Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Alun-alun Merdeka Malang, Titik Kumpul Yang Kini Tengah Malang

Penat, banyak tekanan layaknya tombol, dan juga stres menghadapi rutinitas. Itulah mengapa saya mencoba mengalihkan pikiran untuk menghilang penat yang melanda. Di beberapa minggu ini memang kita sedang dihadapkan oleh sebuah serangan dari suatu makhluk yang tak nampak namun nyata adanya dan memang terbukti berbahaya.

Dirumah aja merupakan tagline yang digunakan pemerintah utnuk menahan masyarakat agar tidak melakukan aktifitas diluar rumah, mengingat rantai penyebaran COVID-19 sangatlah cepat. Tentu dirumah selama berminggu-minggu bukan lah pekerjaan yang menyenangkan untuk mereka yang biasa dengan mobilitas yang tinggi.

(Aktifitas pengunjung saat pagi yang cerah di alun-alun Merdeka Malang./foto oleh : Rizky AD)

Saat ini banyak mereka yang menyiasati kebosanan dengan berolahraga, atau hanya sekedar berkeliling. Teringat sebuah tempat dimana semua aktifitas tersebut dilakukan, yakni di Taman. Di Indonesia sendiri, Taman telah ada sejak jaman kolonial seperti contoh nya taman-taman yang ada di Malang.

Alun-Alun Pada Masa Kolonial

Semenjak pasukan Surapati takluk dari tentara kolonial pada 1706. Setelah menyerang Pasuruan, Belanda secara perlahan memasuki Malang. Berdasarkan beberapa referensi, Belanda mulai mulai mengibarkan bendera merah, putih, biru di Bumi Malang pada 1767. Sebelum Belanda masuk ke Malang, daerah ini lebih bersifat agraris. Pokok pendapatannya berasal dari pertanian. Namun, semenjak penjajah masuk, Malang dijadikan sebagai kawasan perkebunan.

Tanah-tanah yang awalnya untuk pertanian diubah menjadi area perkebunan seperti tebu, teh, kopi, cengkeh, apel, dan kakao.

Bupati Malang pertama adalah Raden Tumenggung Notodiningrat I diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda berdasarkan resolusi Gubernur Jenderal 9 Mei 1820 Nomor 8 Staatblad 1819 Nomor 16.

Pada masa kolonial, Malang awalnya hanyalah merupakan kadipaten kecil di bawah Karesidenan Pasuruan. Namun, melihat perkembangan Malang yang sangat signifikan dalam perkebunan, maka pada 1882 Belanda membangun Alun-alun Merdeka Malang, taman pertama dengan sentuhan kolonial.

Pembangunan Alun-alun Merdeka Malang yang kini bernama Alun-Alun Merdeka tersebut dibuat Belanda untuk mengontrol hasil perkebunan. Termasuk juga mengontrol pemerintahan. Pada saat itu pembangunan Alun-alun Merdeka Malang lebih bercorak Jawa.

Baca juga :  Perpustakaan Rumah Tingkatkan Minat Baca

Corak Jawa pada taman di alun-alun bisa dilihat pohon beringin yang berada pada berapa sudut dibandingkan bebungaan. Itu karena taman khas Jawa lebih mengutamakan kesakralan. Sedangkan taman yang berkateristik Belanda lebih banyak pada tanaman hias. Itu karena Belanda lebih tertarik kepada estetika.

Sumber : malangtimes.com (potret suasana alun – alun malang tempo dulu)

Pembangunan taman alun-alun ini untuk memperkuat status pemerintahan. Selanjutnya, pembangunan alun-alun ini diikuti dengan pembangunan Masjid Jami pada 1890.

Alun-Alun di Era Sekarang

Dalam buku Arsitektur Kota-Jawa “Kosmos, Kultur dan Kuasa (2008) yang di tulis Jo Santoso, menjelaskan, pada masa saat ini alun-alun befungsi sebagai pusat administrasi dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.

Alun-alun tidak hanya menjadi simbol dari pusat kekuasaan atau sebagai pusat inti yang mengawali perkembangannya suatu kota, akan tetapi juga sebagai tempat berlangsungnya semua perayaan ritual atau upacara keagamaan penting serta arena parade militer.

Dalam perikehidupan sosial-budaya saat ini peran alun-alun Kota Malang tidak bisa terlepas dari historis keberadaanya. Pada masa lalu tempat ini merupakan bagian dari wilayah pusat Pemerintahan tradisional. Namun disaat ini Alun-alun adalah sebuah simbol dari kehidupan yang beraneka ragam, nampak terlihat dari banyaknya aktifitas yang dapat dijumpai.

Selain itu, kawasan Alun-alun juga merupakan pusat spiritual, karena keberadaan Masjid Agung dan Gereja di sebelah Barat. Fungsi spiritual ini dalam perkembangannya menjadikan Alun-alun bermakna simbolis. Seperti yang terlihat dalam setahun Alun-alun digunakan dua kali untuk menampung jamaah Masjid Jagung yang menggelar shalat Ied, dan di respon oleh pemerintah dengan memberi shaf pada alun alun untuk memudahkan jama’ah. Setiap minggu juga terlihat lalu lalang jamaat Gereja yang berada di sebelah barat tersebut.

Dalam perkembangan fungsi kawasan sekitarnya, tentu juga mengalami perubahan makna dan fungsi. Perkembangan ekonomi semakin pesat, diiringi dengan perubahan tatanan fisik. Begitu pula lokasinya strategis berada di jantung kota, sehingga masih berpotensi untuk berkembang secara organis (tidak terencana).

Nilai strategi kawasan Alun-alun tidak hanya sebagai fungsi penghubung, tetapi juga sebagai tujuan bagi masyarakat Malang dari berbagai arah sebagai obyek pariwisata. Kondisi itu menjadi pendorong percepatan pertumbuhan. Sehingga meningkatkan beban kawasan.

Baca juga :  Makna Tanian Lanjheng pada Rumah Hunian Masyarakat Madura

Alun-alun di Masa Pandemi

Di masa pandemi dengan selogan kampanye bekerja dirumah selama dua bulan terakhir nampak membuat otak dan badan letih, karena telah terbiasa dengan aktifitas padat. Terbesit berkunjung ke Alun-alun Merdeka Malang, namun teringat diberinya garis kuning di sekeliling yang menandakan di tutupnya tempat ini. Alun-alun kehilangan fungsinya, bukan karena Alun-alun terjangkit, namun diharapkan dengan penutupan Alun-alun Merdeka Malang ini menjadi salah satu cara pencegahan penularan COVID-19.

Sungguh di sayangkan, mengingat pelepasan penat dengan berjalan mengitari Alun-alun yang dibayangkan tidak bisa terealisasikan di masa ini. Ini pun turut mematikan ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang mengandalkan Alun-alun Merdeka Malang sebagai tempat mata pencaharian, walaupun memang mereka tidak berada di dalam  Alun-alun. Karena sejak revitalisasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah Kota Malang membuat para pedagang kaki lima tidak dapat memasuki area Alun-alun, namun ditempatkan pada lokasi khusus di sebelah timurnya.

Sebelum pandemi melanda Alun-alun sebagai pilihan berolahraga karena gratis. Juga karena dengan berolaharaga itu ada hasilnya, pernafasan menjadi sehat. Semenjak direvitalisasi kondisi Alun-alun sekarang ini semakin banyak pepohonan.

Kalau dulu hanya pohon beringin (Ficus benjamina) saja yang terlihat, sekarang ini lebih beragam. Selain itu, dibandingkan dulu, kondisi Alun-alun sekarang ini lebih teratur dan asri. Hal ini yang pengunjung betah berlama-lama.

Akankah di masa yang mendatang Alun-alun Merdeka Malang tetap pada fungsinya? Tentu kembalilah kepada kita sebagai masyarakat yang harus membantu menjaga. Alih-alih bergumam menanti kapan Alun-alun Merdeka Malang dibuka kembali, lebih baik bergegas mengayuh sepeda mengitari Alun-alun Merdeka Malang sebagai obat rindu dari hiruk pikuk aktifitasnya.

Kalau pandemi usai Alun-alun sepertinya patut dikunjungi kembali namun dengan tidak lupa merawatnya pula agar anak cucu dapat merasakan nyamannya berada di Alun-alun Merdeka Malang.

Design by arsminimalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *