Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Joglo, Rumah Adat yang Mulai Terasingkan

Source : finansialku.com

Beragam suku, bahasa, dan budaya. Itulah yang menjadi salah satu ciri khas dan kelebihan negara kita Indonesia. Keanekaragaman itulah yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Dari Sabang sampai Merauke terdapat banyak sekali suku yang mendiami tiap – tiap wilayah di Indonesia. Berdasarkan data dari jurnal karya Agus Joko Pitoyo, berdasarkan hasil kerjasama antara BPS dan ISEAS (Institute of South Asian Studies) merumuskan bahwa terdapat 633 suku dan subsuku yanga ada di Indonesia.

Atas beragamnya suku yang mendiami Indonesia, tak bisa disangkal memang ada banyak kebudayaan yang tumbuh berkembang di bumi pertiwi ini. Baik berupa musik, tarian, pakaian atau kebudayaan lainnya, Indonesia kaya akan hal itu.

Dari sekian banyak kebudayaan yang ada, salah satu yang patut kita banggakan pula adalah rumah adat. Dari masing – masing suku yang ada di Indonesia, biasanya mereka selalu memiliki rumah adatnya sendiri. Dengan mengusung konsep ciri dan kebiasaan dari suatu suku itu sendiri rumah adat biasanya terbentuk. Terhitung kurang lebih rumah adat yang kita memiliki sebanyak 35 macam rumah adat yang tersebar di Indonesia.

Dari 35 rumah adat yang ada, semua memiliki ciri khas dan keunikan masing –  masing, bahkan tidak ada yang memiliki kesamaan persis. Semua rumah adat selalu mencerminkan masing – masing suku itu sendiri. Salah satu rumah adat yang cukup dikenal masyarakat luas adalah rumah adat Joglo khas masyarakat Jawa.

Sumber : nyero.id

Rumah adat Joglo adalah salah satu rumah adat khas masyarakat Jawa,  khususnya masyarakat Jawa yang mendiami daerah Jawa Timut dan Jawa Tengah. Namun terdapat perbedaan antara Joglo Jawa Timur dengan Joglo Jawa Tengah, walaupun tidak terlalu banyak.

Rumah adat Joglo khas Jawa Timur terbuat dari kayu jati. Selain itu rumah adat ini identik dengan bentuk atap Tajug. Bentuk atap ini mengambil konsep bentuk sebuah gunung. Bentuk gunung ini sendiri memiliki makna terhadap kepercayaan masyarakat Jawa dahulu terhadap para Dewa. Di mana gunung dianggap menjadi tempat tinggal para dewa dan dianggap suci dan sakral oleh masyarakat Jawa kala itu.

Baca juga :  Sejarah Gedung Batu Klenteng Sam Poo Kong

Selain itu, perpaduan tiga agama sangat terasa pada bentuk dan tata ruang rumah adat Joglo, yaitu Islam, Hindu, dan Budha. Bahkan kepercayaan animisme juga ada dalam pengaplikasian bentuk atau tata ruang dalam rumah ini.

Kaya akan filosofi yang mencerminkan masyarakat Jawa tak membuat rumah adat Joglo dilestarikan sampai sekarang. Rumah adat jolgo sudah mulai jarang ditemukan di daerah Jawa Timur. Hanya di beberapa daerah saja rumah Joglo masih bisa ditemukan, seperti daerah Ponorogo dan Situbondo. Namun untuk eksistensinya rumah Joglo sekarang terkesan sudah mulai terasingkan. Hal ini tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah baik daerah, provinsi maupun pusat dalam melestarikan rumah adat Joglo ini.

Sumber : romadecade.org (salah satu bagian “pendopo” yang sangat penting bagi rumah adat joglo, karena mencerminkan sifat paguyuban yang dimiliki masyarakat Jawa}

Fenomena mulai menghilangnya kebudayaan Indonesia memang sudah cukup mengkhawatirkan. Bukan hanya rumah adat saja, namun semua kebudayaan. Selain faktor dari pemerintah, faktor masyarakat yang terkesan mengababaikan kebudayaan sendiri juga menjadi penyebab utama mulai menghilangnya kebudayaan kita. Masyarakat saat ini seakan terbuai dengan kehidupan modern dan mulai melupakan nilai – nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Hal itu juga yang menjadi penyebab ruma Joglo sudah jarang kita temui. Sebutan “ndeso” terhadap seseorang yang masih mempertahankan kebudayaan lama menjadi penyebab orang – orang enggan untuk hidup dan melestarikan kebudayaan itu. Selain itu juga masih kurangnya perhatian dari pemerintah dalam menyikapi hal seperti ini menjadi penyebab lainnya kebudayaan kita makin tak terekspos.

Mungkin kebanyakan masyarakat berfikir “Ya kan ini rumah kami, jadi ya terserah kami dong mau bangun yang seperti apa”, “ya kalau rumahnya masih seperti zaman dahulu, Joglo contohnya faktor kekuatan bangunannya kurang, jadi keselamatannya tak setinggi bangunan umum seperti sekarang,”.

Ketika mendengar beberapa alasan utama dari para masyarakat yang enggan untuk mempertahankan rumah adat Joglo, alasan itu masih dibilang ada benarnya juga. Tapi apakah kita dan pemerintah harus diam saja dengan kepunahan rumah adat Joglo yang sudah bisa kita lihat dari saat ini?

Baca juga :  Rumah Gadang, Desain Tahan Gempa

Tentu masih banyak cara – cara yang bisa kita tempuh untuk tidak membiarkan rumah adat khas mayarakat Jawa ini menghilang digerus oleh zaman. Salah satunya menjadikan kampung dengan rumah Joglo yang masih cukup banyak untuk di jadikan destinasi wisata. Cara ini menurut saya cukup patut dicoba mengingat wisata yang mengandung unsur Joglo di Jawa Timur hanya Joglo Park di Mojokerto saja. Bahkan Joglo Park bukan sebuah destinasi wisata yang khusus untuk belajar kebudayaan rumah Joglo tersebut, namun lebih ke wahanan bermain yang di mana salah satu tempat makannya menggunakan rumah adat Joglo.

(Minimnya tempat wisata yang bisa dijadikan pengenalan terhadap rumah adat joglo menjadi salah satu faktor banyaknya masyarakat yang sudah mulai melupakan kebudayaan kita)

Dengan peluang yang ada tersebut, pemerintah daerah maupun provinsi bisa menggunakan konsep Kampung Warna – Warni di Malang untuk memperkenalkan rumah adat Joglo ke masyarakat luas, semisal membuat “Kampung Joglo” yang di mana pada kampung itu semua menggunakan rumah adat Joglo. Selain memperkenalkan kembali rumah Joglo, dengan mengusung konsep “kampung Joglo” tentu akan membawa sebuah suasana baru pada kampung itu, yang cukup bisa menarik perhatian para wisatawan tentunya.

Sumber : dekatour.com (konsep kampung warna – warni yang bisa dijadikan refrensi untuk membuat kampung joglo)

Atau cara lain yang bisa kita lakukan untuk mencegah kepunahan rumah adat Joglo dengan membuat event atau acara yang berkaitan dengan Joglo. Semisal membuat event lomba film dokumenter tentang rumah adat Joglo, di mana pemenang dari lomba tersebut akan mendapatkan hadiah yang cukup lumayan tentunya. Cara ini juga sudah dibuktikan oleh para mahasiswa UI yang meluncurkan film dokumenter tentang rumah adat Ngadha NTT.

Beberapa cara tadi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Untuk memperkenalkan, mengingatkan, dan melestarikan kembali rumah adat Joglo ke masyarakat luas. Jangan sampai Indonesia yang terkenal dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki perlahan – lahan menghilang satu – persatu karena perubahan zaman. Tentu kita sebagai masyarakat yang hidup pada zaman sekarang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya agar anak cucu kita kelak masih bisa mengenal budaya kita yang turun – temurun ini.

2 pemikiran pada “Joglo, Rumah Adat yang Mulai Terasingkan

  1. Padahal jika dirasakan, rumah joglo lebih memiliki suasana yang sejuk dan nyaman. Sayang jika lama kelamaan rumah joglo tergantikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *