Semua ArtikelUlasan Mendalam

Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Part 1)

Asbes, Si Tahan Panas Ternyata Ganas

Tidak menjadi tempat hunian yang lengkap apabila tak ada atap rumah. Bagaimana bisa berlindung dari hujan dan cuaca panas jika tidak ada atap? Atap pada rumah-rumah tradisional di Indonesia dulu kala terbuat dari jerami, ijuk, rumbia, dan sebagainya. Namun dengan berkembangnya zaman sekarang ini, mulailah ada banyak macam bahan untuk membuat atap yang lebih kokoh.

Salah satu atap yang terkenal dengan harganya yang murah ialah atap asbes atau asbestos. Di Indonesia, asbes banyak digunakan. Bahkan Indonesia menjadi salah satu dari lima pemakai asbes terbesar di dunia. Bentuk atap ini ialah lembaran tipis yang bergelombang, jenis gelombangnya ada yang kecil dan besar.

© Lamudi.co.id

Atap ini dipakai banyak warga Indonesia karena memang harganya yang murah dan mudah didapatkan. Dilansir pada lamudi.co.id, asbes bisa ditemukan di toko bahan bangunan mana saja. Asbes juga ringan karena hanya berbentuk lembaran dari serat, maka tidak dibutuhkan banyak penyangga untuk tipe atap ini. Hal tersebut membuat kita lebih hemat biaya karena tidak perlu menyiapkan banyak penyangga. Jenis atap ini juga mudah untuk dipasang dan dibersihkan.

Asbestos juga terkenal tahan api dan panas. Dengan kelebihan itu, bahan ini dibuat menjadi bahan campuran atap, semen, kampas rem, hingga tekstil. Asbes juga menjadi salah satu bahan untuk pelapis kabel listrik dan pipa heater.

Ada kelebihan tentu ada kekurangan. Dekoruma.com memaparkan bahwa atap asbes itu menyerap panas. Jika memakai atap jenis ini akan membuat ruangan terasa dua kali lipat lebih panas daripada suhu aslinya. Penggunaan asbes juga sebaiknya dihindari di wilayah atau daerah yang panas.

Baca juga :  Mengintip Rumah Multikultural di Kota Medan

Atap yang satu ini juga mudah sekali sobek karena bentuknya yang tipis. Faktor itu membuat asbes rapuh apalagi dengan lembarannya yang panjang pula. Maka saat memasang asbes harus ekstra hati-hati. Jika ada bagian yang rusak, maka harus segera diganti. Serpihan patahannya yang retak itu juga berbahaya apabila terhirup karena dapat membahayakan kondisi kesehatan.

Selain dapat berbahaya karena ada bagian yang rusak, penggunaan jangka panjang juga menimbulkan efek buruk. Atap ini harus selalu rutin diganti setelah pemakaian 4-5 tahun meskipun tidak rusak sama sekali. Penggantian ini dilakukan guna mencegah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh zat yang terkandung oleh asbes.

Pada tahun 1970-an, penggunaan asbes mulai dikurangi karena banyak penambangnya yang meninggal. Usut punya usut setelah ditelusuri, hal itu dikarenakan zat asbes yang terhirup para penambang. Partikelnya yang kecil dan tidak terlihat di udara bisa menyebabkan kanker paru-paru. Pada sebagian laman di internet juga menyampaikan bahwa bahan dasar asbes itu karbon makanya cukup berbahaya.

Serat Asbes Putih © Wikimedia Commons

Akan ada jaringan parut bila menghirup serat asbes. Seberapa lama dan banyak serat yang dihirup akan membedakan beratnya penyakit yang diterima oleh tubuh. Jika Anda tinggal di rumah beratap asbes dan sekarang merasa baik-baik saja, jangan disepelekan. Penyakit baru akan terlihat dalam jangka waktu 10-50 tahun lamanya.

Dr. Anna Suraya, Ketua Bidang Pengembangan Ilmiah Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia, menjelaskan pada Kumparan bahwa bahaya asbes ada pada seratnya yang tipis dan tajam. Tergoresnya pleura (selaput yang melapisi paru-paru) dapat menyebabkan selaput itu menebal dan terjadilah penyakit yang kronis.

Baca juga :  Rumah Mewah Kaya Histori di Kampung Kemasan

Seratnya yang tipis bahkan tidak terlihat itu tadi bukan hanya akan terhirup melalui sistem pernapasan tetapi juga bisa masuk ke dalam tubuh lewat bagian lain. Jika serat berterbangan di udara lalu menempel di badan, akan menimbulkan efek gatal. Saat Anda menggosok atau menggaruknya, serat tadi akan masuk ke tubuh melalui pori-pori di kulit dan bisa jadi penyebab timbulnya kanker kulit.

© shutterstock.com

Berdasar pada data di Jurnal Batan, bahan dasar asbes ialah bahan tambang yang mengandung radioaktif alamiah. Bahan itu mengandung 238U, 232Th, 226Ra, dan 40K dengan kadar yang berbeda di setiap negara. Dengan adanya radionuklida alamiah pada bahan pembuatannya, asbes dapat berperan sebagai radiasi lingkungan di mana bahan itu berada.

Tiga jenis utama asbes adalah krisotil (asbes putih), krosidolit (asbes biru), dan amosit (asbes cokelat). Pemaparan di Jurnal Unsyiah menyebutkan bahwa semua jenis asbes dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Terhirup serat asbes merupakan kasus penyakit yang serius. Di antaranya dapat menimbulkan penyakit mesotelioma, kanker paru, dan asbestosis.

Banyak yang beranggapan bahwa penyakit yang disebabkan oleh asbes hanya terjadi pada para pembuat asbes dan tukang yang membangun atap rumah dengan bahan tersebut. Nyatanya penghuni rumah juga bisa terkena dampak buruk penggunaan asbestos ini. Jika ada bagian kecil asbes yang hancur, seratnya akan berterbangan ke seluruh tempat dan tak memungkiri untuk dihirup oleh pemilik rumah. Bahkan orang yang berada pada lingkungan sekitar juga dapat terkena imbasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *