Semua ArtikelUlasan Mendalam

Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Part 3)

Source : destinasianews.com

Terbukti pada Sriyono, Bahaya Asbes Itu Ada

Kurang jera jika tidak mengalami dampaknya langsung. Pemikiran tersebut mungkin adalah salah satu dari beberapa alasan untuk tetap menggunakan asbes. Menurut vivanews.com, kelompok lobi bernama Chrysotile Information Centre (CIC) dan berbasis di Bangkok mengklaim bahwa chrysotile – umumnya dikenal sebagai asbes putih- larut di paru – paru setelah 14 hari. Menurut mereka, hal itu tidak berbahaya.

Padahal asbes putih ini merupakan karsinogen yang dapat menyebabkan berbagai kanker termasuk mesothelioma dan penyakit lainnya. Apalagi Indonesia rawan gempa dan bencana, sehingga bangunan rumah yang menggunakan asbes dapat dengan mudah menjadi puing – puing.

Orang – orang yang terkena dampak dari asbes adalah yang bekerja di pabrik. Salah satu korban asbes bernama Sriyono (46), kini menjadi gambaran dari ledakan korban asbes. Dedikasinya selama 25 tahun bekerja di pabrik asbes, bukannya mendatangkan kesejahteraan bagi keluarganya malah ia menderita kanker paru – paru stadium akhir. Akibatnya beliau tidak bisa bekerja lagi karena itu.

(Sumber : vivanews.com)

Penyakit telah menggerogoti berat badannya yang kini hanya 37 kilogram, sangat kurus. “Dadaku terasa sangat sesak. Saya tidak bisa bernafas dengan baik. Ketika saya mencoba melakukan sesuatu, saya gampang lelah,” katanya kepada vivanews.com.

Perusahaannya mungkin tidak menyadari bahwa dampak dari pengolahan asbestos akan menggerogoti kesehatan para pekerja. Sriyono adalah satu – satunya orang Indonesia yang menerima kompensasi dari BPJS yang berhubungan dengan asbes. Walaupun kompensasi yang diterimanya tidak lebih dari pendapatan tidak kena pajak (PTKP) seorang pekerja menengah dengan dua orang anak. Penyakit yang diderita Sriyono dianggap sebagai kecelakaan oleh BPJS.

Dikutip dari kompasiana.com, Sriyono hanya satu dari puluhan pekerja yang dicurigai menderita asbestos related disease. Dia bersama puluhan pekerja lainnya difasilitasi untuk memeriksakan kesehatannya oleh lembaga non pemerintah yang menuntut penghentian perdagangan, penggunaan, dan pengolahan asbestos. Rata – rata mereka adalah pekerja yang telah bekerja lebih dari 10 tahun di pabrik pengelohan asbestos.

Baca juga :  Lahan Sempit dan Budget Terbatas? di Rumah Kontrainerin Aja!

“Penyebab kenapa asbes itu berbahaya karena debu dari asbes yang ketika terhirup akan menimbulkan penyakit, minimal membutuhkan inkubasi selama 10 sampai 15 tahun baru menjadi penyakit, beberapa penyakit yang ditimbulkan dari asbes itu adalah kanker paru – paru, buat perempuan kanker ovarium dan asbestosis, penyakit yang khusus dari ciri khas asbes,” ujar Philip Hazelton, perwakilan dari lembaga APHEDA, dikutip dari Tribun Jabar.

Melansir dari gridhealth.id, asbes telah diklasifikasikan sebagai karsinogen manusia yang dikenal (zat yang menyebabkan kanker) oleh beberapa lembaga atau departemen kesehatan di dunia. Sepeti U.S. Departemen of Health and Human Services (HHS), the U.S. Environmental Protection Agency (EPA), sampai the International Agency for Research on Cancer (IARC).

Menurut IARC, ada bukti yang cukup bahwa asbes menyebabkan mesothelioma (kanker yang relatif jarang terjadi pada selaput tipis yang melapisi dada dan perut), kanker paru – paru, laring, dan ovarium. Meskipun jarang, mesothelioma adalah bentuk kanker paling umum yang terkait dengan paparan asbes. Menurut Sistem Kesehatan Inggris, mesothelioma tersebut bisa terjadi lantaran bagian kecil dari asbes ini terhirup setiap hari sehingga membuat debu menutupi organ paru – paru. Tapi tidak menutup kemungkinan jika debunya juga menutup bagian dalam dari perut.

Ada bukti bahwa paparan asbes terkait dengan peningkatan risiko kanker lambung, faring, dan kolorektum. Menurut Mayo Clinic, penggunaan asbes juga diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit asbestosis yaitu penyakit paru – paru yang disebabkan oleh menghirup serat asbes seperti yang telah dialami oleh Sriyono. Beliau melakukan pekerjaan di mana kontak yang terlalu lama dengan serat – serat ini dapat menyebabkan jaringan parut paru – paru dan sesak nafas.

Baca juga :  Perpustakaan Rumah Tingkatkan Minat Baca
(Sumber : inaban.org)

Gejala asbestosis ada yang ringan dan berat. Biasanya tidak muncul sampai bertahun – tahun setelah paparan yang berkelanjutan. Apalagi seseorang yang mengalami penyakit asbestosis berisiko lebih tinggi terkena kanker paru – paru terutama mereka yang merupakan perokok baik aktif maupun pasif. Tanda – tanda yang muncul adalah sesak nafas, batuk terus menerus, muncul rasa sakit pada bagian dada, dan hilangnya nafsu makan.

Jangan sekali – kali menyepelekan gejala – gejala di atas, apabila kamu mengalami gejala tersebut segera periksakan ke dokter untuk penanganan yang lebih lanjut.

Hal yang dialami oleh Sriyono bukan tidak mungkin akan menimpamu. Hindari pemikiran “itu karena dia bekerja di pabrik asbes,”. Ingatlah bahwa penyebab utama adalah serpihan serbuk yang berterbangan yang terhirup oleh kita, apakah itu hanya bisa dialami oleh para pekerja di pabrik asbes saja?

Ingat pada artikel kami sebelumnya mengenai jumlah korban karena paparan asbes? Di China jumlah korban sudah mencapai angka 20.000 lebih karena mereka konsumen terbesar asbes di dunia. Lalu apakah 20.000 jiwa itu semua pekerja pabrik asbes?

Mencegah lebih baik daripada mengobati, sebisa mungkin hindari atau minimalisir penggunaan asbes pada bangunanmu. Jika terpaksa menggunakan asbes lakukan perawatan dengan baik, semisal mengganti asbes selama empat tahun sekali. Jangan menunggu asbes rusak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *