BiografiSemua Artikel

Keistimewaan Friedrich Silaban Pemilik Karya Berjudul Ketuhanan

Source : muslimobsession.com

Friedrich Silaban merupakan seorang Arsitek ternama di Indonesia yang memiliki karya luar biasa. Lahir dari keluarga pendeta miskin di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912. Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, ia ternyata memiliki kesempatan untuk bersekolah di Hollands Inlandsche School (HIS) di Naromunda, Tapanuli. HIS merupakan sekolah yang dikhususkan bagi masyarakat pribumi terpandang dan berbahasa Belanda. Friedrich memiliki kesan baik di mata teman-temannya. Meski bukan golongan orang terpandang, beliau memiliki berbagai prestasi seperti sering loncat kelas karena sudah menguasai mata pelajaran.

Pada tahun 1927, beliau mengikuti tes seleksi sekolah teknik menengah di Koningin Wilhemina School (KWS). Ternyata Friedrich lulus seleksi lalu melanjutkan tes lisan ke Batavia. Hanya berbekal alamat sahabat orangtuanya dan 100 gulden Belanda. Sesampainya di KWS, kepala sekolah menerima secara langsung tanpa tes karena nilai ijazahnya yang cukup bagus.

Setelah lulus dari KWS, Friedrich bergabung sebagai juru gambar bangunan BOW pada kotapraja Batavia. Selain itu, beliau juga bekerja sampingan dan sempat memamerkan karyanya di ajang pasar gambir. Pada tahun 1942 Friedrich Silaban diangkat menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bogor (Directeur Van Gemeentewerken te Buitenzorg) menggantikan pejabat Belanda. Jabatan ini berlangsung hingga 1947. Di tahun 1949 diangkat menjadi Direktur Pekerjaan Umum, beliau juga pernah menduduki jabatan tertinggi di Dinas Pekerjaan Umum Kotapraja Bogor.

Mulai dari tahun 1942-1949, karir Friedrich meningkat pesat. Namun di tengah masa kejayaannya ini beliau juga sempat bertemu dengan Ketty Lewis, gadis cantik keturunan Betawi-Belandayang. Tanpa rang tua Ketty meminta restu untuk menikahi anaknya. 18 Oktober 1946, Friedrich dan Ketty menikah dan resmi menjadi suami-istri.

Baca juga :  Rumah Mewah Kaya Histori di Kampung Kemasan

Nama Friedrich Silaban mencuat dan dikenal masyarakat karena beliau perancang bangunan legendaris yang menjadi ikon di Indonesia. Monumen Nasional (Monas) merupakan hasil rancangannya yang berkolaborasi dengan R.M Soedarsoni. Masjid Istiqlal pun juga hasil karyanya, dimenangkan dari sayembara yang diadakan oleh Soekarno. Sayembara tersebut diadakan tahun 1955 dan diikuti oleh 30 orang peserta. Soekarno sebagai ketua dewan juri mengumumkan bahwa Friedrich Silaban pemenang sayembara dengan judul “Ketuhanan”. Arsitek dengan latar belakang agama Kristen Protestan ini mengonsep masjid tersebut dengan bangunan ibadah yang memiliki simbol kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Foto maket Maket masjid Istiqlal yang dibuat oleh arsitek Friedrich Silaban. (Galeri Nasional Indonesia)

Selain itu, Soekarno menjuluki Friedrich sebagai “By the Grace of God karena telah memenangkan sayembara tersebut. Dalam membuat rancangan masjid itu, F. Silaban mempelajari rupa-rupa masjid dari Aceh hingga Madura. Beliau ingin menciptakan sebuah masjid yang baru. Namun, sebagai seorang Kristiani, dia mengalami pergulatan batin karena merancang masjid, tempat ibadah umat Islam. Selama membuat sketsa masjid, dia selalu berdoa. “Tuhan, kalau di mata-Mu saya salah merancang masjid, maka jatuhkanlah saya, buatlah saya sakit supaya saya gagal. Tapi jika di mata-Mu saya benar, maka menangkanlah saya,” ujar Poltak Silaban, putra ketiga Silaban, menirukan doa yang selalu diucapkan ayahnya, kepada Historia. Tuhan mengabulkan doa F. Silaban. Karyanya yang bertajuk “Ketuhanan” dipilih Soekarno. Namun, kemenangan Silaban sempat mengundang perdebatan. “Memang sempat ada polemik mengenai pemenang sayembara, namun tidak lama. Ya, karena agama papi yang Kristen kok bisa merancang masjid. Tapi di sini hebatnya Soekarno. Saat itu, siapa sih yang berani melawan Soekarno,” ujar Poltak. “Bahkan, kabarnya papi sempat dipeluk oleh Hamka karena karyanya itu.”

Baca juga :  Pola dan Tata Letak Rumah untuk Usia Lanjut
Soekarno (kiri) dan arsitek Friedrich Silaban (kanan) (Galeri Nasional Indonesia)

Kesederhanaan ide F. Silaban rupanya berbuah kemegahan. Masjid yang dirancang berdiri berdampingan dengan Gereja Katerdral seperti yang tampak hingga saat ini. Berdiri di atas lahan seluas 9,5 hektare. Kubahnya bergaris tengah 45 meter, ditopang 12 pilar raksasa serta 5138 tiang pancang. Dindingnya berlapis emas. Air mancur besar melambangkan “Tauhid” yang berada di barat daya masjid. Dilengkapi juga dengan menara setinggi 6666 meter sesuai dengan jumlah ayat Al-quran.

Friedrich Silaban ternyata pernah mendalami model arsitektur dari Belanda dengan melihat dan menyentuh secara langsung dan mempelajarinya. Perjalanannya ke penjuru dunia, terutama setelah kunjungannya ke India, menyiratkan satu hal bahwa jiwa sebuah bangsalah yang mendefinisikan arsitektur bangsa tersebut.

Source : arsminimalis

Arsitek yang memiliki banyak keistimewaan ini tutup usia pada hari Senin, 14 Mei 1984 di RSPAD Gatot Subroto karena mengalami komplikasi. Beliau pergi setelah mengukir prestasi yang lebih tinggi nilainya dibanding dengan karya seni dan teknologi. Beliau telah berhasil mengukir sejarah kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan. Kini namanya dikenang sepanjang zaman dan patut menjadi contoh bagi generasi penerus.

3 pemikiran pada “Keistimewaan Friedrich Silaban Pemilik Karya Berjudul Ketuhanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *