Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Rumah Gadang, Desain Tahan Gempa

Tak hanya kaya seni budaya, Indonesia dengan keragaman suku bangsa juga memiliki kekayaan arsitektur yang unik dan indah. Setiap daerah memiliki kekayaan arsitektur masing-masing yang teraplikasi dengan indah pada banyak rumah-rumah adat daerah.

Tak banyak bangsa di dunia yang memiliki keragaman arsitektur seperti yang dimiliki Indonesia. Kekayaan arsitektur nusantara ini juga menjadi bukti tingginya peradaban bangsa Indonesia sejak dulu.

Salah satu keindahaan arsitektur nusantara itu ada pada Rumah Gadang, atau biasa juga disebut Rumah Bagonjong, rumah adat Suku Minangkabau. Selain indah, rumah adat ini kaya akan filosofi dan juga memiliki keunikan tersendiri.

Keunikan dari segi arsitektur adalah rumah adat ini memiliki atap yang runcing menyerupai tanduk kerbau. Dahulunya terbuat dari bahan ijuk yang tahan sampai puluhan tahun, belakangan atap rumah ini banyak berganti dengan atap seng.

Rumah Gadang dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian, muka dan belakang. Bagian depan biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan umumnya bermotif akar, bunga, daun serta bidang persegi empat, dan genjang.

(source lihat.co.id)

Setiap elemen dari Rumah Gadang mempunyai makna tersendiri yang dilatari oleh tambo yang ada dalam adat dan budaya masyarakat setempat. Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri.

Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam yang telah bersuami berhak memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Baca juga :  Rumah Tahan Gempa dari Minahasa Terkenal Hingga Mancanegara

Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan.

Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.

Hebatnya, sejak zaman dahulu nenek moyang kita telah memperhitungkan faktor geografis wilayahnya dalam membangun rumah adat. Wilayah Minangkabau diketahui memang rawan gempa karena berada di jajaran bukit barisan dan beberapa gunung berapi, maka arsitektur Rumah Gadang pun memperhitungkan desain yang tahan gempa.

Rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan rumah dibuat besar ke atas, namun tidak mudah roboh oleh goncangan. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu.

Ketika gempa terjadi Rumah Gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tonggak atau tiang itu berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel, sehingga Rumah Gadang yang dibangun secara benar akan tahan terhadap gempa.

(source lihat.co.id)

Pada umumnya Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada bagian depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet pada dinding.

Baca juga :  Joglo, Rumah Adat yang Mulai Terasingkan

Di halaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang atau lumbung penyimpan padi. Pada sayap bangunan Rumah Gadang sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang Anjuang sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu Rumah Gadang dinamakan juga sebagai rumah Baanjuang.

Anjung pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga, sedangkan pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda.

Golongan pertama menganut prinsip pemerintahan yang hierarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan kedua anjuang seolah-olah mengapung di udara.

Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah Surau Kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat belajar silat, sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

(source lihat.co.id)

Arsitektur Rumah Gadang yang cantik dan unik ini banyak menginspirasi arsitek dunia. Salah satunya Ton van de Ven, arsitek berkebangsaan Belanda mengadopsi desain Rumah Gadang pada bangunan The House of the Five Senses, di Negeri Belanda. Bangunan ini memiliki lima puncak atap yang melambangkan lima indra manusia.

Bangunan ini dioperasikan sejak tahun 1996 dan digunakan sebagai gerbang utama dari Taman Hiburan Efteling. Guinness Book of Records menetapkan bangunan setinggi 52 meter dan luas atap 4500 meter persegi itu sebagai bangunan berkonstruksi kayu dengan atap jerami yang terbesar di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *