Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Makna Menarik Rumah Gadang Milik Kota Padang

Source : wikipedia.com

Kalau berkunjung ke kota Padang tak lengkap rasanya kalau tidak melihat Rumah Gadang secara langsung. Berbicara Rumah Gadang khas Minangkabau ini banyak orang takjub akan keunikan arsitektur yang dimiliki. Minangkabau merupakan salah satu etnis Indonesia yang memiliki cara unik dalam mengekspresikan budayanya melalui konstruksi bangunan. Rumah Gadang terbentuk karena pengaruh sistem geanologis, yang dianut oleh masyarakat Minang yaitu sistem matrilineal. Dilansir dari kompas.com, sistem matrilineal adalah sistem yang menganut garis keturunan ibu. Rumah Gadang ini hanya diperuntukkan untuk perempuan. Kaum laki-laki tidak akan mendapatkan tempat di rumah ini.  ”Setelah menginjak usia akil balik, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah gadang. Mereka tidur di surau atau masjid dan hanya pulang saat akan makan atau ganti baju,” kata Alfa Sutan Rajo Bujang, keturunan pemilik Rumah Gadang kuno di Dusun Nagari, Desa Sumpu, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanah Datar kepada tim kompas.com.

Rumah Gadang disebut juga Rumah Bagonjong, karena bentuk atapnya yang bergonjong runcing menjulang. Gonjong tersebut berbentuk seperti tanduk kerbau yang berkaitan dengan tambo (cerita) tentang kemenangan orang Minangkabau dalam adu kerbau bersama raja Jawa pada zaman dahulu. Untuk mengenang kemenangan tersebut, masyarakat Minang membuat atap rumahnya menyerupai tanduk kerbau. Untuk badan bangunan rumah ini, memiliki bentuk seperti kapal. Dengan bentuk segi empat membesar ke atas seperti trapesium. Sisinya melengkung ke dalam dan rendah bagian bawah. Dari segi keindahan, hal tersebut merupakan komposisi yang dinamis. Selain itu juga salah satu bentuk keseimbangan keindahan yang sesuai dengan ajaran hidup masyarakat Minangkabau.

Baca juga :  Cara Memilih Warna yang Tepat untuk Kamar Mandi
Source : Dekoruma.com

Selain itu ternyata atap rumah ini memiliki beberapa macam. Dilihat dari jumlah gonjong, jika bergonjong dua rumah ini berfungsi sebagai ruang keluarga. Apabila bergonjong empat rumah tersebut menandakan milik kaum yang menjadi turunan Ninik Mamak penyandang gelar Sako Datok Penghulu. Kemudian untuk yang bergonjong lima milik Kepala Paruik yang digunakan sebagai tempat tinggal dan acara adat. Bergonjong enam milik Datuk Kepala Suku, pegawai adat, dan keturunan bangsawan. Terakhir, bergonjong delapan milik keturunan bangsawan setingkat menteri

Rumah ini juga memiliki tiang yang ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu pada batu besar dan lebar. Hal ini dibuat karena menyesuaikan kondisi alam Minangkabau yang terletak di dataran tinggi serta dekat dengan bukit barisan rawan gempa. Arsitag.com menjelaskan bahwa nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran lebih maju melampaui zamannya dalam membangun rumah. Kontruksi Rumah Gadang memang dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi. Menariknya rumah tersebut juga telah terbukti ketangguhannya saat terjadi gempa hingga diatas 8 skala Richter. Tetap berdiri stabil menerima guncangan serta mampu mendiskusikan getaran ke semua bangunan. Tidak menggunakan paku sebagai pengikat tetapi berupa pasak. Hal ini juga yang membuat rumah menjadi lentur dan tahan guncangan.

Untuk jumlah ruangan dari Rumah Gadang ini selalu berjumlah ganjil. Biasanya dimulai dari angka tiga. Namun, mayoritas masyarakat Minang memiliki tujuh ruangan. Menurut data pada jurnal yang berjudul Pola Ruang Dalam Bangunan Rumah Gadang di Kawasan Alam Surambi Pagi, Rumah Gadang biasanya memiliki tiga didieh. Didieh ini digunakan sebagai bilik ruang tidur yang dibatasi oleh dinding yang bersifat khusus dan pribadi. Untuk kamar yang tinggi dengan lebar sekitar 1.5 meter x 2 meter ditempati oleh anak perempuan  baru menikah. Jika ada anak lain baru menikah, mereka yang menempati kamar tersebut harus pindah. Biasanya kamar tersebut berisi dipan kayu dan jendela besar.

Baca juga :  Perjalanan Arsitektur Indonesia dari Masa ke Masa
Source : Bramble Furnitures

Untuk letak pintu dari Rumah Gadang, tidak semua pintu dari rumah ini menghadap ke jalan raya. Hal ini karena memang aturan sejak zaman dahulu. Makna dari pintu menyamping atau tidak menghadap jalan adalah aktivitas di dalam rumah tidak boleh terlihat langsung dari luar rumah. Sebisa mungkin kegiatan di dalam rumah tidak ada yang mengetahui dan lebih terjaga. Selain itu juga untuk mengurangi terjadinya penyimpangan atau penilaian buruk oleh masyarakat yang lalu lalang di depan rumah.

Source : Bramble Furnitures

Ternyata setiap bentuk, pola tata ruang, hingga fungsi dari rumah tradisional sudah dipikirkan secara matang oleh nenek moyang terdahulu. Menurut Rapoport (1969) ada lima aspek yang mempengaruhi bentuk rumah tinggal yaitu kebutuhan, keluarga, wanita, privasi, dan hubungan sosial. Jadi, tidak heran jika semua rumah tradisional memiliki filosofi tersendiri dan sisi lain yang unik untuk dibahas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *