Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Peninggalan Belanda untuk Malang

Source : malang.merdeka.com

Pada masa kolonial, Kota Malang merupakan kabupaten kecil yang masih berada di bawah keresidenan Pasuruan dan ditetapkan sebagai gemeente (kotamadya) pada tanggal 1 April 1914. Kota Malang yang ramai oleh kegiatan perekonomian sehingga Belanda mendatangkan seorang ahli perencana kota terbaik di Hindia Belanda (Indonesia) yautu Herman Thomas Karsten. Ir. Herman Thomas Karsten dikatakan berpengaruh dalam arsitektur dan tata Kota Malang di zaman kolonial karena beliau dapat menghadirkan sisi romantis kota dalam setiap rancangannya.

Seiring perkembangan infrastruktur yang pesat, tuntutan akan hunian sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk Kota Malang maka dilakukan perencanaan hunian di kawasan Ijen dan sekitarnya termasuk Jalan Semarang.

Idjen Bpulevard sumber : Jatimtimes.com

Dilansir dari Ngalam.co, Kota Malang sendiri mulai dikembangkan pemerintah Hindia Belanda setelah Surabaya, sehingga terdapat perbedaan tipologi arsitektur antara kedua kota tersebut. Pada abad 19 yaitu Karsten menggabungkan arsitektur Eropa dengan Arsitektur berbau indisch, didasari oleh ideologi sosialis – democrat yang sangat anticolonial. Bebebrapa rancangannya banyak mengadaptasi keadaan alam sekitar yang disebut “Indische Empire”. Perlu diketahui adanya bangunan berbau kolonial merupakan bentuk hegemoni terhadap daerah jajahannya.

Orang Eropa pada mulanya ingin menciptakan pemukiman seperti daerah asal mereka. Maka dari itu banyak wilayah – wilayah strategis sebagai alur pengembangan kota pada masa kolonial dibangun rumah – rumah dengan arsitektur Eropa termasuk di Jalan Semarang. Sama halnya hunian di Jalan Ijen, Karsten pula yang merancang arsitektut rumah – rumah di Jalan Semarang.

Baca juga :  Makna Menarik Rumah Gadang Milik Kota Padang
Rumah di Jalan Ijen. Foto: Muhammad Aminudin sumber : detik.com

Dikutip dari laman academia.edu, Karsten menerapkan pembagian status sosial dalam rancangannya. Semakin besar rumah serta semakin tinggi suatu atap, maka semakin tinggi status sosialnya. Dari pengamatan, rumah – rumah peninggalan kolonial selalu menjorok ke dalam beberapa meter dari jalan. Di sekeliling rumah selalu terdapat pepohonan yang fungsinya untuk menghindari polusi. Halaman yang luas biasa difungsikan sebagai tempat penyerapan air untuk mencegah terjadinya banjir.

sumber : Ahlinan, 2013. Rumah peninggalan Belanda yang masih ada sampai saat ini

Pohon asam dan trembesi mendominasi karena pohon jenis tersebut memang sejak dahulu banyak dipakai Belanda, seperti yang ditanam di sepanjang Jalan Anyer – Panarukan dengan atas perintah Jenderal Herman William Deandles. Di Jalan Semarang sendiri banyak dijumpai pohon asem dan trembesi dengan usia yang diperkirakan sudah puluhan tahun.

Bangunan kolonial biasanya juga memiliki ciri khas banyak lubang – lubang serta atap yang tinggi sebagai sirkulasi udara di iklim tropis. Pada mulanya rumah tersebut dijadikan hunian para penguasa dari kaum Eropa, namun sejak kedatangan Jepang pada tahun 1942, rumah – rumah tersebut jatuh ke tangan Jepang yang menjajah Kota Malang dari arah Surabaya. Mereka memaksa warga Eropa yang tinggal di Malang segera meninggalkan Kota Malang, jika tidak warga Eropa akan menjadi sasaran pembunuhan penjajah Jepang yang akan dibantai habis – habisan.

Rumah – rumah peninggalan di Jalan Semarang tidak terlalu banyak, masih terlihat bagus walaupun sudah mengalami beberapa perubahan. Karsten merupakan perancang rumah – rumah di Jalan Semarang dan Jalan Ijen. Jalan Semarang adalah jalan yang menggabungkan antara Jalan Jakarta dan Jalan Surabaya.

Baca juga :  Istana Malige, Rumah Sultan Buton Sulawesi Tenggara

Dikutip dari merderka.com, karya lain dari Karsten selain di Jalan Ijen dan Semarang adalah Idjen Boulevard. Karstan membangun jalan tersebut dengan konsep Boulevard, yakni jalan kembar dengan pembatas berupa taman di bagian tengah. Kehadiran pohon palem di sebelah kiri dan kanan jalan semakin mempercantik tatanan jalan tersbut. Taman yang berada di tengah jalan dibangun untuk membatasi rumah dengan jalur pejalan kaki. Selain itu, antara jalur pejalan kaki dengan jalan kendaraan diberi taman yang dilewati deretan pohon palem. Penataan jalan dan akses di sekitar Jalan Semeru, Jalan Kawi, Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan Trip) juga sangat diperhatikan baik dalam keindahan dan kemudahannya.

© tropenmuseum.nl/Tropen museum Idjen Boulevard

Saat ini infrastruktur peninggalan – peninggalan Belanda tersebut masih bisa dinikmati seperti rumah sakit, stasiun, rel kereta api, maupun sekolah – sekolah yang ada di Kota Malang. Untuk rumah rumahnya bisa dilihat di sepanjang Jalan Semarang dan Jalan Ijen. Rumah – rumah tersebut dahulunya digunakan oleh pejabat tinggi kolonial Belanda. Namun saat ini digunakan oleh warga Malang entah untuk pribadi atau dialokasikan ke yang lainnya.

Kepada detik.com, Anggota TABC Kota Malang Dwi Cahyono menyampaikan, Ijen memiliki nilai sejarah tinggi yang wajib dijaga dan dilestarikan. Gaya arsitek rumah memang didesain cantik dan menarik di zamannya. Menurutnya, Ijen merupakan kawasan elite yang dihuni oleh pejabat-pejabat tinggi Belanda masa itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *