BiografiSemua Artikel

Daliana Suryawinata, Arsitek Wanita Mendunia

Source : INDESIGNLIVE.UK

Jika kamu pernah menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, maka tidak akan merasa asing dengan Awan yang diperankan oleh Rachel Amanda. Yap, ia memerankan seorang arsitek wanita muda yang pintar, tangguh, dan pantang menyerah. Di bayangan kamu, arsitek wanita seperti apa sih? Selama ini pasti yang kamu tahu adalah arsitek pria seperti Ridwan Kamil yang merupakan Gubernur Jawa Barat, Fredrich S Silaban yang membangun Masjid Istiqlal di Jakarta, dan mungkin masih banyak lagi yang terkenal lainnya.

Rupanya Indonesia sendiri memiliki arsitek wanita yang tak kalah berprestasi dan terkenal hingga mancanegara. Daliana Suryawinata merupakan lulusan S1 di Universitas Tarumanegara, Jakarta dan setelah bekerja satu tahun di Jakarta beliau memutuskan untuk melanjutkan study S2-nya di Berlage Institue, Rotterdam, Belanda.

Setelah lulus dari Belage Institue, Daliana bekerja di perusahaan konsultan arsitek dan rancang kota ternama di Belanda yaitu Office for Metropolitan Authorities (OMA), MVRDV, dan USH. “Saya memilih bekerja di kantor ternama untuk mempelajari hal – hal penting yang tidak bisa ditemukan di kantor biasa,” ujarnya kepada swa.co.id.

(Sumber : 99.co)

Berada di Belanda selama 11 tahun membuat Daliana semakin tersadar jika arsitektur tidak hanya tentang merancang sebuah bangunan saja, tetapi juga harus bisa terintegrasi dengan kehidupan masyarakat setempat. Semua orang berhak menikmati hasil karya seni dari arsitektur.

Baca juga :  Ahmad Djuhara, Arsitek Rumah Baja

Selama di Belanda, beliau bertemu dengan Florian Heinzelmann dan menghasilkan kolaborasi karya – karya arsitektur hebat. Di sela – sela aktivitasnya yang padat seperti mengajar dan melakukan riset, Daliana dan Heinzelmann mendirikan Suryawinata Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU) pada tahun 2009. Dilansir dari swa.co.id, mereka beruntung mendapatkan pengalaman dan kesempatan belajar saat masih menjadi karyawan di tiga perusahaan Belanda tersebut. “Proyek yang kami kerjakan beragam dan multiskala. Itulah pilar yang kami miliki saat mendirikan SHAU. Kami tidak spesialis membangun rumah atau kantor saja. Tapi, lebih ke visi dan misi yang kami bawa,”tuturnya.

Di perusahaannya, Daliana lebih bebas menggali potensi dan ide – ide kreatif membangun kampung – kampung di seluruh penjuru dunia. Misalnya, ada klien yang meminta untuk mendesain rumah dengan pemakaian energi yang tak berlebihan. Kemampuan keduanya yang relatif berbeda, satu dari sisi ekologis dan arsitektur yang organik sedangkan satunya lebih fokus ke sosial urban. “SHAU itu perpaduan antara peduli masalah ekologis dan masalah sosial. Itu yang ingin bawakan dalam setiap kami mendesain,” jelasnya. Saat ini SHAU tidak hanya ada di Belanda, namun sudah melebarkan sayap ke kampung halaman Indonesia, yaitu di Bandung dan Jakarta.

(Sumber : idntimes.com)

Dikutip dari idntimes.com, meski sudah sukses di Belanda, Daliana tidak lupa dengan tanah kelahirannya. Dengan kemampuan dan ilmu yang dimiliki, beliau mempunyai impian untuk membuat Jakarta menjadi kota yang layak huni. Didukung suaminya, Daliana memilih pulang ke Jakarta untuk berkarya.

Baca juga :  Muhammad Egha, Sosok Arsitek Muda Berharga Milik Indonesia

Salah satu konsep urban yang kelak menjadi hasil karya mereka adalah Kampung Vertikal di Muara Angke, diinisiasi Joko Widodo semasa menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selanjutnya, ada perpustakaan Mikro (Micro Library) yang akan mulai dibangun di Bandung.

“Kami sudah membuat konsep urban untuk Jakarta. Saya melihat Ibukota Negara ini punya banyak potensi. Seperti kampung – kampung yang sudah lama terbina dengan baik oleh masyarakat, cara hidup penduduknya juga menarik. Sektor informal seperti PKL yang sekarang diusir – usir dari jalanan, sebenarnya aset untuk perkembangan kota. Jika ditata dengan rapi, sesungguhnya bisa menjadi daya tarik tersendiri,” jelasnya kepada reporter swa.co.id.

Daliana dan Florian Heinzelmann, suaminya, ditunjuk oleh Pemerintah Kota Batam untuk membuat desain yang cocok bagi Kota Batam. “Lokasi yang di Simpang Frengki (depan Cammo), disiapkan untuk pusat kuliner. Kami minta desain dari konsultannya,” ujar Wali Kota Batam, Muhammad Rudi kepada batamnews.co.id.

(Sumber : IDNtimes.com)

“Kalau simpang Frengki daerah kuliner, maka satunya (depan Edukits) untuk perdagangan, Nantinya suatu waktu kita berharap ini jadi pusat perbelanjaan yang eksklusif. Untuk itu perlu kita perindah. Maka kami minta desainnya dulu,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *