ReviewSemua Artikel

Benteng Megah Saksi Bisu Peninggalan Sejarah

Source : Laman Kabupaten Ngawi

Jawa Timur memiliki banyak tempat peninggalan sejarah. Apalagi banyak tempat – tempat sejarah yang dijadikan destinasi wisata. Contohnya tempat yang pernah saya kunjungi beberapa tahun silam, Benteng Van Den Bosch.

Benteng Van Den Bosch atau yang dikenal dengan nama benteng pendem merupakan benteng peninggalan zaman penjajahan Belanda yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 H ha. Diberi nama pendem karena benteng tersebut sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar.

Pada abad ke-19 sebelum benteng dibangun, tempat ini merupakan pusat pertahanan belanda saat perang Diponegoro karena Pangeran Diponegoro tidak terima dan melakukan perlawanan kepada Belanda. Tempat ini juga menjadi pusat perdagangan di Jawa Timur.

© https://dikkisgetaway.wordpress.com/

Pada saat 1839 bangunan ini didirikan dan selesai pada 1845. Dilansir dari kompas.com, dulu benteng ini dihuni oleh 250 tentara. Dilengkapi dengan 250 senjata bedil, 6 meriam api serta 60 pasukan berkuda. Hal ini merupakan upaya untuk mempertahankan posisi dari perlawanan rakyat Madiun, Ngawi, dan pengikut Pangeran Diponegoro.

Saat menapaki kaki di depan benteng, bangunan ini terlihat seperti arsitektur bergaya Eropa dan Romawi. Hingga saat ini pun tidak ada perubahan bentuk dan model bangunan. Pemerintah setempat juga sengaja tidak merubah apapun untuk mempertahankan bentuk arsitektur yang asli.

© https://www.viva.co.id/

Pada zaman Belanda, Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran karena letaknya yang strategis. Berada di pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Oleh karena itu, Ngawi dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro. Fakta lain mengatakan, karena benteng ini memiliki letak geografis yang diapit oleh dua sungai, benteng ini juga dibangun untuk menahan banjir kala musim hujan.

Baca juga :  Pasuruan dengan Beberapa Bentuk Bangunan Peninggalan Sejarah

Menurut ulasan pada liputan6.com, alasan diberi nama Benteng Van Den Bosch karena beliau merupakan sosok yang memprakarsai pembangunan benteng ini. Selain untuk benteng pertahanan dan markas, tujuan ia membangun benteng di Ngawi ini untuk menyusun rencananya sebagai seorang jenderal yang menguasai Ngawi. Johannes Van den Bosch juga merupakan seseorang yang membuat ide sistem tanam paksa di Indonesia.

Di sebelah selatan bangunan benteng, saya melihat dua buah sumur. Sumur tersebut konon digunakan Belanda untuk membuang jenazah korban tahanan dan para pekerja rodi sehingga menjadi kuburan massal pada masa itu. Sumur tersebut memiliki kedalaman 100 sampai 200 meter. Ada juga yang mengatakan bahwa sumur itu juga digunakan sebagai kuburan massal pada masa pemberontakan PKI.

©dakatour.com

Pada tahun 1942-1943 masa Perang Dunia II, Benteng Van Den Bosch sempat diserang dan dibom oleh tentara Jepang yang membuat beberapa bagian bangunan mangalami kerusakan. Bangunan benteng ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia pada masa penjajahan. Kini bagian bangunan Benteng Van Den Bosch yang terkena bom, ditumbuhi semak-semak dan dibiarkan begitu saja seakan menjadi bukti kelamnya masa penjajahan kala itu.

Baca juga :  Kafe Unik Penuh Barang Antik dan Menarik

Selain terdapat sumur dan bekas bom Jepang, dalam benteng ini terdapat makam Kiai Haji Muhammad Nursalim. Beliau merupakan seorang utusan Pangeran Diponegoro yang sangat setia. Selain itu, ia juga mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat Ngawi dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda. Konon Kiai Haji Muhammad Nursalim memiliki kekuatan yang kebal terhadap peluru dan senjata. Sehingga membuat pasukan Belanda merasa terdesak saat utusan Pangeran Diponegoro tersebut melakukan perlawanan bersama pasukannya. Maka Belanda membuat siasat untuk mengubur KH. Muhammad Nursalim hidup-hidup di dekat Benteng Van Den Bosch.

Jika kamu berkunjung ke benteng ini, kamu akan merasakan suasana kemegahan. Bangunannya pun terlihat artistik dan menggambarkan kejayaannya di masa lalu. Terlebih, saat ini di depan taman Van Den Bosch memiliki taman labirin. Taman ini menambah daya tarik tersendiri pagi para pengunjung yang penasaran dengan lokasi tepat tersebut. Cukup membayar Rp. 5000 saja, kamu udah bisa menikmati benteng peninggalan sejarah ini serta menambah wawasan baru.

©https://telusurindonesia.co

Bahkan di sekitar area benteng pun terdapat arena bermain anak-anak, serta gazebo yang letaknya di belakang benteng agar para pengunjung dapat menemukan banyak alternatif spot yang menyenangkan. Benteng Van Den Bosch juga sangat cocok untuk kamu yang ingin berburu foto instagramable sambil belajar sejarah. Jadi tunggu apa lagi? Bisa lah tempat ini jadi tujuan wisata kamu setelah pandemi berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *