ArsitekturSemua Artikel

Wujudkan Smart City dari Enam Indikator

Source : SHUTTERSTOCK

Indonesia akan mewujudkan 100 Smart City yang merupakan gerakan program bersama yang diusung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PPUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Arti Smart City sendiri menurut Kementerian Dalam Negeri adalah sebagai cakupan pembangunan yang luas dan dipadukan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan tujuan antara lain, menciptakan perencanaan dan pengembangan kota layak huni, maju, meningkat produktivitas dan daya saing ekonomi, dan membangun pondasu Indonesua Smart Nation.

Konsep sederhana dari Smart City adalah menjadikannya sebagai kota pintar yang mengedepankan sebuah tatanan kota cerdas yang bisa berperan dalam memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat.

Smart City Jakarta. Sumber : Sahabatnesia

“Kita berharap kalau kita mengembangkan Smart City di Indonesia maka kota akan jadi sumber pertumbuhan,” kata Menteri Perencanaan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas, Bambang Brojonegoro kepada liputan6.com. “Jangan smart hanya di satu sisi, kalau kota smart kita harus action menutut infrastruktur pada level yang bisa membuat masyarakat siap untuk ikuti Smart City,” lanjutnya.

Menurut Abdurrozzaq dan Oris dalam penelitiannya, Smart City diharapkan sebagai kota mampu menggunakakn Sumber Daya Manusia, modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas hidup yang tinggi. Dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat.

Baca juga :  Makna Tanian Lanjheng pada Rumah Hunian Masyarakat Madura
Infografis : arsminimalis

Dalam penelitiannya juga ada beberapa indikator yang dapat mewujudkan adanya Smart City, yaitu:

  1. Smart Mobility, yaitu kemampuan untuk mengembangkan transportasi dan pengembangan infrastruktur sebagai bentuk penguatan sistem perencanaan infrastruktur kota. Pada smart mobility ini diharapkan tercipta layanan publik untuk transportasi dan mobilitas yang lebih baik serta menghapus permasalahan umum di dalam transportasi.
  2. Smart People, yaitu untuk mewujudkan Smart City juga dibutuhkan. Masyarakat memiliki peranan pada aspek kreativitas dan modal sosial. Diharapkan sebuah kota memiliki modal yang formal maupun non formal dalam pendidikan yang baik dan terwujud dalam individu atau komunitas – komunitas yang kreatif.
  3. Smart Living, yaitu memiliki aspek pada kualitas hidup. Diharapkan sebuah kota memiliki kualitas hidup yang baik, diantaranya tersedianya kebutuhan – kebutuhan. Kualitas hidup bersifat dinamis artinya selalu berubah – ubah karena selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian yang baik adalah merupakan hasil dari pendidikan.
  4. Smart Economy, kualitas yang menghasilkan suatu inovasi dan mampu menghadapi persaingan. Semakin tinggi inovasi – inovasi baru yang ditingkatkan maka akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal.
  5. Smart Environment, memiliki aspek pada lingkungan. Keberlanjutan dan sumber daya, lingkungan cerdas itu berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak, bagi masyarakat dan publik lingkungan yang bersih tertata. Ruang Terbuka Hijau (RTH) meupakan contoh dari penerapan smart living.
  6. Smart governance, kunci utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan adalah Good Governance, yang merupakan paradigma, sistem, dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang memiliki kebijakan dan memperhatikan prinsip – prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisiapsi, transportasi, profesionalitas, akuntabilitas serta efektifitas dan efesiensi kebijakan. Sehingga dalam mewujudkan smart governane dibutuhkan pemberdayaan dan partisipasi aktif dari segala pihak.
Baca juga :  Desain Bohemian Pembangkit Roh Halus dan Milik Para Seniman
Smart City dengan teknologi IoT sumber : unida.ac.id

Keenam indikator tersebut dapat dijadikan tolak ukur sebuah kota pintar. Semua indikator dapat berjalan dengan baik ketika semuanya berjalan beriringan. Namun bisa saja semua indikator tersebut tidak bisa berjalan secara optimal. Hanya ada beberapa indikator yang dapat dioptimalkan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan kota tersebut. Tidak semua kota mmebutuhkan smart mobility atau yang lainnya bergantung permasalahan seperti apa dalam kota tersebut. Maka indikator tersebut yang lebih ditonjolkan dan diwujudkan dalam membangun smart city.

Jika pemerintah dan kita sebagai masyarakatnya dapat mewujudkan gerakan ini, maka Indonesia kedepannya akan lebih terorganisir dan transparan. Semua data dapat diakses dan dilihat secara mudah dengan prosedur yang mudah pula. Sangat dibutuhkan kerjasama dari semua pihak untuk menyukseskan program ini. Indonesia akan lebih melek digital sesuai perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *