ReviewSemua Artikel

Kafe Nuansa Belanda di Tengah Kota Jakarta

Source : wartakota.tribunnews.com/Yosia Margaretta

Jalan-jalan ke Kota Tua rasanya belum lengkap kalau belum nyobain nongkrong di Kafe Batavia. Kafe ini terletak di depan Museum Fatahillah, Jakarta. Bangunan kafe ini masih tetap menggunakan model bangunan khas Kolonial Belanda. Bangunannya antik berwarna kehijauan membuat saya seperti berada di masa lalu. Alunan musik lembut terdengar membuat suasana semakin cozy. Interiornya terbuat dari kayu lama yang masih sangat bagus kualitasnya. Kafe ini memiliki jendela yang besar dan tinggi. Dinding-dindingnya dipenuhi berbagai poster dan foto-foto artis lama dari mancanegara.

Soruce : www.cafebatavia.com
Source : Kompas.com/Nabilla Ramadian

Sebelum mengulas lebih jauh tentang kafe ini, saya akan mengulas sedikit sejarah dari bangunan kafe ini. Pada tahun 1805,  proses konstruksi gedung kafe Batavia mulai dibangun, bertahap hingga tahun 1850 dan digunakan sebagai kantor administrasi VOC. Namun menurut buku Menyisir Jejak Batavia karya Windoro Adi, bangunan ini dibangun pada tahun 1837 yang dulunya pernah digunakan sebagai salah satu kantor Pemerintah Hindia Belanda.

Lalu, pada tahun 1990 Paul Hassan, penduduk asli Perancis, membeli gedung dan mengubahnya jadi sebuah galeri seni. Hingga tahun 1991, Eka Chandra membeli bangunan tersebut dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi sebuah kafe yaitu Kafe Batavia. Bangunan ini dirubah sedekimikan rupa namun tetap menerapkan unsur aslinya agar suasana klasiknya tetap terasa. Tahun 1993, akhirnya Cafe Batavia dibuka untuk umum pertama kalinya.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua dari kafe ini, kita serasa dibawa ke dalam suasana Eropa. Bentuk desain bangunan itu, membuat ingatan pengunjung bernostalgia secara tiba-tiba mengenai bangunan Eropa atau Belanda pada saat melihatnya. Belum lagi penglihatan kita akan dipenuhi  oleh puluhan foto hasil jepretan pada pertengahan abad ke-18 sampai awal abad ke-19. Kurang lebih sekitar ribuan frame foto yang dipasang dengan rapi. Semua foto tersebut merupakan koleksi pribadi pemilik kafe. Spot unik ini yang sering dijadikan sebagai latar prewedding pasangan muda.

Baca juga :  Open Plan, Konsep Minim Budget
Source : Detiktravel.com

Sesampainya di lantai dua, kita seperti hidup pada masa abad ke-19. Perabotan, vas, bar dan perangkatnya, lampu-lampu tembok, dan plafon yang digantungi kain terawangan warna putih, semuanya sengaja dibuat untuk membangun suasana masa kolonial Belanda di Batavia.

Source : Biem.co

Kate Batavia yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta ini memiliki 60 meja dengan 250 kursi. Mayoritas pengunjung kafe  adalah wisatawan asing yang memiliki ketertarikan terhadap desain interior dan sejarah dari bangunan.

Dilansir dari kompas.com, saat pemilik Kafe Batavia merenovasi bangunan itu pada tahun 1992 sempat kaget. Ternyata ada sebuah lorong penjara bawah tanah yang menghubungkan bangunannya dengan gedung balaikota. “Ketika kami hendak menutup lorong tersebut, kami melihat tumpukan tulang belulang di lorong penjara,” ucap Eka pada tim Kompas.com saat diwawancara. Kisah ini lalu ia hubungkan dengan pengalaman mistik sejumlah wisatawan asing, terutama dari Belanda, Australia, dan Jepang, saat berkunjung ke kafe. “Mereka melihat sosok seorang perempuan pribumi. Perempuan itu berbusana kebaya merah, seorang nyai, istri simpanan pejabat Belanda dulu,” imbuhnya kepada rekan dari kompas.com. Pengalaman mistik ini tak  membuat pengunjung berkurang, tetapi justru membuat pengunjung semakin banyak. Mereka ingin mengalami pengalaman aneh itu sendiri.

Baca juga :  Kafe Nuansa Tropis, Pengunjung Betah Duduk Manis

Kekuatan suasana di kafe ini memang pada pajangan foto dan interior masa lalunya. Wisatawan asing yang berkunjung ke kafe ini jarang melewatkan kesempatan mengambil gambar di Batavia Cafe. Menurut Eka, sebagian wisatawan asing mengenal kafenya justru ketika mengunjungi Museum Tropen, Belanda. Museum itu membuat brosur kota tua Batavia dan merekomendasi pengunjung ke Kafe Batavia.
Kafe Batavia buka setiap hari dan memiliki perbedaan jadwal. Senin-Kamis jam 08.00-24.00, Jum`at jam 08.00-01.00 dini hari, Sabtu jam 07.00-01.00, dan untuk hari Minggu buka jam 07.00-24.00 WIB.

Ternyata Kafe Batavia juga pernah mendapat beberapa penghargaan. Pada tahun 1994 dan 1996 mendapatkan penghargaan “The World Best Bar” dari NewsWeek untuk “Churchill Bar”. Dan tahun 2005-2006 mendapatkan penghargaan “Best Fine Dining Restaurant (runner up) in Jakarta” oleh Majalah Jakarta Java Kini.

Tak akan merasa rugi saat berkunjung ke Kafe Batavia ini. Kita tidak hanya dimanjakan dengan interior yang bergaya vintage, kita juga akan mendengar alunan musik jazz yang membuat kita membayangkan suasana Batavia pada zaman dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *