ReviewSemua Artikel

Hotel Niagara, Sajikan Pengalaman Menginap Ala Victoria

Sebagian besar warga Malang atau setidaknya yang pernah berkunjung ke kota apel, pasti pernah mendengar nama Hotel Niagara. Hotel yang sarat sejarah ini memang sering jadi buah bibir karena aroma ‘misterinya’. Hotel ini merupakan hotel yang sangat tua dan unik serta mempunyai sejarah yang menarik.

Hotel Niagara ini juga mempunyai bentuk arsitektur yang menarik, baik dari sisi depan bangunan maupun di dalam hotel itu sendiri. Potensi yang dimiliki oleh Hotel Niagara sebagai objek wisata budaya sangatlah besar. Dilihat dari sudut lokasi, hotel ini dapat dicapai dalam waktu kurang lebih 1 jam dari Surabaya ataupun Malang. Selain itu bentuk arsitektur bangunan yang unik dan menyimpan sejarah juga merupakan potensi dari Hotel Niagara. Dalam hal ini diperlukan pengembangan Hotel Niagara agar layak dijadikan salah satu objek wisata andalan di Jawa Timur.

Hotel yang dibangun pada tahun 1890 dan dirancang arsitektur kenamaan asal Brazil, Mr. Pinedo, ini beralamatkan di Jl. Dr. Soetomo No.63, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya persis berada di sebelah utara deretan ruko Pasar Lawang.

Selain cerita misteri, ketika pertama kali melihat hotel ini, pengunjung akan tertarik dengan desain-nya yang unik. Desain arsitektur Hotel Niagara merupakan perpaduan arsitektur gaya Brazil, Belanda, China, dan Victoria. Gedung yang tingginya mencapai 35 m ini dibangun selama kurang lebih 15 tahun, dan diselesaikan pada akhir abad ke-19.

Baca juga :  Pasuruan dengan Beberapa Bentuk Bangunan Peninggalan Sejarah

Semula, gedung ini dimiliki oleh keluarga Liem Sian Joe, yang difungsikan sebagai villa keluarga. Karenanya, ukuran kamar-kamar yang ada tergolong luas. yaitu mencapai 5 m x 6 m.  Setelah ditinggal oleh pemiliknya, villa tersebut lambat laun mulai jarang digunakan dan agak ditelantarkan selama bertahun-tahun.

Akhirnya, pada tahun 1960, salah seorang ahli waris keluarga Liem Sian Joe menjualnya kepada seorang pengusaha yang berasal dari Surabaya bernama Ong Kie Tjai. Setelah dilakukan sejumlah pembenahan, mulai tahun 1964, gedung tersebut difungsikan sebagai hotel dan diberi nama Niagara Hotel.

(source : Instagram.com/hotelniagaramalang)

Hotel Niagara Lawang interiornya didominasi oleh ornamen kayu dan marmer. Kayu yang dipakai tentunya kayu jati berkualitas tinggi karena setelah ratusan tahun masih tetap awet dan bagus. Lantainya sendiri menggunakan marmer berhias sehingga memperkental nuansa art deco.

(source : Instagram.com/hotelniagaramalang)

Setiap lantai memiliki motif hiasan yang berbeda, sangat unik dan menarik. Nuansa art deco juga jelas terlihat pada tangga hotel. Kombinasi warna dan teraso di pijakan anak tangga, membuat tampilan hotel ini semakin dinamis namun tetap klasik. Tak hanya itu, dinding keramik yang dipergunakan oleh hotel ini kabarnya langsung diimpor dari Belgia saat proses pembangunan gedung ini berlangsung. Tak heran pembangunan Hotel Niagara setinggi 35 meter ini memakan waktu hingga 15 tahun! Material yang dipakai semuanya kualitas nomor satu.

Baca juga :  Alun-alun Merdeka Malang, Titik Kumpul Yang Kini Tengah Malang

Hotel art deco klasik ini total memiliki 26 kamar dengan ukuran 5×6 meter. Namun, hanya 14 kamar yang bisa dipakai. Ada lima tipe kamar di hotel ini, antara lain Classic Room dan Standard Room yang harganya di bawah Rp 200 ribu. Ada juga Superior Room, Family Room, dan Deluxe Room.

Kamar mandi hotel ada yang di luar dan ada juga yang letaknya di dalam kamar. Sebenarnya sih karena memang tidak didesain untuk hotel, seluruh kamar mandi terletak di luar. Setelah renovasi, baru ditambahkan kamar mandi dalam. Jadi, kamar mandi di dalam kamar adalah bangunan baru di dalam hotel ini.

Hotel Niagara juga sudah dilengkapi dengan fasilitas wifi di dalam kamar, televisi satelit, layanan resepsionis 24 jam, area parkir yang luas, serta perlengkapan kamar mandi.

Menarik bukan, informasi mengenai akomodasi Malang satu ini? Yuk, menginap di Hotel Niagara Lawang! Hotel klasik bernuansa artdeco dengan harga terjangkau di kaki Gunung Arjuna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *