pada rumah-rumah adat yang lain. Gerakan Rumah Asuh juga menjadi sarana belajar untuk mahasiswa jurusan Arsitektur. Selain di Wae Rebo, program ini juga sudah berjalan di beberapa rumah adat di Nias, di desa adat Ratenggaro, Rumah Budaya di Waetabula, serta Balai Pertemuan untuk Musyawarah Adat Lobo Ngata Toro.

Source : MI / Sumaryanto

Sebagai Arsitek yang dikenal dengan karyanya menyulap rumah adat, Yori dipercaya lagi untuk mengubah Danau Toba menjadi Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) bertaraf Nasional. Tertulis di Kompas.com, Yori Antar dipilih karena selama ini dikenal sebagai Arsitek yang selalu memasukkan unsur budaya dalam karyanya.

Bagi Yori, budaya adalah unsur yang penting. Dalam Pembekalan Teknis Tim Rekam Proses Revitalisasi Desa Adat Pascabencana Tahun 2019, Yori menyampaikan materi terkait Arsitektur Nusantara. Yori Antar menjelaskan bahwa mentransfer budaya lisan menjadi tulisan ialah tugas Arsitek. Menurutnya, tradisi dan budaya bukanlah masa lalu. Dua poin itu akan selalu ada dan menjadi tugas generasi muda untuk melanjutkan serta mengembangkan.

2 pemikiran pada “Pendekar Arsitektur Nusantara yang Tiada Tara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *