Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Rumah dalam Uang Sepuluh Ribu Rupiah

Source : lifestyle.okezone.com/Erika

Kamu pasti sering menemukan gambar rumah yang ada di uang Rp10.000. Tahukah kamu rumah adat mana yang ada dalam uang Rp10.000? Apa nama rumah tersebut? Yap, Rumah Adat Limas dari Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan memiliki rumah adat yang unik salah satunya adalah Limas. Sesuai dengan namanya, rumah ini juga berbentuk panggung. Tiang penyangga rumah adat ini memiliki ketinggian sekitar 1,5 meter hingga 2 meter dari permukaan tanah. Hal ini karena beberapa wilayah di Sumatera Selatan berdekatan dengan rawa dan sungai. Jadi, rumah panggung ini dapat menghindari air masuk ke dalam rumah. Kolong dalam rumah ini juga digunakan untuk menyimpan barang.

Dilansir dari dekoruma.com, salah satu elemen yang menonjol pada Rumah Limas adalah desain atap yang dihias menggunakan ornamen simbar berbentuk tanduk dan melati. Simbar ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi tetapi juga sebagai penangkal petir.

Masing – masing Rumah Limas memiliki jumlah simbar yang berbeda. Dua simbar melambangkan Adam dan Hawa, tiga simbar melambangkan matahari, bulan, dan bintang, empat simbar melambangkan sahabat nabi, sedangkan lima simbar melambangkan rukun Islam.

sumber : 99.co

Dijelaskan juga bahwa Rumah Limas umumnya dibuat menghadap ke arah timur dan barat. Pemilihan arah ini berdasarkan filosofi yang berkembang di kalangan masyarakat. Arah timur berarti “Matoari Edop” di mana matahari muncul yang menandakan awal mula kehidupan manusia. Sedangkan arah barat berarti “Matoari Mati” yang menandakan matahari terbenam dan melambangkan akhir dari kehidupan manusia.

Disebutkan di rumah.com, sebagian besar material Rumah Limas terbuat dari kayu unggulan yang pemilihannya disesuaikan dengan karakter kayu dan kepercayaan masyarakat di Sumatera Selatan. Contohnya adalah kayu seru yang tidak boleh diinjak dan dilangkahi, maka kayu seru digunakan sebagai kerangka rumah. Sementara itu, kayu unglen yang berstruktur kuat dan tahan air digunakan sebagai fondasi. Selanjutnya, kayu tembesu yang juga kuat digunakan untuk dinding, lantai, jendela, dan pintu.

Baca juga :  Pendekar Arsitektur Nusantara yang Tiada Tara
sumber : kumparan.com

Dikutip dari 99.co, Rumah Limas terbagi menjadi tiga ruangan, yaitu ruang depan, tengah, dan juga belakang. Ruangan ini memiliki fungsi yang berbeda – beda. Ruang bagian depan sering disebut beranda. Di sini terdapat dua buah tangga untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang bagian depan juga terdapat gayung dan gentong berisi air yang digunakan untuk mencuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Ruangan ini biasanya digunakan untuk beristirahat dan bersantai bersama anggota keluarga.

Sedangkan untuk ruangan bagian tengah terdapat beberapa kekijing. Pada setiap kekijing terdapat dua buah jendela yang terletak di sebelah kanan dan kiri. Pada kekijing yang terakhir terdapat lemari dinding yang digunakan untuk sekat. Tiap ruangan memiliki filosofi mendalam yang diatur dengan kekijing. Dalam kekijing terdapat lima tingkatan ruangan yang dibedakan berdasarkan penghuninya yaitu usianya, jenis kelamin, bakat, pangkat, dan martabat.

Tingkatan pertama adalah trenggalung. Trenggalung merupakan ruangan yang difungsikan untuk menerima tamu jika pemiliknya sedang mengadakan hajat. Pada ruangan ini terdapat pagar trenggalung, uniknya jika dilihat dari luar suasana di dalam ruangan tidak terlihat, namun orang yang ada di ruangan bisa melihat suasana di luar. Hal menarik lainnya yang ada di ruangan ini adalah lawang kipas. Lawang atau pintu yang jika dibuka akan membentuk langit-langit ruangan, namun jika ditutup akan membentuk dinding dan selasar pada ruangan trenggalung.

Baca juga :  Berkunjung ke Masjid Cheng Ho dan Menengok Keindahan Arsitektur yang Melambangkan Perbedaan

Ruangan kedua setelah trenggalung adalah jogan. Kekijing tingkat dua ini diperuntukan bagi anggota keluarga pemilik rumah yang berjenis kelamin laki-laki. Masuk lebih ke dalam, kekijing tingkat tiga lebih memiliki privasi ketimbang ruangan sebelumnya, hal tersebut terlihat dari adanya penyekat ruangan. Ruangan tingkat tiga ini hanya digunakan oleh tamu undangan khusus ketika pemilik rumah sedang mengadakan hajat.

Masuk ke kekijing tingkat empat, ruangan ini hanya boleh digunakan oleh orang-orang yang dihormati dan mempunyai ikatan darah dengan pemilik rumah. Sementara kekijing tingkat lima disebut juga dengan ruangan gegajah. Ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh orang yang dihormati dan mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam keluarga dan masyarakat. Uniknya di dalam ruangan gegajah terdapat undakan lantai yang disebut amben. Amben inilah yang digunakan untuk mengadakan musyarawah para penghuni gegajah. Selain itu juga terdapat kamar pengantin, yang hanya difungsikan jika pemilik rumah sedang mengadakan pesta pernikahan.

sumber : dekoruma.com

Uniknya Rumah Limas ini dibangun tanpa menggunakan paku yang bisa dibongkar pasang. Meskipun saat ini Rumah Limas sudah jarang ditemui, buat kamu yang ingin melihat uniknya Rumah Limas dapat berkunjung ke Museum Negeri Sumatera Selatan. Rumah tersebut sudah dibangun sejak tahun 1830 dan sudah bekali – kali dipindahkan ke berbagai tempat sebelum akhirnya berhenti di museum.

2 pemikiran pada “Rumah dalam Uang Sepuluh Ribu Rupiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *