ReviewSemua Artikel

Mengingat Kenangan Batavia di Kota Tua

Source : alinea.id

Kota Tua Jakarta merupakan bangunan sejarah yang berada di tengah-tengah keramaian Kota Jakarta. Kota Tua menjadi ikon tersendiri di tengah-tengah perkembangan peradaban di Jakarta. Kota Tua merupakan sebuah kawasan penting pada zaman Kolonial Belanda. Bangunan yang berada di Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat ini, menjadi sebuah situs sejarah yang bisa dikunjungi untuk sekedar berlibur sambil belajar.

Sejarah Kota Tua cukup menarik dan panjang. Singkat cerita dilansir pada dolanyok.com pada tahun 1526, Fatahillah menyerang salah satu pelabuhan yaitu pelabuhan Sunda Kelapa. Pada tahun 1526 kawasan tersebut berubah nama menjadi Jayakarta. Baru beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1619 Jayakarta diserang oleh VOC. Setelah Jayakarta runtuh di tangan Jan Pieters Zoon kemudian Belanda membangun kota baru yang diberi nama Batavia. Pusat Batavia ini terletak di dekat sungai Ciliwing dan diperluas hingga tepi barat sungai Ciliwung.

Setelah wilayah Batavia diperluas, Batavia dijadikan sebagai kantor pusat VOC dari Hindia Timur. Beberapa tahun kemudian setelah kekuasaan Belanda diganti Jepang, Batavia berubah nama menjadi  Kota Jakarta. Serta diresmikan sebagai Ibu Kota hingga saat ini. Pada tahun 1972, Ali Sadikin Gubernur Jakarta mengeluarkan surat keputusan yang menjadikan Kota Tua Jakarta sebagai situs sejarah. Hal ini dilakukan karena untuk melindungi dan melestarikan keaslian arsitektur pada kawasan Kota Tua.

Kota Tua memiliki spot-spot menarik tersendiri yang menjadi destinasi favorit para pengunjung. Berikut lima titik tempat yang paling menarik dan sayang jika dilewati saat berkunjung ke Kota Tua :

  1. Museum Fatahillah
    Foto : Museum Fatahillah © Detik Travel / Agung Pambudi

    Bangunan ini yang sangat dikenal masyarat dan pasti menjadi jujukan pertama para wisatawan. Dulu, museum ini berfungsi sebagai balai kota, pengadilan, kantor catatan sipil, tempat ibadah Minggu, dan tempat Dewan Kotapraja. Gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta pada 1968. Kemudian gedung tersebut diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Museum Fatahillah menyimpan beberapa koleksi barang sejarah berupa benda asli maupun replika. Di sini ada replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan yang lainnya. Selain itu, di dalam Museum Fatahillah juga terdapat penjara bawah tanah. Disebut-sebut di sana menjadi saksi bisu penderitaan para tawanan.

  2. Pelabuhan Sunda Kelapa
    Foto : Pelabuhan Sunda Kelapa © Antara / Hafidz Mubarak A

    Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu sejarah Kota Jakarta. Di sini Jakarta dikenal luas oleh dunia. Orang asing datang ke Indonesia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Pedagang dari Tiongkok berlayar dengan membawa barang kerajinan berupa keramik dan kain sutera untuk ditukar dengan rempah-rempah. Sedangkan pedagang dari India dan Arab datang membawa kain dan minyak wangi untuk ditukar dengan rempah-rempah. Saat ini aktivitas di Pelabuhan Sunda Kelapa masih digunakan dan beroperasi sebagai dermaga transportasi laut. Lokasi ini juga dijadikan sebagai spot foto yang menarik bagi para pengunjung.

  3. Museum Bank Indonesia
    Foto : Museum Bank Indonesia © d’Traveler / Widiarini

    Tempat ini awalnya merupakan rumah sakit bernama Binnen Hospital. Tahun 1828 dialih fungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB). Pada tahun 1953, bank tersebut menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia (BI). Kemudian BI pindah ke gedung baru pada tahun 1962. Gedung lama kemudian menjadi Museum Bank Indonesia. Di sana kita akan mendapat pengetahuan tentang sejarah terbentuknya bank sentral di Indonesia. Ketika memasuki lobi museum, kita akan melihat sebuah kaca patri yang sangat indah. Ada juga sebuah lukisan unik dan antik lainnya.

  4. Toko Merah
    Foto : Toko Merah © Detik.com / Ari Saputra

    Toko Merah terletak di sekitar Jalan Kali Besar. Sesuai namanya, bangunan ini berwarna merah. Dulunya bangunan ini merupakan sebuah toko yang dimiliki oleh warga China. Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron Van Imhoff dengan konsep sebuah rumah yang besar, megah, dan nyaman. Tempat ini difungsikan sebagai gedung serbaguna untuk konferensi dan pameran.

  5. Jembatan Kota Intan
    Foto : Jembatan Kota Intan © Detik.com / Rifkianto Nugroho

    Jembatan Kota Intan merupakan jembatan tertua di Indonesia. Jembatan ini dibangun pada 1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Kota Intan sesuai dengan nama lokasi. Pada masa awal pembangunannya jembatan ini terletak persis di ujung kubu atau bastion Diamond dari Kastil Batavia. Jembatan Kota Intan ini merupakan jembatan gantung. Dari atas jembatan ini kita dapat melihat kantor pabean, ke arah utara.

Baca juga :  Berkunjung ke Monas untuk Melihat Obor Emas

Nah, setelah mengetahui titik paling menarik dari Kota Tua, rasanya sayang sekali jika kita tidak menyempatkan diri berkunjung ke sana. Bukan sekedar liburan biasa. Kita akan banyak mendapat pengetahuan baru seusai berkunjung Kota Tua.

Untuk tiket masuk ke Kota Tua tidak dipungut biaya. Namun ketika kalian mengunjungi beberapa spot di atas akan dipungut biaya kurang lebih Rp3.000 saja. Untuk jam operasional tentu memiliki perbedaan waktu tiap spotnya. Museum Fatahillah buka tiap Selasa-Minggu. Museum Bank Indonesia Selasa-Jumat saja. Museum Seni Rupa tiap hari Selasa-Minggu. Berbeda dengan Pelabuhan Sunda Kelapa yang buka setiap hari.

Jadi bagaimana? Kota Tua ini haruslah masuk list tempat liburanmu setelah pandemi ini berakhir. Selain murah, kamu akan belajar sejarah dan mengetahui macam-macam bentuk bangunan khas Belanda

Baca juga :  Harga Murah, Asbes Jadi Sebab Nafas Susah (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *