Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Makna Fisik dan Filosofi Rumah Honai

Source : instagram.com/nan_bugis

Hampir setiap suku di Indonesia memiliki kekayaan arsitektur lokal. Bahkan jauh sebelum arsitektur modern dikenal. Para leluhur telah mengembangkan arsitektur dengan kesederhanaan dan kejujuran material yang digunakan. Salah satunya adalah Rumah Honai. Rumah Honai merupakan rumah dari adat Suku Dani yang tinggal di lembah Baliem, Jayawijaya, Papua. Terutama pada ketinggian 1600-1700 meter di atas permukaan laut, rumah ini sangat mudah ditemukan. Selain Suku Dani, terdapat beberapa suku lainnya yang hidup bertetanggaan seperti Suku Yali dan Suku Lani dengan populasi sekitar 100.000 jiwa.

Menurut buku Rumah Honai milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, rakyat Suku Dani dulunya tinggal di bawah pohon besar hingga akhirnya mereka kenal dengan Rumah Honai. Masyarakat Suku Dani sangat bergantung pada alam. Mereka belajar bertahan hidup dari alam. Tidak peduli hujan, panas, dingin, mereka tetap menggantungkan hidupnya pada alam. Hingga suatu waktu para penduduk Suku Dani memperhatikan burung-burung yang sedang membuat sarang untuk tempat tinggal jika hendak bertelur. Berdasarkan pengamatan itu, rakyat Suku Dani mulai belajar membuat rumah yang dapat melindungi mereka dari terik matahari dan dinginnya malam. Hingga akhirnya rumah tersebut diberi nama Honai yang berarti rumah.

Rumah ini memiliki bentuk dasar lingkaran dengan kerangka kayu dan bendinding anyaman. Memiliki atap dengan bentuk kerucut yang terbuat dari jerami. Tingginya hanya 2.5 meter, jika dilihat dari udara rumah ini seperti jamur yang berjejer di sepanjang lembah. Dalam data Litbang Perumahan dan Permukiman menyebutkan bahwa keragaman bentuk maupun penggunaan bahan bangunan sangat dipengaruhi oleh kondisi lokus dan ketentuan dalam setiap kelompok suku. Jadi memang benar, jika kondisi suatu tempat sangat berpengaruh dalam setiap model bangunan.

Baca juga :  Perjalanan Arsitektur Indonesia dari Masa ke Masa

Bentuk rumah dengan atap menutup hingga ke bawah ini ternyata memiliki filosofi tersendiri. Ia memiliki fungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan. Sekaligus dapat meredam hawa dingin agar tidak termasuk ke dalam rumah. Rumah Honai ini tidak memerlukan jendela karena suhu di sana mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. Hanya terdapat satu pintu untuk akses keluar-masuk dengan ventilasi kecil.

Ternyata, meski terlihat kecil rumah ini memiliki dua lantai. Lantai satu digunakan untuk beristirahat, sedangkan lantai dua digunakan untuk makan sambil berkumpul bersama keluarga. Hal menarik lainnya, rumah ini hanya boleh dihuni oleh kaum laki-laki saja. Sedangkan rumah kaum perempuan disebut Rumah Ebei dan Wamai sebutan untuk kandang binatang. Ketiganya memiliki bentuk sama tetapi untuk ukuran rumah laki-laki lebih tinggi dibanding lainnya.

Source : Rumahadatindonesia.com

Untuk alas yang digunakan di dalam rumah ini bernama Lokop atau Pinde. Bahannya menyerupai rotan karena lentur, tetapi bagian dalamnya berongga seperti bambu. Lalu dianyam menjadi satu digunakan sebagai alas untuk tidur. Di dalam rumah ini juga terdapat tungku api yang berfungsi sebagai penghangat saat tidur. Tungku ini juga berfungsi sebagai tempat untuk membakar ubi. Pada bagian sekeliling Honai juga terdapat saluran air yang berfungsi untuk mencegah air hujan masuk ke dalam Honai.

Baca juga :  Makna dan Filosofi Gapura Candi Bentar pada Rumah Adat Bali

Tak hanya memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, Honai juga berfungsi sebagai penyimpanan peralatan perang atau berburu. Bahkan berfungsi sebagai tempat untuk melatih anak laki-laki agar menjadi orang yang kuat saat dewasa sehingga dapat melindungi sukunya. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat menyusun strategi perang dan tempat menyimpan barang warisan dari leluhur.

Source : Steemit.com

Melihat fungsi dari Honai, ternyata rumah ini tidak hanya memiliki fungsi secara fisik. Namun juga memiliki filosofi penting yang terus dipertahankan oleh masyarakat Baliem. Rumah ini juga menjadi senjata untuk menjaga kesatuan dan persatuan sesama suku serta menjaga kebudayaan warisan leluhur. Dengan tinggal dalam satu Honai maka semua orang akan sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Fungsi terakhir, rumah Honai merupakan simbol dari kepribadian yang merupakan martabat dan harga diri dari rakyat Suku Dani.  Oleh karena itu, harus dijaga oleh keturunan atau anak cucu di kemudian hari. Itulah pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur, agar bisa terus dikenang dan dikembangkan agar tidak lenyap begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *