ArsitekturSemua Artikel

Keberadaan Tower Seluler di Dekat Rumah Hunian, Buruk untuk Kesehatan

Source : market.bisnis.com

Kita hidup pada zaman yang segala sesuatu telah menggunakan gadget. Hampir setiap orang hidupnya mulai bergantung pada gagdet, owner online shop misalnya. Dalam penggunaan gadget tentu kita membutuhkan sinyal yang kuat. Tak jarang para pengguna gadget marah-marah saat sinyal melemah. Hal ini yang menyebabkan banyaknya tower pemancar sinyal seluler di tengah-tengah perkampungan. Upaya tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para pengguna gadget.

Ternyata banyak fakta yang muncul bahwa tinggal di sebuah perkampungan yang sangat dekat dengan Base Tranceiver Station (BTS) atau lebih dikenal dengan tower seluler sangat berbahaya untuk kesehatan. Tahun 2009, Athena Anwar dan Sri Idaiani melakukan penelitian tentang dampak buruk bagi kesehatan jika rumah hunian dalam kampung dekat dengan tower. Dalam hasil penelitiannya, mereka menyebutkan bahwa hasil wawancara menunjukkan 64,8% responden di Bandung dan 57,8% responden di Jakarta mempunyai keluhan kesehatan yang bersifat umum. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah sakit kepala, batuk, bahkan demam. Sekitar 5% responden dari penelitian mereka ini juga menderita penyakit degeneratif seperti darah tinggi, stroke, dan diabetes mellitus.

Tak hanya gangguan kesehatan secara fisik. Dalam jurnal yang berjudul Gambaran Gangguan Cemas Masyarakat Di Sekitar Menara Base Tranceiver Station/Bts Di Bandung Dan Jakarta menyebutkan bahwa para warga yang tinggal di dekat tower juga memiliki gangguan mental, seperti kecemasan. Hasil observasi dalam jurnal ini menunjukkan adanya responden yang mengalaminya, 9% di Bandung dan 4,5% responden di Jakarta. Terdapat perbedaan yang signifikan antara responden yang berjarak dekat dari tower dengan yang berjarak jauh. Hal ini sesuai dengan pemaparan penulis yang mengaitkan dengan hasil penelitian Fox.E dan kawan-kawan yang menunjukkan adanya pengaruh keberadaan BTS dengan tingkat sensitivitas pada masyarakat yang bertempat tinggal berdekatan BTS. Kekhawatiran masyarakat terbukti dengan adanya beberapa BTS runtuh menimpa rumah di sekitarnya.

Baca juga :  Makna Fisik dan Filosofi Rumah Honai
Design by arsminimali

Dalam website alodokter.com terdapat seseorang bertanya mengenai dampak negatif yang timbul akibat lokasi rumah berdekatan dengan BTS. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Dr. Caecelia Haryu Aryapti, ia mengatakan bahwa pembangunan tower seluler ini sudah diatur secara spesifik dalam peraturan pemerintah berdasarkan tatalaksana yang dikeluarkan oleh WHO bahwa area tower seluler dengan rumah hunian harus memiliki jarak cukup jauh. Hal ini dikarenakan tower BTS ini memancarkan sinyal elektromagnetik. Bila pembangunan sudah mengikuti peraturan dari pemerintah, harusnya tidak akan ada dampak negatif yang muncul terhadap kesehatan bahkan pada kehamilan.

Jawaban dari dokter tersebut benar bahwa pihak pemerintah telah berusaha mengatur dan menata jarak minimum menara komunikasi BTS dengan permukiman melalui peraturan menteri (Permen Komunikasi dan Informatika nomor 02/PER/M.Kominfo/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama telekomunikasi). Serta peraturan daerah (Perda Kota Bandung nomor 1 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan dan Retribusi Menara Telekomunikasi di Koata Bandung). Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, masyarakat seharusnya tidak merasa cemas bermukim di sekitar BTS.

Namun, faktanya masih terdapat masyarakat yang mengalami gangguan cemas. Hal ini disebabkan karena ketidaksesuaian dalam penerapan peraturan dalam membangun menara oleh provider, kurangnya monitoring dalam penyelenggaraan komunikasi melalui BTS, Serta kurangnya sosialisasi kepada masyarakat.

Baca juga :  Kusen Kayu atau Alumunium? Ini Perbandingannya

Tak hanya buruk bagi kesehatan fisik dan mental, pembangunan tower seluler yang tidak mengikuti aturan juga memiliki dampak lain seperti keindahan dan keserasian tata ruang wilayah terganggu. Dengan semakin banyaknya jumlah tower, maka kota-kota Indonesia akan terlihat kurang rapi dan tidak enak dipandang.

©act.co.id

Dalam pembangunan tower seluler ini juga memiliki beberapa syarat yang seharusnya dipatuhi agar tidak terjadi keresahan dan gangguan kesehatan pada warga sekitar tower. Seperti, kontraktor pembangun menara BTS wajib mengurus IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Perizinan untuk mendirikan menara BTS biasanya dilakukan dengan memperhitungkan berbagai risiko misalnya, tumbangnya tower menyebabkan kerusakan dan hasil penelitian menunjukkan radiasi ditimbulkan dari menara BTS yang akan dibangun.

Syarat kedua, ukuran tinggi menara harus 45 meter . Dengan jarak aman minimal 20 meter Dari permukiman. Serta berjarak sepuluh meter dari area komersial. 5 meter dari daerah industri. Jika menara tower setinggi lebih dari 45 meter maka jaraknya dari permukiman harus sejauh minimal 30 meter, dari area komersial sejauh 15 meter dan dari daerah industri sejauh 10 meter.

Syarat yang terakhir adalah menara BTS memenuhi level batas radiasi yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 4,5 watt/meter persegi untuk perangkat/menara yang menggunakan frekuensi 900 Mhz dan 9 watt/meter persegi untuk menara/perangkat yang menggunakan frekuensi 1.800 Mhz. Detail ukuran ini akan disertakan dan disurvei sebelum menara BTS dibangun.

Demi kesehatan, keselamatan dan kenyamanan bersama, alangkah baiknya jika para provider mengikuti aturan pemerintah dan anjuran dari WHO mengenai lokasi pembangunan tower seluler ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *